Sebuah Kisah Berdarah di Bidaracina

Anita Nur Fitriany, Okezone · Senin 30 Juli 2012 13:51 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 30 504 670546 8kxmq8Lcu7.jpg Ilustrasi banjir Bidaracina (Foto: Dok Okezone)

Siapa tak kenal Kelurahan Bidaracina. Sebuah kawasan di kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, yang akan berubah menjadi kampung terapung bila musim penghujan tiba. Kenapa dinamakan Bidaracina?

Sahdan, beberapa abad silam kampung ini merupakan daerah resapan air. Kali Ciliwung yang airnya jernih, menjadi tempat hilir mudik perahu-perahu saudagar China dari Depok maupun Bogor. Mereka menambatkan perahu-perahunya di daerah ini untuk melanjutkan berjalan kaki ke kawasan Mester, kini Jatinegara.

Sayangnya, keramaian di bantaran kali Ciliwung ini tidak berimbas pada perbaikan kehidupan warga setempat. Akibatnya, angka kriminalitas pun mulai mengalami peningkatan. Perampokan dan pembunuhan terhadap pedagang China nyaris terjadi setiap hari.

Dari insiden-insiden China berdarah inilah, konon nama Bidaracina berasal.

Sumber lain menyebutkan, kampung Bidaracina muncul setelah pembantaian ribuan warga Cina di Batavia pada 1740. Banyak warga China yang lari ke hutan-hutan, termasuk hutan di kawasan selatan Mester. Pada kisah ini, warga juag menyebut Bidaracina sebagai daerah Cina Berdarah.

Namun, seorang peneliti sejarah asal Jernan Adolf Heuken tidak sependapat degan kisah pembantaian etnis China sebagai cikal bakal kampung Bidaracina. Menurut Heuken, kisah itu hanya dongeng belaka dan Bidaracina justru erat kaitannya dengan dengan pohon bidara.

Pohon itu ditanam di kawasan benteng Noordwijk (Pasar Baru). Pada kontraknya, penanaman pohon hanya dilakukan di Pasar Baru, namun gerakan ini melebar ke kawasan timur Batavia.

Saking banyaknya orang Cina yang menanam pohon bidara di selatan Mester, disebutlah kawasan itu sebagai Bidaracina.

Diolah dari Berbagai Sumber

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini