Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kampus Wajib Bantu Mahasiswa Disable

Margaret Puspitarini , Jurnalis-Senin, 30 Januari 2012 |15:32 WIB
Kampus Wajib Bantu Mahasiswa <i>Disable</i>
Ilustrasi : Corbis
A
A
A

JAKARTA - Kesempatan mengenyam pendidikan tinggi bagi orang disable di Indonesia sangat terbuka. Namun, sayangnya, perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Nusantara belum menyediakan fasilitas pendukung bagi para mahasiswa berkebutuhan khusus tersebut.

Deputy Director and Migrant Human Rights Coordinator at Asian Migrant Centre Hong Kong Lily Purba mengatakan, mahasiswa disable dengan kondisi keuangan mapan, tidak akan terkendala untuk mengenyam pendidikan tinggi, bahkan di luar negeri.

"Namun, permasalahannya di Indonesia, baik bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin maupun kaya, sudahkah universitas negeri dan swasta menyediakan fasilitas yang mendukung mereka untuk belajar?" kata Lily kepada okezone selepas acara talk show dalam memperingati Hari Kusta se-Dunia di Kampus Anggrek Universitas Bina Nusantara (Binus), Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (30/1/2012).

Lily mencontohkan, fasilitas pendukung fisik di antaranya tangga khusus atau eskalator untuk mobiltas mereka yang menggunakan kursi roda. Fasilitas lainnya adalah berbagai kebijakan khusus terkait keterbatasan mahasiswa disable. "Misalnya, di ruang kelas diberikan jarak bagi mereka yang menggunakan kursi roda. Atau bagi mereka yang tuna rungu, diberikan izin untuk merekam materi sepanjang perkuliahan serta kesempatan untuk bertanya kembali mengenai materi yang disampaikan," ujarnya menjelaskan.

Menurut Lily, berbagai kebijakan ini diperlukan bukan untuk membedakan mahasiswa normal dengan mahasiswa disable tetapi justru membantu para mahasiswa dengan kebutuhan khusus tersebut mengejar ketertinggalan mereka.

"Tidak bisa jika kampus mainstream dan menyamaratakan mahasiswa normal dengan mereka yang berkebutuhan khusus. Kebijakan ini perlu disediakan oleh kampus agar mahasiswa disable dapat mengejar perbedaan dengan mahasiswa lainnya," tutur Lily.

Namun realita yang ada menunjukkan, belum ada kampus yang benar-benar menyediakan fasilitas pendukung bagi mahasiswa disable di Indonesia. "Mereka memang tidak membatasi kesempatan bagi mahasiswa disable yang ingin menjadi mahasiswa di kampus tersebut. Namun, pengadaan fasilitas yang dapat membantu mereka mengejar ketertinggalan dengan mahasiswa normal, masih sulit," kata Lily.

Hal ini, lanjutnya, disebabkan oleh kebutuhan khusus mahasiswa disable baik secara fisik maupun perilaku. "Belum tentu sesama mahasiswa mau sabar untuk menuntun temannya yang tidak dapat melihat menuju ruang kelas sementara di kampus tersebut juga tidak dipasang petunjuk ruang kelas dalam huruf braile," ujar Lily.

Lily mengatakan, sekolah inklusi yang memang ditujukan khusus bagi orang disable merupakan salah satu solusi selama segala fasilitas penunjang pendidikan dapat terpenuhi dengan baik. "Jika pemerintah memang mampu menyediakan berbagai fasilitas penunjang pendidikan bagi orang disable dari seluruh Indonesia di sekolah inklusi tersebut, ya tidak masalah. Lagipula, sudah ada sekolah inklusi yang memang terbukti berkualitas seperti sekolah masak maupun pijat bagi tuna netra di Yogyakarta," katanya.(mrg)

(Rani Hardjanti)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement