Share

Krim Tabir Surya dari Biji Bakau

Margaret Puspitarini, Okezone · Sabtu 09 Juni 2012 11:34 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 08 373 643845 pj3D3OTSgg.jpg Image: corbis.com

JAKARTA - Berbagai perawatan dan produk kecantikan digunakan oleh kaum hawa untuk menjaga kecantikan tubuh dan wajahnya. Salah satu produk yang menjadi andalan adalah tabir surya untuk mencegah kulit terbakar sinar matahari. Siapa sangka jika ternyata tabir surya dapat terkandung dalam tanaman bakau yang biasa digunakan sebagai penahan abrasi?

Kandungan tabir surya dalam biji bakau ini ditemukan Peneliti Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) Linawati Hardjito. Dia pun berhasil menciptakan krim perawatan sehari-hari berbahan dasar alami dan ramah lingkungan tersebut.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Penelitian yang dilakukan Linawati sejak 2003 itu dilakukan di pesisir Kalimantan. Masyarakat setempat, konon telah memanfaatkan biji bakau ini sebagai bedak ketika hendak melaut. Dengan demikian, hasil penelitian Linawati ini semakin menguatkan tradisi yang sudah berlangsung lama di tengah masyarakat ini.

Pemilihan tempat penelitian di pesisir Kalimantan, didasari masih amannya tanaman bakau di sana dari polutan, seperti cemaran logam berat. "Biji bakau dari wilayah yang sudah tercemar, tidak bisa digunakan untuk bahan kosmetik, karena tentunya sudah mengandung logam berat," ujar Linawati, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Sabtu (9/6/2012).

Bakau, lanjutnya, adalah tanaman yang bagus menyerap polutan. Jika biji bakau dari wilayah seperti ini kita gunakan sebagai bahan kosmetik, dapat dipastikan tidak akan lulus uji BPOM.

Belum lama ini, Linawati memilih pesisir Pulau Karimun Jawa sebagai tempat observasinya. Tipikal pesisir Karimun Jawa dinilai sama dengan pesisir Kalimantan yang bebas dari polutan. Di Karimun Jawa ini, Linawati tidak sekadar meneliti, namun berbekal SK dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI untuk memberdayakan masyarakat pesisir dalam mengelola potensi sumberdaya alam yang ada.

Bersama Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Ocean Fresh, Dr. Linawati memberikan pelatihan pemanfaatan biji bakau yang ada di sekitar mereka sehingga menjadi salah satu sumber mata pencaharian. Sepuluh peserta pelatihan untuk angkatan pertama merupakan ibu rumah tangga. Mereka disiapkan untuk bisa mensuplai bubuk biji bakau, yang kemudian wajib dibeli oleh CV Ocean Fresh.

Biji-biji bakau sebesar buah kelapa ini kemudian diproduksi secara tradisional, yakni mulai dari menjemur di bawah sinar matahari, ditumbuk di lumpang dengan alu, dan mengayaknya. Meski dilakukan secara manual, namun Linawati menjamin higienitasnya. Semua peran ini dilakukan oleh kaum ibu. Sementara untuk mencari biji bakau, mereka melibatkan para suami.

"Selama tanaman bakau itu tidak ditebang, mereka tidak akan kehabisan bahan baku. Mengingat hamparan bakau di sana cukup luas. Dan tiap saat dimungkinkan tumbuh bakau-bakau baru dari biji-biji yang jatuh ke lumpur," tuturnya.

Semua kosmetik produksi Linawati berbahan dasar biota laut dan pesisir, seperti rumput laut, pandan laut, dan ekstrak biji bakau. Untuk day cream, bahan aktifnya adalah ekstrak biji bakau. Sekadar contoh, untuk day cream ukuran pot 30 gram, dibutuhkan 1,5 gram ekstrak biji bakau.

"Jumlah ekstrak tersebut diperoleh dari 30 gram bubuk biji bakau. Day cream tersebut bisa diperoleh diantaranya di Serambi Botani seharga Rp98 ribu. Insya Allah tidak lama lagi kami akan launching Facial Wash  yang juga dari ekstrak biji bakau," Linawati berpromosi.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini