Share

Serbia Subsidi Operasi Ganti Kelamin

Aulia Akbar, Okezone · Selasa 24 Juli 2012 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 24 214 667570 iWS77F7e9Z.jpg Foto : Perempuan Rusia yang menjalani operasi kelamin di Serbia (NY Times)

BEOGRAD - Operasi pergantian kelamin merupakan tindakan yang pandang tabu oleh banyak pihak. Namun saat ini, banyak orang berbondong-bondong datang ke Serbia untuk menjalankan operasi itu. Operasi kelamin itu juga mendapat subsidi dari asuransi nasional Serbia.

"Sangat mengejutkan, sebuah negara konservatif menjadi pusat dari operasi pergantian kelamin. Kehidupan sosial di Serbia pun berubah secara perlahan," ujar salah seorang aktivis transjender di Serbia, seperti dikutip New York Times, Selasa (24/7/2012).

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Hampir 100 orang warga negara asing dan warga Serbia sudah menjalankan operasi itu pada 2011 lalu. Menurut laporan dari Pusat Bedah Rekonstruksi Kelamin Beograd, peminat dari operasi itu kian meningkat, beberapa warga negara dari Amerika Serikat (AS), Prancis, Rusia, Iran, Afrika Selatan, Singapura dan Australia sering menjalankan operasi tersebut.

Para pengamat mengatakan bahwa dana yang dibutuhkan seseorang untuk melakukan operasi kelamin sangatlah besar, operasi itu juga rumit, dan dinilai memicu kontroversi. Operasi pergantian kelamin juga dikecam di sejumlah negara seperti Eropa seperti, Austria, Hongaria, Rumania, Bulgaria dan Yunani. Hal itulah yang menyebabkan Serbia menjadi pusat operasi kelamin.

Di Inggris, operasi itu bisa menghabiskan dana sebesar USD15 ribu atau sekira Rp142 juta. Namun di Serbia, setiap pasien hanya membutuhkan dana sebesar USD10 ribu atau sekira Rp94 juta. Salah seorang aktivis transgender AS yang terkenal, Chaz Bono juga berniat datang Serbia untuk menjalani operasi lainnya.

Operasi pergantian kelamin di Serbia, dilakukan lewat dalam waktu enam jam. Untuk menjalankan operasi itu, pasien juga membutuhkan dua surat rekomendasi dari sejumlah psikiater yang menunjukkan bahwa pasien yang bersangkutan menderita penyakit gangguan identitas jender.

(AUL)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini