Share

Laily M Nuh: Mendukung Tanpa Merecoki

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Sabtu 21 April 2012 14:43 WIB
https: img.okezone.com content 2012 04 21 417 615842 YwOzThDc0G.jpg Laily M Nuh mendampingi suami, tanpa merecoki. (Foto: Rifa Nadia/okezone)

KESIBUKAN tampak menghiasi rumah di Jalan Widya Chandra III Nomor 11, Jakarta, siang itu. Satu mobil boks berlogo perusahaan katering parkir di rumah berdinding krem tersebut. Beberapa pegawai katering pun sibuk membongkar muatannya.

Di dalam rumah, beberapa orang lainnya hilir mudik memindahkan dan menata kursi-kursi di ruang samping.Puluhan kursi dijajarkan, berbaris-baris, seperti disiapkan untuk satu acara khusus.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

"Nanti malam ada tamu, rombongan dari Surabaya  menggunakan dua bus," kata Laily Rachmawati, sang empunya rumah, ramah. 

Laily menerangkan, kesibukan seperti ini bukanlah kali pertama dialaminya. Sejak suaminya, Mohammad Nuh, diberi tugas sebagai menteri komunikasi dan informasi (menkominfo) menggantikan Sofyan Djalil 2007 lalu, rumahnya kerap disambangi orang dengan berbagai keperluan.

Di ruang tamu rumah dinas yang tertata apik dan dihiasi souvenir dari berbagai daerah dan negara itu, Laily bercerita, kesibukan tidak hanya di Jakarta, bahkan ketika dia dan sang suami mudik ke Surabaya setiap akhir pekan, selalu ada tamu mengunjungi kediaman mereka. Kebanyakan memang ingin bersilaturahim, seperti rombongan dari Surabaya tersebut. Tetapi tidak jarang, para tamu itu menitipkan proposal kegiatan atau proyek pembangunan. Tidak ingin mengecewakan sang tamu, Laily menerima proposal-proposal tersebut untuk diteruskan ke pihak yang tepat meski tidak bisa menjanjikan bantuan apa pun.

Yang repot, kata Laily, jika kedatangan rombongan dalam jumlah besar seperti yang akan dia hadapi ini. "Jika satu dua tamu saya masih bisa menjamu mereka, tapi kalau dalam jumlah besar seperti ini, ya, saya bingung juga. Gaji Bapak sebagai menteri juga tidak akan mencukupi kalau tamu-tamu kami sebanyak ini. Saya enggak kebagian apa-apa deh," selorohnya.

Bagi wanita berkerudung ini, tidak ada yang istimewa dari menjadi istri menteri. Sama saja seperti istri-istri pada umumnya. Sebagai istri, Laily berusaha selalu mendukung sang suami, apa pun jabatan dan amanah yang diembannya.

Sebelum menjadi menteri, Nuh merupakan dosen di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Dia juga pernah menjabat sebagai direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) sebelum diserahi tanggung jawab sebagai rektor ITS.

Laily sendiri mendampingi Nuh sejak dinikahinya pada 1984. Ketika itu Laily masih menjadi mahasiswa baru pada Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (unair) Surabaya. Satu tahun menikah, Laily pun ditinggal Nuh yang ketika itu melanjutkan studi magister ke Universite Science et Technique du Languedoc Montpellier, Prancis.

Dukungan bagi sang suami ditunjukkan Laily dengan menyusul Nuh ke Prancis pada tahun berikutnya. Laily pun harus meninggalkan bangku kuliah dan teman-temannya.

"Ketika itu memang berat meninggalkan kuliah dan teman-teman, tetapi Bapak meminta saya segera menyusul ke Prancis, ya, saya menurut," ujar Laily mengenang.

Di Prancis inilah Laily mengandung dan melahirkan putri tunggalnya, Rachma Rizqina Mardhotillah. Hari-hari sebagai ibu dimulai Laily di negeri orang, jauh dari sanak saudara di Tanah Air.

Ketika akhirnya kembali ke Tanah Air, Laily pun harus bergegas menyelesaikan studinya sambil mengasuh sang putri tercinta. Saat itu, sebagian besar teman seangkatan Laily sudah lulus, hanya satu dua yang belum menyelesaikan studi.

"Jadi bisa dibayangkan, dua tahun saya cuti. Ketika pulang sudah punya anak, dan harus kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliah. Saya jadi belajar bareng adik-adik kelas saya di kampus, karena banyak teman saya sudah lulus," tuturnya.

Sulung dari lima bersaudara ini berhasil menamatkan studinya pada 1990. Setelah melalui masa koas, dia pun berpraktik menjadi dokter gigi di Surabaya. Terakhir, dia praktik di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya dan mengepalai unit gawat darurat (UGD) di sana.

Sejak Nuh diangkat menjadi menteri komunikasi dan informatika (menkominfo) pada 2007 lalu, praktis Laily meninggalkan profesinya sebagai dokter gigi. Laily mengaku, memang sudah berkomitmen untuk total mendampingi Nuh menjalankan tugas negara, meski itu berarti meninggalkan profesi yang dirintisnya bertahun-tahun lamanya.

Menurut wanita kelahiran Surabaya, 20 September 1965 itu, komitmen tersebut juga didasari fakta bahwa tidak mungkin jika dia tetap praktik sebagai dokter gigi sambil menemani sang suami di Jakarta. Ketika itu Rizqi, putrinya, juga sudah menjadi mahasiswa dan bisa hidup mandiri di Surabaya.

"Saya mantap mendampingi Bapak di Jakarta, tapi saya tetap memantau perkembangan studi Rizqi dan berusaha selalu ada untuknya," ujar Lalily seraya tersenyum.

Laily mengaku, menikmati masa lima tahun terakhir sebagai pendamping menteri. Meski demikian, bentuk dukungan yang diberikannya sebatas doa dan ikhtiar semampunya. Dia menegaskan, tidak pernah mencampuri urusan pekerjaan Nuh, baik ketika menjabat menkominfo ataupun mendikbud.

"Saya hanya mendukung, tidak merecoki. Bapak juga begitu, mendukung aktivitas saya, tetapi tidak mengganggu urusan saya," Laily menandaskan.

Sikap ini diambil Laily karena menurutnya sudah banyak orang yang memberi saran dan masukan profesional kepada sang suami. Perannya pun sebatas pendukung.

"Karena memang begitu sejatinya peran istri, sebagai pendukung suami, bagaimana pun keadaannya," imbuhnya mantap. (bersambung)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini