Kisah Maryam Sentil Nurani Toleransi Keberagamaan

Muhammad Saifullah , Okezone · Jum'at 09 Maret 2012 15:50 WIB
https: img.okezone.com content 2012 03 09 285 590246 2kXDca9pwl.jpg Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Novelis muda Okky Madasari menyentil nurani rasa toleransi keberagamaan di negeri ini melalui novel terbarunya, Maryam. Dikemas bersama album Terbangkan Mimpi, Okky menyuarakan penderitaan dan ketidakadilan yang dialami penganut Ahmadiyah di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

 

”Novel ini tidak pada posisi membela atau membenarkan keyakinan apapun. Novel Maryam hanya ingin memperjuangan hak-hak warga negara yang terampas,” kata Okky, Jumat (9/3/2012).

 

Netralitas Okky ditunjukkan pula dalam sejumlah fakta berupa foto-foto yang ia bidik saat melakukan observasi tulisan di Lombok. Ia datang ke Gedung Transito, tempat ratusan warga Ahmadi hidup hingga kini.

 

Wawancara dengan orang-orang Ahmadi, mendatangi rumah-rumah yang dirusak dan tak bisa lagi ditempati. Selama proses riset, ia sempat mengabadikan kehidupan warga Ahmadi di pengungsian Transito dengan kamera.

 

Beberapa fotonya dipamerkan bersamaan dengan peluncuran novel Maryam, dengan judul pameran Yang Terusir Karena Iman yang digelar di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki (TIM) beberapa waktu lalu.

 

Melalui sosok Maryam, Okky menceritakan perjuangan seorang perempuan menjalani hidup di tengah diskriminasi masyarakat Indonesia. Ia kemudian menjadi andalan keluarga dan kaumnya untuk memperjuangkan hak-hak dasar sebagai manusia, yaitu untuk dapat hidup aman, bebas dari tekanan, diskriminasi dan kekerasan. "Cerita dalam novel ini mencerminkan demokrasi Indonesia yang masih gamang," ungkap Okky.

 

Ia berharap kisah yang diangkat dari realita ini seharusnya menjadi peringatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan presiden berikutnya bahwa tidak ada demokrasi dan penghormatan terhadap hak azasi manusia tanpa penegakan hukum yang tegas.

 

Meski menyuarakan penderitaan penganut Ahmadiyah, novel Maryam tidak pada posisi membela atau membenarkan ideologi atau keyakinan apapun. Novel Maryam hanya ingin memperjuangkan hak-hak warga negara yang terampas hanya karena perbedaan iman. Ini tidak hanya berlaku bagi penganut Ahmadiyah, namun juga minoritas dan korban diskriminasi lainnya.

 

Nama Okky sudah tidak asing lagi dalam ranah sastra Indonesia. Perempuan kelahiran tahun 1984 ini telah menulis tiga novel. Novel pertamanya, Entrok, mengangkat tema keberagaman keyakinan dengan latar belakang kesewenang-wenangan militer masa orde baru. Novel keduanya, 86, mengangkat tema korupsi. Novel ini masuk dalam lima besar Khatulistiwa Literary Award 2011.

 

Sementara itu, Maryam menawarkan nuansa berbeda. Novel ini diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dengan dilengkapi sembilan lagu ciptaan Okky Madasari sebagai sound track. Lagu-lagu dalam album Terbangkan Mimpi berkisah tentang manusia dan kemanusiaan. Mulai dari hubungan anak dan orangtua, hubungan cinta beda keyakinan, hingga tema lingkungan. 

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini