Kalau Sains Tak Berguna, Tinggalkan Saja

Senin 02 April 2012 07:46 WIB
https: img.okezone.com content 2012 04 02 373 603714 S0sM0gm6ol.jpg Image: corbis.com

HOKKY Situngkir pernah mengejutkan dunia sains Indonesia lewat Teori Fraktal Batik. Namanya kembali mencuat seusai berhasil menelusuri "DNA" lagu-lagu Nusantara lewat pemodelan menggunakan pendekatan ilmu fisika. Penelitian inilah yang menegaskan Rasa Sayange sebagai lagu asli Indonesia, bukan milik Malaysia sebagaimana diklaim negara itu.

Penelitian agaknya memang jalan hidup Hokky Situngkir. Ketika mengenyam bangku kuliah Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), pria kelahiran Siantar, Sumatera Utara ini mulai berkutat dengan dunia itu. Hokky merupakan salah satu pendiri Bandung Fe Institute, kelompok ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu.

Menariknya, di tangan sosok yang lekat dengan ilmu kompleksitas sosial ini, penelitian tak sebatas di ilmu eksakta. Kesenian dan kebudayaan tak luput dari perhatiannya. Dia, misalnya, menelurkan peta lagu daerah dan melahirkan Gerakan Sejuta Data Budaya. Berikut wawancara dengan cucu mendiang komposer besar Indonesia, L Manik ini:

Apa prinsip dasar penciptaan peta lagu daerah Indonesia?

Penelitian ini untuk membedah sebuah lagu secara mekanika statistika. Metode ini mengupas lagu dengan rumus-rumus tertentu salah satunya fisika. Untuk mengetahui "DNA" lagu, kita perlu mengetahui satuan informasi terkecil yang dapat menghasilkan perbedaan rasa setiap lagu. Jadi kami mencari satuan informasi dasar dari sebuah lagu, yakni sekuens nada. Dengan bantuan berbagai pihak, kami (ilmuwan Bandung Fe Institute) mengawali dengan mengumpulkan lagu-lagu daerah dari berbagai provinsi di Indonesia.

Bagaimana prosesnya hingga menghasilkan peta lagu tersebut?

Untuk bisa menemukan peta lagu, kami berusaha mengeluarkan emosi estetika melalui distribusi nada juga entropi atau derajat ketidakteraturan lagu. Semuanya diukur dengan rumus-rumus tertentu. Metode itu tidak bisa dilakukan manual sehingga terlebih dulu harus diciptakan software-nya. Dari database lagu-lagu tersebut, kami mencatat barisan nadanya kemudian digitalkan. Data polifonik dari lagu diubah menjadi data monofonik. Inti dari analisis ini adalah mengkaji representasi nada dan durasi dari sebuah lagu.

Apa yang ditemukan dari situ?

Ternyata ada klustering lagu dan menjadi sebuah peta. Dari peta tersebut dapat terlihat kekerabatan antara satu lagu dengan lagu lain yang ditandai dengan warna-warna tertentu sesuai daerah asalnya.

Butuh waktu berapa lama untuk menciptakan peta lagu tersebut?

Penelitian kami lakukan sekira tiga tahun, mulai 2005 sampai 2008. Yang lama bukan analisisnya, melainkan pengumpulan datanya. Selama ini belum ada repositori lagu Indonesia. Kami ingin menunjukkan, kalau data terkumpul, bukan sekadar analisis yang bisa dilakukan, melainkan juga inovasi. Anak-anak zaman sekarang sudah tidak tahu lagu-lagu daerah itu. Kalau repositorinya ada, itu bisa dimanfaatkan banyak orang. Sebaliknya kalau itu tidak ada, negara luar bisa mengklaim.

Dalam kasus lagu Rasa Sayange yang diklaim milik Malaysia, bagaimana Anda yakin lagu ini asli dari Indonesia?

Dalam peta lagu yang tercipta dari pemodelan komputer tersebut, terdapat beberapa kluster lagu seperti Sumatera, Melayu, Maluku, Jawa Timur,Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali. Sesuai peta itu, lagu Rasa Sayange masuk kluster lagu asal Maluku. Hal ini terbukti karena dari langgam Rasa Sayange sama dengan karakteristik lagu Maluku yang berirama cepat. Rasa Sayange jelas beda dengan lagu asal Melayu karena secara langgam saja sudah berbeda. Selain itu, kata "sayang" juga banyak keluar dari lagu-lagu asal Maluku, termasuk Rasa Sayange.

Adakah yang ingin disempurnakan dari peta lagu tersebut?

Saya berharap jumlah lagunya akan semakin banyak lagi karena dalam peta tersebut belum memuat semua lagu dari seluruh di Indonesia. Akhir tahun ini targetnya ada 1.000 lebih lagu tradisional yang bisa terkumpul.

Setelah peta lagu tercipta, pengembangan apa lagi yang akan dilakukan?

Peta lagu akan dikembangkan menjadi generator musik, yakni sejenis software yang mampu menggabungkan berbagai lagu. Saat ini sudah ada platformnya dan sedang dikembangkan, namun belum sempurna (software fisika musik versi 1). Mudah-mudahan kalau semuanya lancar bisa selesai dalam bulan ini.

Apa fungsi generator musik ini?

Dengan generator musik, seseorang bisa menggabungkan antara lagu satu dan lagu lainnya, misalnya, berdasarkan irama atau nadanya sehingga menghasilkan lagu yang lebih enak didengar. Apalagi kita sangat kaya dengan lagu daerah, ini di satu sisi dapat memperkaya hasil generator musik. Di sisi lain, software yang kita buat bisa dijual ke komposer atau orang-orang yang bekerja di bidang musik lainnya. Dari sinilah hasil penelitian bisa menghasilkan uang.

Menurut Anda, bagaimana perkembangan penelitian bidang seni dan budaya di Indonesia?

Masyarakat masih menganggap penelitian di bidang kesenian dan kebudayaan sebagai kelas dua. Penelitian utama adalah bidang ekonomi dan politik atau sains. Padahal, kita tidak bisa meneliti sains kalau tidak ada seni.

Kenapa Anda tertarik meneliti kebudayaan Indonesia?

Di Bandung Fe Institute, kami meneliti ilmu kompleksitas, yakni sebuah metode, cara melihat yang berbeda. Menurut kami salah satu akar Indonesia yang sangat kompleks adalah kebudayaan sehingga harus digali. Namun, data-data untuk penelitian ternyata tidak ada sehingga akhirnya kami yang mengumpulkan dan berlanjut ke berbagai penelitian.

Selain pengembangan generator musik, apa fokus lainnya?

Saat ini tengah aktif mengampanyekan Gerakan Sejuta Data Budaya. Siapa saja yang memiliki data budaya Indonesia, silakan kirim ke www.budayaindonesia.org. Data budaya yang saat ini telah dikumpulkan terdiri atas 16 macam budaya antara lain lagu daerah, tarian tradisional, naskah kuno, prasasti, senjata dan alat perang, serta permainan tradisional.

Soal penelitian di bidang budaya ini, bagaimana Anda memandang peran pemerintah?

Selama ini perhatian pemerintah cukup baik, tapi mungkin mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa karena terbentur birokrasi. Bantuan pernah kami dapatkan,tapi bukan dari kementerian terkait, melainkan dari Kemenristek karena kami menggunakan software berbasis open source. Sejak penelitian peta lagu pada 2005, kami menggunakan dana sendiri, bahkan pernah juga meminta bantuan pada teman-teman.

Hasil penelitian Anda telah tersebar ke beberapa negara, bisa disebutkan?

Di Kanada sudah digunakan untuk penelitian game komputer.Di Italia juga ada yang menggunakan untuk meneliti rumah-rumah tradisional. Kami senang saja banyak yang pakai karena kami ikut membimbing penelitian mereka juga.

Soal penelitian bidang kebudayaan, mungkin ada pengalaman menarik, bisa diceritakan?

Waktu meneliti Candi Borobudur dan melakukan pengukuran, kami diusir satpam karena tanpa surat izin penelitian. Apalagi waktu itu kami belum banyak dikenal. Setelah kami jelaskan, mereka akhirnya mengerti juga. Bukan hanya itu, kami juga pernah dikira orang Malaysia saat melakukan penelitian di Pekalongan. Waktu sedang memotret-motret, orang-orang di sekitar mencurigai kami.

Apa arti penelitian bagi Anda?

Menemukan sesuatu bagi saya itu kenikmatan. Apalagi kalau penemuan tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. Saat hasil penelitian dipakai di luar negeri, ada rasa senang. Lewat penelitian itu ditorehkan sedikit garis sejarah Indonesia. Menurut saya, sains yang baik adalah yang harus berguna. Kalau tidak, tinggalkan saja. (masita ulfah/koran si)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini