Pasar Gambir

Dede Suryana, Okezone · Senin 26 Maret 2012 14:56 WIB
https: img.okezone.com content 2012 03 26 504 599803 Hp7ckZrj3m.jpg Ilustrasi ondel-ondel (Foto; Dok Okezone)

Pasar Gambir adalah perayaan pasar malam dimulai sejak tahun 1889, untuk memperingati tahun penobatan Ratu Wilhelmina. Dalam rangka menyambut peristiwa penting ini, di Batavia juga diselenggarakan pesta besar-besaran yang melibatkan segenap lapisan masyarakat.

Kala itu, untuk pertama kalinya digelar pasar malam di Lapangan Gambir, kini Lapangan Merdeka alias Lapangan Monumen Nasional (Monas).

Pasar Gambir selalu diadakan setiap tahun, selama seminggu hingga tanggal 31 Agustus, yang merupakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina. Malam penutupanannya selalu dimeriahkan dengan pesta kembang api besar yang disaksikan ribuan orang. Kembang api alias janhwee yang dipakai bikinan pabrik Gorz di krukut dan Lauw Kang Boen di kawasan Angke.

Pada zaman kolonial, pasar Gambir selalu digelar di Medan Merdeka Utara, tepatnya di seberang Istana Merdeka. Konon, awalnya pasar malam itu diadakan hanya untuk kalangan militer. Baru kemudian penyelenggarannya ditangani pemerintah kota (gemeente) Batavia dan terbuka bagi masyarakat luas.

Setiap penyelenggaraan Pasar Gambir selalu meriah dengan berbegai atraksi, tontotan, dan hiburan seperti sulap, komedi bangsawan, komedi putar, sampai American Carnaval Show—yakni kelompok pertunjukan hiburan yang biasa keliling Pulau Jawa.

Meski diselenggarakan di Ibu Kota, Pasar Gambir juga menjadi ajang pameran kesenian dan produk-produk dari berbagai daerah. Selain macam-macam pertunjukan kesenian dan permainan rakyat Betawi, seperti panjat pinang, cokekan, rebana biang, dan lain-lain, di Pasar Gambir. Pada Pasar Gambir tahun 1923 juga digelar tontotan Karapan Sapi dari Madura.

Dalam sejarahnya, Pasar Gambir merupakan salah satu pasar terkenal di Batavia pada zaman kolonial Belanda. Di pasar itu berbaur berbagai lapisan masyarakat dari segala penjuru Batavia.

Pasar Gambir sendiri terletak di Sekitar stasiun Kereta Api Gambir, Jakarta Pusat atau lapangan Monas yang dulu dikenal dengan lapangan Ikada. Namun Pasar Gambir masa kini letaknya sudah dipindahkan ke sekitar Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.

Pada masa kepemimpinan gubernur Ali Sadikin, Pasar Gambir dihidupkan kembali dengan nama ‘Jakarta Fair’ pada tahun 1968. Pasar malam ini selalu digelar di Medan Merdeka Selatan sampai kemudian dialihkan ke kawasan bekas Bandar Udara Kemayoran sejak 1992.

Pasar Gambir selalu ramai dengan stan seribu satu macam makanan dan minuman, mulai dari gado-gado, rujak sampai sate. Restoran es krim Ragusa yang kini berdiri di Jalan Veteran I juga pernah ikut berpartisipasi dan membuka stan di arena Pasar Gambir.

Kini, untuk mengingat kembali suasana Pasar Gambir tempo doeloe atau Jakarta tempo doeloe, pada setiap event Jakarta Fair yang berlangsung tiap tahun di salah satu areal Pasar Gambir Kemayoran, terdapat sebuah areal khusus yang diperuntukan bagi kebudayaan warga asli Jakarta (Betawi), baik berupa budaya, pernak-pernik, jajanan, hingga musik Betawi.

Sumber: Ensiklopedia Jakarta

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini