nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bertahan di Kampung yang Hilang

Taufik Budi, Jurnalis · Jum'at 20 Januari 2012 22:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2012 01 20 340 560870 FyMdFx63Cn.jpg Ruwiyan hanya bisa menggunakan perahu untuk keluar kampung (Dok: Sindo TV/Taufik B)

DEMAK - Kerusakan lingkungan dan abrasi di pesisir pantai utara laut Jawa semakin parah. Buktinya bisa dilihat di Kampung Senik, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Tersisa dua keluarga yang masih bertahan dan hidup di lokasi yang terisolir dari daratan. Jalan menuju kampung “hilang” itu sudah tertutup air sehingga untuk menjangkau ke sana harus menggunakan perahu.

Tanggul selebar tiga meter sudah putus akibat dihantam gelombang besar sejak sebulan lalu. Padahal, tanggul tersebut adalah satu-satunya akses menuju Kampung Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung.

Warga harus menerabas gempuran ombak atau menggunakan jasa perahu penyeberangan bila ingin ke kampung tersebut. Tak kalah memprihatinkan, kondisi jembatan satu-satunya juga ambruk karena tiang penyangga hanyut dihantam ombak.

Bila Maret tahun lalu, tanggul beton selebar 30 sentimeter menuju tengah kampung masih bisa dilalui dengan berjalan kaki, namun saat ini sudah terendam air hingga setinggi paha orang dewasa.

Agar aman, cara untuk memasuki kampung yang telah ditinggalkan sebagian besar penduduknya itu harus menggunakan perahu. Sejauh mata memandang, hanya terlihat hamparan air serta rimbunnya tanaman mangrove.

Setelah menyusuri lautan air sekira dua kilometer, tampak sebuah bangunan masjid. Meski masih berdiri kokoh, masjid di tengah hutan mangrove tersebut tidak lagi dipergunakan warga untuk beribadah. Sebab genangan air laut pasang telah merendam seluruh ruangan hingga setinggi satu meter.

Pemandangan ini jauh berbeda jika dibanding enam bulan lalu. Saat itu masih terdapat lima keluarga yang tinggal. Namun kini hanya tinggal dua keluarga, salah satunya adalah Ruwiyan.

Dia bersama istri dan anaknya nekat tinggal di kampung tersebut karena tidak mempunyai biaya untuk pindah.

Bantuan pemerintah daerah sebesar Rp1 juta untuk biaya relokasi delapan tahun lalu telah habis untuk keperluan sehari-hari.

Kini untuk memenuhi kebutuhan dan mengantar anak sekolah, Ruwiyan harus menggunakan perahu. Selain itu, untuk mendapatkan air bersih dia harus mendayung perahunya hingga satu kilometer menuju musala yang memiliki sumur artetis.

Gelombang air laut pasang tidak hanya merendam lantai musala, namun merusak aliran listrik. Akibatnya bapak lima anak ini harus mencari air hingga keluar desa. Mereka juga harus hidup mandiri dengan segala keterbatasan karena tidak memiliki tetangga lagi.

Sohifatul Muawanah, anak Ruwiyan, mengaku hanya keluar rumah pada saat berangkat ke sekolah di SDN 1 Bedono. Siswi kelas 5 ini tidak bisa kemana-mana lagi setelah pulang sekolah karena tidak bisa bermain ke rumah tetangga.

Kepala Bidang Kelautan, Dinas Kelautan, dan Perikanan, Kabupaten Demak, Heru Budiyono, mengatakan ada dua kampung yang telah ditinggalkan penghuninya sejak delapan tahun lalu yakni Senik dan Tambaksari di Desa Bedono. Sebanyak 208 keluarga dari dua dusun itu telah direlokasi ke Desa Gemulak, Kecamatan Sayung.

Menurut Heru, kondisi dua kampung tersebut sudah tidak layak untuk tempat tinggal karena gelombang pasang dapat mengancam keselamatan jiwa penduduk. Sementara untuk memulihkan kawasan tersebut hingga layak lagi dihuni dibutuhkan waktu sangat lama serta biaya yang besar.

Heru menambahkan, abrasi pantai di Demak hingga saat ini mencapai lebih dari 495.80 hektare. Setiap tahun permukaan tanah juga mengalami penurunan 10 sentimeter. Bila tidak segera ditangani, maka diperkirakan 30 tahun lagi Demak akan tenggelam. Pasalnya ketinggian Demak hanya tiga meter dari permukaan air laut.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini