Share

C-Dry, Pengering Cabe Efisien Karya ITS

Margaret Puspitarini, Okezone · Jum'at 29 Juni 2012 13:02 WIB
https: img.okezone.com content 2012 06 29 372 655943 yghcXCh5u4.jpg Foto : Zulvan(ITS)

JAKARTA - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya seakan tidak kehabisan ide untuk menelurkan inovasi. Teranyar, empat mahasiswa ITS berhasil mendesain sebuah alat pengering cabai segar yang dijuluki Chili Dryer (C-Dry) yang menigkatkan pendapatan petani cabai di Kota Batu serta mengantarkan mereka lolos Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) XXV di Yogyakarta.

Adalah Rizky Fitria Fauzy, Suhartono, Yuandhika Adhi W, dan Zulvah. Ketua PKMT C-Dry Rizky menjelaskan, inisiatif pembuatan PKMT ini muncul dari Tugas Akhir (TA) yang tengah dikerjakan. Mereka pun melakukan survei ke Batu, Malang, yang notabene merupakan salah satu daerah penghasil cabai terbesar di Jawa Timur. ''Di sana sudah ada alat pengering cabai, namun hasilnya masih kurang optimal,'' papar Rizky, seperti dilansir dari ITS Online, Jumat (29/6/2012).

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Menurut hasil investigasi, cabai kering yang dihasilkan oleh alat pengering tersebut sangat mengecewakan. Petani masih sering mengalami kerugian karena hasil produksinya hangus. ''Alatnya terlalu panjang, sehingga pemanasan yang terjadi tidak merata,'' tutur mahasiswa Jurusan Teknik Elektro ITS tersebut.

Selain itu, energi yang digunakan pun kurang efisien. Tidak cukup hanya memanfaatkan energi panas dari pembakaran elpiji, masih ditambah lagi dengan penggunaan energi listrik untuk menggerakkan blower. ''Ini jelas salah satu bentuk pemborosan energi,'' ungkap pemuda yang akrab disapa Kiki itu.

Maka, mereka pun melakukan beberapa improvisasi terhadap alat pengering cabai yang sudah ada. ''C-Dry cukup dengan sumber energi listrik saja,'' kata Zulvah.

Modifikasi lainnya terletak pada bentuk fisik alat pengering. Sebelumnya, bentuknya yang memanjang horizontal dianggap terlalu banyak memakan tempat. Sehingga, diubah menjadi bentuk yang vertikal ke atas dengan alas berbentuk V. ''Hal ini kami lakukan agar udara panas dapat segera bergerak ke atas,'' beber mahasiswa Jurusan Teknik Industri tersebut.

Pada sisi atap C-Dry sendiri, ditambahkan cerobong asap yang langsung berhubungan dengan sisi bawah. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisasi energi panas yang terbuang. Sehingga terjadi sirkulasi udara panas dengan ukuran suhu tetap. Zulvah menambahkan, untuk sekali produksi, C-Dry dapat mengeringkan 18 kg cabai segar dalam waktu maksimal lima jam.  ''Pada uji coba pertama, C-Dry dapat mengeringkan cabai dalam waktu empat jam,'' tukas Zulvan.

Namun, layaknya prototype PKMT lainnya, C-Dry juga memiliki kekurangan di beberapa bagian. Yuandhika menyebut, meskipun hanya menggunakan satu sumber energi, daya yang dibutuhkan masih cukup besar. "Untuk sekali beroperasi, dapat memakan daya listrik 1.750 watt," imbuhnya.

Inovasi keempat mahasiswa ini ternyata benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kepala mitra PKMT C-Dry Imam Hanafi bertutur, keberadaan alat pengering tersebut sangat membantu kehidupan petani cabai di daerahnya. "Ketika musim cabai murah tiba, para petani tidak perlu khawatir jika cabainya tidak laku dan membusuk. Mereka dapat mengolahnya menjadi serbuk cabai yang mempunyai nilai lebih di pasaran," ujar Hanafi.

Hanafi melanjutkan, berkat alat ini juga, kualitas cabai segar di daerahnya dapat bertahan cukup lama. "Rata-rata cabai normal hanya dapat bertahan sekitar tujuh hari jika berada di daerah yang lembab, kemudian mereka akan layu," tuturnya.  

Manfaat C-Dry tidak hanya dirasakan oleh para petani cabai. Alat tersebut juga dapat digunakan untuk alat pengering buah-buahan dan sayuran. ''Kemarin, alat ini sempat diuji coba untuk mengeringkan buah apel dan hasilnya cukup memuaskan,'' kata Yuandhika.

Ke depannya, Kiki bersama anggota timnya akan terus berusaha menyempurnakan C-Dry. Ia juga berencana untuk memproduksi C-Dry secara massal agar dapat membantu seluruh petani cabai di Indonesia. ''Kami sudah mendapat sinyal positif dari PT Indonesia Produktif Mandiri yang berdomisili di Cikampek,'' imbuh Kiki.(mrg)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini