Share

Dosen Unsoed Tanam Padi tanpa Air

Margaret Puspitarini, Okezone · Jum'at 06 Januari 2012 17:02 WIB
https: img.okezone.com content 2012 01 06 372 552739 hYBWCHSlle.jpg Foto : Lahan penelitian tanaman padi tanpa menggunakan air/Unsoed

JAKARTA - Penyempitan lahan, perubahan iklim, dan persediaan air menjadi persoalan besar yang melanda bidang pertanian. Salah satunya, produksi padi sebagai makanan utama masyarakat Indonesia.

Persoalan sempitnya lahan dapat dijawab dengan peningkatan produksi dan sistem pertanian yang ramah lingkungan menjadi solusi atas persoalan perubahan iklim. Sementara semakin sedikitnya air menuntut sistem pertanian produksi tinggi dengan air yang sedikit.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Dulu hal tersebut akan sulit diwujudkan. Namun kali ini para dosen Fakultas Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Jawa Tengah berusaha merealisasikannya. Diketuai Ardiansyah, kelompok ini beranggotakan Arief Sudarmadji dan Masrukhi. Mereka berupaya menjawab persoalan itu dengan melakukan penelitian ‘Pengembangan Teknologi Tepat Guna dengan Sistem of Rice Intensification (SRI) untuk mewujudkan ketahanan pangan dan mengurangi efek perubahan iklim’.

Penelitian yang dilakukan sejak Juli 2011 ini mulai menunjukkan hasilnya. Penelitian penanaman padi dengan sedikit air (tidak digenangi) ini mereka lakukan dengan membuat demplot di Cimanggu, Kabupaten Cilacap. Ardiansyah mengatakan, karena tidak digenangi air, tanaman ini diberikan beberapa perlakuan. "Di antaranya, padi diberikan MOL (Mikroorganisme Lokal) dari bahan rebung, keong mas, atau pupuk anorganik sebagai pengganti pupuk cair pasaran. Namun, sebelum ditanam, lahan padi juga diberi pupuk organik," kata Ardiansyah seperti dikutip dari laman Unsoed, Jumat (6/1/2012).

Penelitian ini, lanjutnya, juga melihat emisi gas CH4 (metana) dari lahan pada tiap perlakuan tersebut. Metode pertanian SRI di 17 negara lain terbukti memberikan peningkatan hasil yang signifikan dan bahan-bahan pupuk yang digunakan adalah limbah pertanian yang ada di sekitar.

"Diharapkan, penelitian ini dapat membuat masyarakat, khususnya petani menjadi lebih kreatif dengan membuat pupuk sendiri," ujarnya.

Berdasarkan hasil pantauan terakhir, perkembangan cukup menjanjikan ditunjukkan oleh tanaman padi yang diberi MOL dari bahan rebung.

Ardiansyah menyebutkan, model pertanian presisi seperti ini telah banyak diterapkan di negara-negara maju. Menurut data, hasil produksi padi dengan metode SRI lebih tinggi daripada cara penanaman konvensional dengan rata-rata hasil produksi sebesar 6.8 ton per hektar. Apabila penanaman konvensional biasa panen hanya dalam kisaran 4-6 ton per hektar, maka dengan sistem ini dapat panen bisa berada dalam kisaran sekira 6-8 ton per hektar.(mrg)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini