Tanah Abang

Amelia Fitriani, Okezone · Senin 12 Maret 2012 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2012 03 12 504 591361 TM6fKHgqyR.jpg Jalan layang non tol yang menghubungkan Kp Melayu-Tanah Abang (foto: dok okezone)

Pada masa kolonial, Batavia merupakan suatu wilayah pusat pemerintahan Belanda. Pada saat itu banyak terjadi perlawanan yang terutama muncul dari kerajaan-kerajaan yang berada di Pulau Jawa. Pada tahun 1628, pemberontakan terhadap pemerintah Belanda dilancarkan oleh pasukan yang berasal dari Mataram.

Kedatangan pasukan Mataram tidak hanya melalui jalur laut, namun juga melewati jalan darat yang datang dari arah selatan kota Batavia. Ketika pasukan Mataram yang melewati rute darat telah sampai di wilayah Batavia, ternyata kondisi geografis tempat tersebut berbeda dengan tempat dimanapun, yakni tanah di tempat tersebut berwarna merah.

Maka dari itu, pasukan Mataram menyebutnya dengan nama "tanah abang". Tanah abang dalam bahasa Jawa berarti tanah yang berwarna merah.

Pada tahun 1650, seorang kapten keturunan Cina yang bernama Phoa Bing Ham atau yang akrab dipanggil Bingam mendapat konsesi dari Belanda untuk membuka hutan yang ada di salah satu kawasan di Batavia. Karena Bingam pernah bertempat tinggal di Banten sebelum pindah ke Batavia, maka dia mudah untuk berbaur dengan orang-orang Jawa yang berasal dari Banten yang banyak terdapat di daerah tersebut.

Mengenai nama "Tanah Abang" juga dimungkinkan berasal dari nama yang diberikan oleh orang-orang (Jawa) Banten yang bekerja pada Phoa Bing Ham atau Bingam yang membuka hutan di kawasan tersebut. Latar belakang pemberian nama itu sama seperti latar belakang pemberian nama versi pasukan Mataram, yakni karena di tempat tersebut tanahnya berwarna merah.

Tanah abang pascapembukaan lahan hutan tersebut merupakan kawasan pemukiman warga yang tidak begitu padat. Seperti kawasan Batavia lainnya, yang mendominasi sektor ekonomi di tanah abanag pada waktu itu (kolonial) adalah etnis Cina yang dalam usahanya selalu menggunakan tenaga kerja orang-orang pribumi.

Namun pada zaman modern ini, Tanah Abang telah berkembang menjadi salah satu kawasan bisnis terbesar di Indonesia, terutama di bidang perdagangan. Bahkan Tanah Abang didaulat sebagai kawasan bisnis tekstil terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi yang mencapai omzet ratusan miliar per hari.

Sumber: Ensiklopedia Jakarta

(ahm)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini