Share

Imlek Jadi Ajang Kumpul Bersama & Koleksi Angpao

Margaret Puspitarini, Okezone · Sabtu 21 Januari 2012 15:12 WIB
https: img.okezone.com content 2012 01 21 373 561177 v3Tja6av6m.jpg Ilustrasi : Corbis

JAKARTA - Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan istimewa bagi seluruh masyarakat Tionghoa di mana pun mereka berada. Meski tradisi ini telah diwariskan sejak lama, semangat generasi muda Tionghoa dalam menyambut hari besar ini sangat terasa.

Apa sebenarnya daya tarik Imlek yang identik dengan warna merah ini terhadap kawula muda Tionghoa? Banyak faktor yang dapat menarik perhatian anak muda di antaranya, baju baru, tersedianya makanan enak, angpao, dan kumpul keluarga.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Mahasiswa jurusan International Business Management Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Viviea mengaku, dirinya sangat bersemangat menyambut datangnya Imlek. "Tradisi bagi-bagi uang (angpao) adalah kegiatan yang paling saya nantikan ketika Imlek," kata Viviea sambil tertawa ketika berbincang dengan okezone melalui Blackberry Messanger (BBM), Sabtu (21/1/2012).

Viviea menyebutkan, dari tahun ke tahun jumlah angpao yang diterimanya ketika Imlek selalu meningkat. "Enggak tahu kenapa, tapi setiap tahun jumlah angpaonya semakin meningkat. Tahun lalu saja hampir Rp2 juta," ujarnya.

Selain angpao, tradisi mengenakan baju baru ketika Imlek menjadi hal yang disukai Viviea. "Mama saya selalu menerapkan kebiasaan mengenakan baju baru ketika Imlek. Bahkan hingga pakaian dalam jika bisa. Ini simbolis saja sebab kita akan memasuki tahun yang baru. Maka segala sesuatu di diri kita juga harus baru," katanya ramah.

Seperti perayaan Imlek pada umumnya, Viviea dan keluarganya juga mempersiapkan atribut Imlek di rumah. "Hiasan di rumah sih biasa saja malah dekorasi tahun lalu pasti dipakai kembali. Paling yang baru adalah hiasan di dinding, stiker, bunga, dan jeruk Bali. Kurang lebih sekira Rp150 ribu," ujar Viviea.

Dia mengungkapkan, setiap Imlek ada sebuah rutinitas unik yang dilakukan sang mama. "Setiap Imlek, mama saya suka menyetel lagu-lagu Imlek keras-keras. Karena saya merasa malu dan tidak enak dengan tetangga, diam-diam saya kecilkan volumenya. Tapi, ketahuan mama saya dan disuruh kembalikan ke volume awal. Walaupun risih, tapi justru itu yang membuat suasana hati saya gembira dalam menyambut Imlek," katanya.

Selain melakukan sembahyang saat Imlek, keluarga Viviea akan kembali mendatangi Klenteng untuk bersembahyang setelah tiga hari dari perayaan Imlek. "Mama saya bilang, tiga hari setelah Imlek itu hari sial. Makanya, kami harus ke vihara untuk bersembahyang," tutur Viviea.  

Hal serupa ternyata juga dialami, Kuncoro Luhana. Mahasiswa jurusan Teknik Sipil Universitas Tarumanegara (Untar) ini mengungkapkan, Imlek dengan segala ritual dan persiapannya justru membuat Kuncoro merasa bersemangat.

"Setiap perayaan Imlek yang saya lewati selalu berkesan karena menjadi sarana berkumpul dengan keluarga, melepas kangen, dan mengenal serta melestarikan tradisi," kata Kuncoro.

Tidak ubahnya dengan Viviea, Kuncoro mengaku, angpao dan makan bersama menjadi daya tarik tersendiri dalam perayaan Imlek. "Ya hampir mirip Lebaran. Imlek jadi ajang silahturahmi, makan bersama, dan mengumpulkan angpao," ujarnya.(mrg)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini