nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pangeran Pecah Kulit

Stella Chrisfanni, Jurnalis · Kamis 05 Juli 2012 11:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2012 07 05 502 659142 GkLMyv1uMY.jpg Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Pangeran pecah kulit merupakan orang Belanda bernama Pieter Erberveld, yang dihukum atas penghianatannya mendukung perjuangan Indonesia.

Sumber lain menyebutkan, Erberveld adalah blasteran Indo-Eropa (ayah Jerman ibu dari Siam) yang oleh kumpeni difitnah bersekongkol untuk melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap bangsa Eropa di Betawi. Ia juga dituduh menghasut orang Jawa di Betawi untuk berontak.

Konon, Erberveld bersama Raden Kartadria sejak lama berencana membunuh orang-orang Belanda di Batavia pada pesta malam tahun baru 1722, karena ingin menjadi kepala kota Batavia.

Namun rencana tersebut bocor sampai ke Gubernur Jenderal Batavia kala itu, sehingga Erberveld bersama pengikutnya, yang semuanya orang pribumi, ditangkap tiga hari menjelang rencana pembunuhan, di rumah Erberveld.

Mereka dikenai hukuman mati dan dieksekusi di lapangan sebelah selatan Benteng Batavia atau di Jalan Jacatraweg. Karena gerakannya mendukung pemuda Indonesia, ia dan pengikutnya dihukum Belanda dengan sangat kejam.

Kedua kaki dan tangannya diikat pada empat ekor kuda, kemudian kuda-kuda tersebut berlari kencang ke empat penjuru mata angin. Tubuh mereka ditarik dengan empat ekor kuda yang berlari secara berlawanan hingga kulit dan badannya pecah-pecah.

Tempat eksekusi inilah yang akhirnya dikenal sebagai Kampoeng Petjah Koelit yang sekarang dikenal dengan nama jalan Pangeran Jayakarta, di Jakarta Barat. Di kampung ini pertama kali ditemukan sebuah tugu berupa sebuah dinding tembok sepanjang sekira delapan meter. Tembok ini merupakan kenangan mengerikan dari hukuman terhadap Erberveld dan pengikutnya.

 

Di tembok itu juga tertulis sebuah maklumat dalam bahasa Belanda dan Jawa, yang isinya melarang selama-lamanya untuk mendirikan bangunan atau menanam tumbuh-tumbuhan di tempat itu.

 

Diolah dari berbagai sumber

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini