Share

China Palsukan Ijazah Kampus AS

Hanna Meinita, Okezone · Selasa 10 April 2012 15:02 WIB
https: img.okezone.com content 2012 04 10 373 608843 6XVkAvqW14.jpg Ilustrasi. (Corbis)

HAIDIAN - Sembilan orang di China diadili karena menjual ijazah palsu menggunakan nama universitas di Amerika Serikat (AS). Dalam persidangan disebutkan bahwa mereka menipu orang hingga 3,4 juta yuan atau setara dengan Rp4,9 miliar (Rp1,453 per yuan).

Para terdakwa disebut menipu lebih dari 30 orang di China, termasuk beberapa eksekutif senior perusahaan besar. Mereka menjual ijazah palsu untuk gelar doktoral atau master dari berbagai perguruan tinggi di luar negeri antara 2007 hingga 2010.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Menurut jaksa dari distrik Haidian di Beijing, mereka didakwa dengan tuduhan penipuan. Zhou Yuanqing, seorang pejabat informasi dari pengadilan memaparkan, selama persidangan yang digelar Senin (9/4/2012), para terdakwa menerima tuduhan, namun mereka membantah mengenai jumlah uang yang telah ditipu.

 “Sidang berlangsung sekira tiga jam, tapi hakim tidak menjatuhkan hukuman,” jelas Zhou Yuanqing seperti dikutip dari China Daily, Selasa (10/4/2012).

Menurut jaksa, sembilan terdakwa membuat jiplakan dari peraturan pendaftaran di beberapa perguruan tinggi AS, termasuk University of Washington. Mereka mengklaim dapat memberikan sertifikat untuk berbagai level gelar selama calon mahasiswa membayar uang dan mengikuti beberapa pelatihan.

Yang unik, salah satu terdakwa merupakan mantan korban aksi penipuan. Menurut jaksa, salah satu terdakwa bernama Liao pernah menjadi korban dengan kerugian 65 ribu yuan. Pada 2006, dia mendapat sertifikat palsu usai mengikuti pelatihan. Namun usai jadi korban, Liao tidak melaporkan Li ke kepolisian. Liao justru bekerja sama dengan Li untuk melakukan kecurangan.

Sementara itu, seorang profesor di sekolah pascasarjana di Peking University, Liu Yunshan menilai fenomena penjualan ijazah palsu merupakan fenomena mengkhawatirkan. Menurutnya, banyak orang yang lebih peduli dengan ijazah ketimbang hakikat dari pendidikan.

“Sekarang, banyak orang yang mengejar gelar karena terlihat mewah sementara di sisi lain mereka mengabaikan nilai riil dari pendidikan, dan hal ini menciptakan peluang bagi pelanggar hukum untuk melakukan penipuan," jelasnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini