Hutan di Gunung Merbabu rawan kebakaran

Angga Rosa (Koran Sindo), Koran SI · Rabu 04 Juli 2012 14:25 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 04 447 658690 AG2LLfGSEK.jpg Foto: dok sindonews

Sindonews.com - Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) memetakan hutan di wilayah Resort Selo Boyolali di Kecamatan Selo dan Ampel sebagai kawasan rawan kebakaran. Pemetaan tersebut didasarkan pada kejadian kebakaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini.

Kepala Seksi I Kopeng BTNGM Marawayan mengatakan dalam beberapa musim kemarau, kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) di wilayah Resort Selo selalu terbakar hingga merambat ke wilayah Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Diduga kuat, kebakaran disebabkan oleh faktor manusia.

"Karena itu, kawasan tersebut dipetakan sebagai daerah rawan kebakaran. Kami telah melakukan langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya kebakaran dan menyiapkan langkah penanganan jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran," kata Marawayan menjelaskan, Rabu (4/7/2012).

Sekedar informasi, pada September 2011 kawasan hutan TNGM di wilayah Resort Selo (Selo dan Ampel) dan Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang terbakar. Luas hutan TNGM di wilayah Kabupaten Boyolali yang terbakar seluas sekitar 110 hektare. Sedang hutan TNGM di wilayah Kabupaten Semarang yang terbakar seluas 40 hektare.

Menurut Marawarman, guna mengantisipasi kebakaran, BTMGN telah meminta bantuan kepada seluruh kelompok masyarakat peduli api (MPA) yang ada di sekitar kawasan taman nasional untuk melakukan langkah preventif dan waspada terhadap kebakaran hutan. Pasalnya, pada musim kemarau kawasan hutan TMGM banyak terdapat sabana, rumput, dan pohon kering sehingga bila tersulut api atau puntung rokok bisa terbakar.

Selain itu, imbuhnya, BTNGM juga telah melakukan patroli rutin dan sosialiasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan taman nasional di wilayah Kabupaten Boyolali, Semarang, dan Magelang serta pendaki gunung terkait bahaya kebakaran hutan. Masyarakat dan pendaki gunung juga diimbau untuk tidak menyalakan api dan membuang puntung rokok sembarangan ketika berada di hutan.

"Kami minta masyarakat untuk turut serta melakukan langkah antisipasi dan ikut mengawasi kegiatan pendaki gunung. Jika mengetahui adanya kebakaran hutan segera memberitahukan kepada petugas untuk dilakukan pemadaman," ujarnya.

Dia menjelaskan, kebakaran hutan TNGM tidak hanya merusak ekositem dan kelestarian hutan. Namun juga berdampak terhadap masyarakat di sekitar Gunung Merbabu.

"Contohnya, pada kebakaran hutan taman nasional di Desa Batur merusak pipa air bersih warga. Akibatnya, warga kesulitan air bersih. Selain itu, debit air dari sumber air yang ada di lereng Gunung Merbabu dapat menurun," ucapnya.

Koordinator Komunitas Peduli Puncak Sarif (Kompas) Gunung Merbabu, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang Nur Sunari mengatakan pihaknya siap mendukung langkah preventif untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan yang dilakukan BTNGM. Kompas juga akan melakukan kampanye antisipasi kebakaran melalui penyebaran pamflet.

"Kampanye ini kami lakukan di pos-pos pendakian dan perkampungan warga. Kami minta para pendaki dan warga untuk ikut menjaga kelestarian hutan agar tetap lestari demi hajat hidup orang banyak," tandasnya.(azh)

(hri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini