ZalacCraft, Kerajinan Kulit Salak dari UNY

Rabu 25 April 2012 10:43 WIB
https: img.okezone.com content 2012 04 25 372 617980 4HrbcHH9nG.jpg Image: corbis.com

SALAK selama ini hanya dimanfaatkan buahnya, terutama untuk produk olahan seperti selai, keripik, sirup, bakpia, dan produk lainnya. Kulitnya juga dibuang dan menjadi limbah sampah.

Padahal, kulit salak ini dapat dimanfaatkan untuk bahan kerajinan yang memiliki nilai ekonomis. Terutama tekstur kulit salak yang bergerigi menyerupai kulit ular yang memiliki nilai seni cukup tinggi. Selain akan meningkatkan nilai tambah, inovasi ini juga ramah lingkungan. Seperti yang dilakukan empat mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang sukses mengolah limbah kulit salak menjadi aneka kerajinan menjadi tas dan dompet.

Mereka adalah Muhammad Ridwan dan Widiyas Tantri, keduanya mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Asriningsih Suryandari (FMIPA), dan Zalzuli Fachrur Rohmanu mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS). Mereka berempat memberi nama usahanya dengan ZalacCraft.

Asriningsih menerangkan, ZalacCraft merupakan produk inovatif yang ramah lingkungan dengan bahan baku berupa kulit salak (salacca zalacca) yang sangat murah dan mudah didapat sehingga harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan pangsa pasar mampu mencakup semua lapisan masyarakat.

Meskipun begitu, demi kepuasan para konsumen,kualitasnya akan selalu dijamin. Keunggulan dan keunikan yang dimiliki dari produk ZalacCraft dibandingkan produk kerajinan kulit yang lain adalah dari sisi desain, yakni dibuat dengan corak khas dan bernuansa lokal. Selain itu, dari sisi nilai artistik dan natural dengan memanfaatkan sisik dari kulit salak, juga memberikan nilai seni yang klasik.

"Ciri khas lain dari produk ZalacCraft ini, selain berupa lukisan yang teraplikasi di atas lembaran kulit salak, para konsumen dapat memesan desain sesuai keinginan mereka. Dan inilah yang menjadi salah satu keunikan dan menjadi daya tarik konsumen," papar mahasiswa Jurusan Pendidikan IPA UNY ini.

Muhammad Ridwan menambahkan, melihat potensi pasar kerajinan kulit salak cukup luas di dalam negeri maupun mancanegara, mereka akan memproduksi bermacam model tas dan dompet. Saat ini mereka juga terus mengembangkan berbagai jenis kerajinan kulit lain, seperti tempat tisu, tempat kosmetik, kap lampu, tempat jam, pigura foto, dan pembuatan lukisan serta kerajinan keramik.

"Pengembangan ini juga mendukung industri pariwisata Yogyakarta, khususnya perkembangan agrowisata salak," ujarnya.

Alur produksi diawali dengan mempersiapkan bahan dasar kulit salak, termasuk proses pengawetan kulit salak dengan formalin. Kemudian dilanjutkan dengan finishing kulit salak dengan pengampelasan, pengilapan, pengeringan, pemotongan tepi, penyeterikaan, dan pengembangan desain berupa lembaran-lembaran kulit salak yang ditempel pada kain sesuai pola dan dilukis dengan lukisan klasik.

"Setelah itu, bahan-bahan dipotong sesuai pola yang telah ditentukan. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan merek dan aksesori tambahan serta penjahitan dan perakitan," ucapnya. (priyo setyawan/koran si)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini