Share

Pakai Barang Bekas, Robot UGM Raih Medali Emas

Margaret Puspitarini, Okezone · Jum'at 06 Januari 2012 10:02 WIB
https: img.okezone.com content 2012 01 05 373 552439 rvqILDfM16.jpg Foto : Robot terbang UGM/UGM

JAKARTA - Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kembali menyumbang prestasi. Kali ini, tim robot UGM berjaya dalam kompetisi The 13th International Robot Olympiad 2011.

Pada kompetisi robot internasional yang berlangsung belum lama ini di Universitas Tarumanegara, Jakarta tersebut tim Boyo UGM berhasil membawa pulan medali emas pada kategori creative robot. Prestasi ini terbilang sangat membanggakan mengingat jumlah peserta sebanyak 100 tim yang berasal dari 13 negara di dunia. Di antaranya, Korea Selatan, Filipina, Jepang, Kanda, Amerika Serikat, dan New Zealand.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Formasi tim Boyo Instrument terdiri atas Andika Pramanta Yudha (Jurusan Teknologi Informasi) dan delapan mahasiswa Jurusan Elektronika dan Instrumentasi (Elins) Fakultas MIPA, yaitu Rossena Karisma Rasul, Christian Antonia L P , Rangga Kurniawan, M Zaim Abdilah, Eviyan Fajar Anggara, Firdhaus Azhar, Anggoro Wibisono, serta Latifah Noor.

Ketua Tim Boyo Instrument Christian Antonia L P mengatakan, dalam kontes tersebut mereka membuat dua robot, yakni Quadcopter yang benama Si Pitung dan Explorer Bot yang diberi nama Paijo. "Quadcopter merupakan robot terbang dengan membawa muatan berupa robot mobil yang dapat terbang ke lokasi titik bencana dan memantau kondisi dari atas," ujar Christian seperti dikutip dalam informasi yang dirilis UGM, Jumat (6/1/2012).

Pada titik bencana, lanjutnya, quadcopter akan menerjunkan robot mobil yang dapat menelusup ke reruntuhan dan mendeteksi keberadaan korban. Robot akan mengirimkan data lingkungan sekitar berupa suhu, konsentrasi gas beracun, dan lain-lain ke pusat pengendali yang berada jauh dari lokasi bencana kepada Tim SAR.

Karena keterbatasan anggaran, pembuatan robot terpaksa memanfaatkan barang-barang bekas. “Kami menggunakan alumunium jemuran untuk membuat rangka pesawat. Begitu pula untuk kerangka quadcopter memakai teralis bekas milik teman-teman kos dan sebagian lainya hasil berburu di Pasar Klitikan,” katanya menjelaskan.

Christian menuturkan, Quadcopter memiliki daya jelajah sejauh satu kilometer dengan lama terbang terbang 15 menit atau tergantung daya baterai. Demikian pula daya tempuh robot mobil yang juga dilengkapi sensor sejauh enam meter.

Dia menyebutkan, dewan juri memilih karya timnya sebagai yang terbaik karena biaya pembuatan robot yang murah. “Kelebihan lain menurut juri karena negara lain tidak ada yang memiliki inovasi seperti yang kami lakukan, yaitu membuat robot terbang yang dikombinasikan dengan robot darat,” kata Christian menerangkan.

Pembuatan robot yang menelan biaya Rp8,8 juta ini, lanjutnya, lantaran Jogja merupakan daerah rawan bencana. Ke depan, robot ini akan dikembangkan dengan menambah beberapa sensor tambahan, seperti sensor gas atau sensor vulkanik.

“Nanti bisa disesuaikan dengan kebutuhan bencananya. Selain untuk menemukan korban bencana, ke depan robot ini diharapkan bisa melakukan dropping obat di lokasi sulit,” ujarnya.(mrg)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini