Kali Angke, Bekas Tempat Pembantaian Etnis Tionghoa

Dede Suryana, Okezone · Rabu 27 Juni 2012 12:18 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 27 504 654551 BHURIsKLWY.jpg Masjid Angke pada 1920 (Foto: Ensiklopedia Jakarta)

Kampung Angke sudah tak asing lagi bagi warga Jakarta. Sebuah kampung tua yang diabadikan menjadi sebuah Kelurahan di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Pada saat Belanda menduduki Batavia, Kampung Angke masuk Wijk Angke Duri dan Onderdistrick Penjaringan, District Batavia. Sebelum berstatus kelurahan, Angke masuk wilayah Kelurahan Angke Duri, Kecamatan Krukut. Waktu itu Angke berstatus kemandoran yang dikepalai seorang sarean hingga tahun 1966.

Baru pada masa pemerintah Ali Sadikin pada 12 April 1968 Kelurahan Angke Duri dipecah menjadi 10 kelurahan, yaitu Kelurahan Jembatan Lima, Jembatan Besi, Kali Baru, Duri, Tambora, Malaka, Pekojan, Karendang, Tanah Sereal, dan Angke.

Sebelum dinamakan Angke daerah ini disebut orang Belanda dengan Kampung Bebek. Ini karena daerah tersebut ditempati oleh mayoritas etnis China yang kebanyakan berternak bebek.

Pada tahun 1740, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh etnis China terhadap pemerintahan Belanda. Pemberontakan pecah lantaran Belanda memberlakukan razia “Surat Ijin Tinggal”, terutama bagi etnis imigran dan keturunan China, karena dianggap berhasil dari segi ekonomi. Bagi etnis China yang tidak memiliki surat tersebut akan dikenakan denda atau diusir dari wilayah Hindia Belanda.

Kebijakan tersebut dilakukan karena kekhawatiran pemerintah kolonial akan persaingan ekonomi yang ditimbulkan oleh etnis pribumi, dan etnis China, selain karena Belanda lewat VOC ingin melakukan hegemoni pasar di Eropa dengan melakukan eksploitasi sumber daya alam di Hindia.

Dengan pemberlakukan “Surat Ijin Tinggal” tersebut, masyarakat China merasa dibatasi. Akhirnya berulang kali etnis Cina melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Hingga pada akhirnya ribuan orang Cina dibantai oleh Belanda dan mayat mereka dibuang ke kali setempat.

Kali bekas pembantaian etnis Tionghoa ini pun kemudian dinamakan Kali Angke dan Kampung Angke.

Menurut salah seorang budayawan Betawi, kata "angke" berasal dari bahasa Hokkian, yakni "ang" yang berarti merah dan "ke" berarti sungai atau kali. Hal ini terkait dengan pembantaian 10.000 warga Tionghoa yang membuat warna air Kali Angke yang semula jernih menjadi merah bercampur darah.

Namun, menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, kata "angke" berasal dari kata dalam bahasa Sanskerta, yang berarti kali yang dalam.

Sungainya sendiri berhulu di kelurahan Menteng, Bogor Barat, Jawa Barat yang melewati Tangerang Selatan dan bermuara wilayah Muara Angke.

Diolah dari berbagai sumber

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini