Share

Kuota Bidik Misi Bisa Dialihkan

Selasa 07 Agustus 2012 08:33 WIB
https: img.okezone.com content 2012 08 07 373 674220 uxTGq8bVFw.jpg Image: Corbis

JAKARTA – Pemerintah menegaskan tidak akan menutup beasiswa Bidik Misi, meski tiap tahun penerimanya tidak mencapai kuota. Program ini ditujukan bagi 20 persen mahasiswa kurang mampu di masing-masing perguruan tinggi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, jika tidak terserap di satu daerah, kuota Bidik Misi dapat dialihkan perguruan tinggi negeri (PTN) ke daerah lain. "Kebijakan ini untuk keberpihakan bagi warga yang kurang mampu dan ingin anaknya masuk perguruan tinggi," kata Nuh di Jakarta, kemarin.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Diketahui, pada 2011 beasiswa Bidik Misi mencapai kuota 40 ribu kursi, namun yang terserap hanya 15.300 kursi untuk 92 PTN. Minimnya mahasiswa yang mengambil beasiswa tersebut disinyalir akibat kurang sosialisasi, terutama bagi calon mahasiswa dari kawasan pelosok pedesaan.

"Harus diingat, meski pendapatan kita naik, bukan berarti Bidik Misi akan kita turunkan, tetapi derajat kemiskinannya yang kita naikkan. Intinya, Bidik Misi ini ingin mengambil 20 persen dari yang paling tidak mampu," katanya.

Salah satu perguruan tinggi yang tidak memenuhi kuota Bidik Misinya adalah Universitas Padjadjaran (Unpad). Dari 900 kursi yang ditetapkan, baru terisi 195 kursi.  Sementara di Institut Teknologi Bandung (ITB), dari kuota 800, baru terpenuhi 608. Adapun di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dari kuota 600 sudah terisi 590. UPI sendiri meminta tambahan kuota karena masih ada ratusan peminat yang belum terjaring beasiswa ini.

Menurut Nuh, ada hubungan antara pendidikan dengan pendapatan per kapita. Pasalnya, angka lamanya belajar ada hubungannya secara langsung dengan pendapatan per kapita yang dinyatakan dengan koefisien koherensi 0,93. Jika pemerintah ingin memberantas kemiskinan, cara terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan adalah dengan fokus di dunia pendidikan. Salah satu programnya dengan Bidik Misi, yang dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk menikmati dunia pendidikan.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud Illah Sailah menjelaskan, kuotanya memang hanya mampu tercapai 15.300 orang, sementara jumlah yang mendaftar 75 ribu orang, yang harus diseleksi berdasarkan prestasi akademiknya. Calon penerima pun semakin berkurang karena juga akan diperiksa berdasarkan tingkat kemiskinan misalnya dari rekening listrik.

Illah tidak menampik jika pihak kampus kesulitan menjaring peserta yang sesuai persyaratan, yakni miskin tetapi berprestasi. Namun, pemerintah akan tetap berupaya memenuhi kuota program Bidik Misi hingga seluruh kursi terisi. PTN pun diberikan kebebasan untuk mencari calon mahasiswa sesuai dengan kebijakan PTN masing-masing, tetapi harus sesuai ketentuan dan jangan seperti kasus di Universitas Sumatera Utara (USU) di mana ada dua anak dosen yang menerima. "Namun, beasiswa bagi mereka sudah kami cabut," jelasnya.

Berdasarkan catatan Kemendikbud, beberapa kampus negeri dengan serapan mahasiswa Bidik Misi tertinggi adalah Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang menyerap 1.450 mahasiswa, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyerap 1.000 mahasiswa, serta ITB dan UI dengan masing-masing 800 mahasiswa.

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Bedjo Sujanto mengatakan, kuota Bidik Misi yang didapat UNJ mencapai 575 kursi untuk 50 program studi, dari 59 program studi yang dimiliki UNJ. Menurut dia, siswa pendaftar Bidik Misi mencapai 2.666 orang, sehingga dia pun meminta penambahan kuota agar makin banyak mahasiswa tidak mampu tertampung di UNJ.

"Kami seleksi siswa pintar dan miskin. Namun jika mahasiswa ini dua semester berturut- turut mendapat IP (indeks prestasi) di bawah 2,75 maka akan kami cabut haknya dari beasiswa tersebut," tegasnya. (neneng zubaidah/koran si)  

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini