nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pekuburan Hendra

Senin 13 Agustus 2012 19:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2012 08 13 343 677174 zL7YeusThZ.jpg Ilustrasi (Gelar Agryano Soemantri/Okezone)
AKU tak tahu harus bersedih atau bergembira. Mataku tak lepas dari gerakan penggali kubur yang sibuk sedari tadi, beberapa ayunan lagi siaplah kubur itu dan jenazah di keranda akan segera dikebumikan.
 
Bukan aku tak tahu akan tatapan heran, benci, aneh dari para pelayat terlebih lagi dari keluarga si jenazah, tetapi aku sudah terlalu biasa dengan perlakuan mereka yang selalu tak nyaman. Kalau hanya sekedar ditatap dengan pandangan sinis, benci bahkan jijik sudah teramat sering.  Lebih dari itu pun aku dapatkan. Sikap manis penuh kepura-puraan, senyum yang dibuat-buat sambil memamerkan deretan gigi mereka yang putih namun berbau busuk.
 
“Untuk apa kau bekerja, aku tak izinkan,” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari koran pagi yang dia baca. Aku berusaha meyakinkannya untuk meluluskan keinginanku.
 
“Aku tidak melamar, pihak universitas sendiri yang minta. Kali ini aku mohon izinkan aku bekerja. Dulu sewaktu dosen pembimbing minta aku menjadi asistennya kau juga melarangku. Lagi pula, tidak setiap hari aku pergi ke kampus, jika ada jadwal mengajar saja. Aku pastikan tidak akan lebih dari jam 12 siang,” kataku meyakinkan.
 
Hendra tak sedikit pun melepas pandangan dari bacaannya, aku mulai gelisah. Sudah pasti tawaran yang langka dan mungkin tak akan aku terima lagi dari tempat lain akan menguap begitu saja.
 
“Tak perlu diantar, aku pergi naik angkot, dan…” Belum habis bicaraku Hendra beranjak pergi. Dia meninggalkan aku duduk sendiri di teras depan. Betapa aku sangat ingin berteriak saat itu juga, ingin kususul dia ke dalam rumah dan memakinya jika saja ini bukan rumah mertuaku. Aku menekuri gelas teh yang nyaris kosong, mataku mulai memanas dan mengabur.
 
Hendra memang telah bekerja, biar pun tidak terlalu bagus, cukuplah untuk keluarga kami, tetapi bukan itu masalahnya. Aku juga ingin mengaktualisasikan diri, menjajal seberapa hebat dalam bekerja, seberapa piawai menerapkan berbagai macam pengetahuan yang ada dalam kepalaku. Bukan karena uang belanja, meski terkadang aku kebingungan mencukupkannya dalam satu bulan.
 
Aku teringat di awal pernikahan yang sebenarnya aku tak ingin buru-buru menikah sebab kuliahku belum usai kala itu. Hendra mendesakku untuk segera menikah dengan alasan dia hendak mencari peluang mengejar gelar master. Dengan pertimbangan itulah setelah dia mengataiku,“Kau jangan rusak rencana yang telah aku susun Rina.”
 
Aku mengalah, menerima ajakannya menikah. Dengan mengesampingkan semua rencanaku sendiri, berharap ketika lulus sarjana nanti aku akan dapat mewujudkan semua rencanaku pula. Tetapi apalah nyatanya, aku justru terpuruk begini. Bukan aku mencoba ingkar akan kodrat sebagai perempuan yang katanya lebih pantas di rumah, yang menurut agama sangatlah mulia mengurus suami, anak, dan rumah. Namun, ada sisi lain dalam diriku, sebentuk kebutuhan, hasrat, keinginan untuk dapat sampai pada suatu pencapaian dari sebuah perjuangan atas kemampuanku sendiri. Keinginan mewujudkan semua rencanaku yang aku tunda, yang aku porak porandakan sendiri demi Hendra, tetapi apalah kini adanya.
 
Dalam hatiku bertanya, siapakah yang lebih egois, aku ataukah dia? Siapakah tukang rusak rencana, dia ataukah aku? Aku hanya dapat memendam kecewa dalam hati, berkecamuk menghentak-hentak jiwaku tanpa pernah muncul ke permukaan. Semua sudah terlanjur, dan tak mungkin aku memutar waktu. Yang sering aku lakukan hanya mengutuki diri sendiri yang tak pernah bisa berpikir lebih bijak agar tak berbuah kerugian pada diriku.
 
Kian hari suasana rumah mertua yang aku tinggali makin tak sehat saja, mulut manis serta lelakon mereka mainkan dengan apik. Siapa lagi bila bukan mertuaku dan ipar perempuanku yang sinis itu. Di depan Hendra mereka bermanis-manis, tapi di belakang Hendra, biar pun tak terkatakan, perasaan tak suka dan benci mereka terhadapku amat terasa. Mata tak akan dapat menipu, apalagi terhadap perasaan seorang perempuan.
 
Kembali aku menatap ke arah para penggali kubur yang tengah sibuk memasukkan jenazah Hendra. Tak ada air mata, bahkan sejak kali pertama Hendra menderita sakit. Kelegaan, kepuasaan, perasaan senang merebak perlahan dalam jiwa dan kalbuku. Kudengar ibu mertuaku meraung-raung, dalam pelukan kakak iparku. Masih kubergeming di tempat, tak ingin aku mendekat pada mereka, tak hendak pula  mendekat pada Hendra yang telah menjadi jenasah. Jika bukan karena adat, aturan, nilai-nilai dan segala pertimbangan buruk di mata orang lain, aku sudah bersorak, menari berputar-putar melihat pemakaman ini.
 
Kembali aku merasakan pandangan menusuk dari semua saudara iparku. Aku hanya berdiam di tempatku duduk. Lenganku tak kendur merengkuh kedua buah hatiku. Aku tak ingin lengah sedikit pun, tak ada yang bisa memisahkan aku dengan kedua putriku. Aku tak akan membiarkan keluarga Hendra mendekati putri-putriku.
 
Sulungku membalas pelukanku tak kalah erat. Ia sudah cukup besar untuk mengerti akan arti kematian. Namun, sebagaimana diriku, sulungku pun tak merasakan kehilangan seorang ayah. Dia hanya memandang liang lahat yang sebentar lagi penuh tertimbun tanah tanpa sedikit pun kesedihan terpancar di raut mukanya. Ketika kabar ayahnya tiada aku langsung memberi tahunya. Bagaimana pun, ayah tetaplah seorang ayah. Namun, reaksi sulungku sungguh di luar dugaanku. Dengan teramat tenang, ia mengatakan kalau dirinya lebih senang bila ayahnya tiada.
 
Sementara putri keduaku justru asyik memainkan kedua kakinya di tanah pekuburan. Ia masih belum mengerti arti kematian, berkali ia menanyakan mengapa ayahnya ditimbun tanah. Dengan kalimat sederhana kucoba menerangkan semampuku tentang apa sebenarnya yang terjadi pada putriku itu. “Tari, kamu mau menabur bunga tidak? Para penggali kubur telah selesai.” Kudengar kakak ipar laki-lakiku mendekat dan menawariku untuk menabur bunga di pusara Hendra. Aku beranjak dari tempatku duduk, kubimbing kedua putriku melangkah mendekati pusara ayah mereka. Kuraih keranjang bunga dari tangan ibu mertuaku dan kusodorkan pada Bintang dan Bulan.
 
Kuperintahkan kepada bidadari-bidadari kecilku itu untuk menabur bunga di pusara ayahnya. Sedikitpun aku tak hendak melepas Bintang dan Bulan, tangan-tangan mereka yang bebas kugenggam erat-erat. Aku tak ingin membuat kesalahan lagi dengan membiarkan mereka berada di tangan keluarga Hendra.
 
Setelah selesai, Bintang dan Bulan menabur bunga, segera kuajak kedua putriku itu meninggalkan pekuburan. Aku berpamitan kepada bapak dan ibu mertuaku, tanpa menunggu mereka berkata-kata aku sudah membalikkan badan. Demikian juga dengan seluruh saudara iparku, setelah berpamitan tanpa menunggu persetujuan mereka aku langsung menggandeng Bintang dan Bulan ke luar area pemakaman.
 
Tekadku sudah mantap, aku tak akan tinggal di rumah mertuaku. Tak ada barang-barangku yang tertinggal di rumah mertuaku. Sebagian sudah kuberikan pada tetangga sebagian lagi kubawa pulang hari ini. Selanjutnya, di kota kelahiranku, aku tinggal mencari rumah kontrakan saja. Itu juga salah satu alasan mengapa aku datang ke acara pemakaman siang hari ini tanpa membawa pakaian lebih. Hanya pakaian ganti secukupnya bagi kami. Dan aku juga tidak berniat singgah ke rumah mertuaku.
 
“Tari, Mentari tunggu…!”
Kudengar suara seorang perempuan berteriak memanggilku. Aku tak menghentikan langkah justru mempercepat langkahku. Namun, karena aku berjalan dengan kedua putriku, perempuan tadi yang tak lain adalah kakak iparku dapat menyusul langkahku.
“Setidaknya bermalamlah barang semalam di rumah. Kasihan anak-anak kecapaian di perjalanan,” Mbak Winda mencoba membujukku.
 
Masih menggenggam kedua lengan putriku aku menyahut dengan tenang. “Kami sudah pesan travel untuk tiga orang Mbak. Saya harus segera ke tempat yang sudah ditentukan. Agar tidak ketinggalan travel nanti.”
 
“Tapi anak-anak pasti capek. Baru beberapa jam mereka di sini, dan lagi perjalanan dari rumahmu pasti cukup melelahkan. Lusa atau besok saja kamu pulang, beri kesempatan anak-anak beristirahat.”
 
Makin erat genggamanku pada lengan kedua putriku hingga kurasakan Bulan mencoba mengibaskan lengannya. Aku tak yakin dengan apa yang disampaikan kakak iparku itu, muslihat apa lagi yang sedang coba ia mainkan setelah dengan terang-terangan ia mencoba memisahkan aku dengan kedua putriku setahun lalu saat aku akhirnya memutuskan pulang ke kota kelahiranku. Meski Hendra akhirnya menyusulku tetapi tak membuat hubungan kami membaik.
 
“Atau Bintang sama Bulan biar di rumah dulu, biar istirahat, nanti aku yang akan antar padamu lagi Tari.” Aku tersenyum getir dalam hati. Masih saja Mbak Winda tak menyadari betapa aku sudah sangat paham dengan apa yang ia dan keluarganya inginkan. Kali ini aku tak ingin mengalah, aku harus bisa tunjukkan padanya bahwa aku tidak lemah.
 
“Maaf Mbak, tapi sungguh saya rasa anak-anak tidak apa-apa. Soal makan Mbak nggak perlu khawatir, nanti kami mampir di rumah makan kok. Lagi pula saya pikir anak-anak lebih baik sama saya, ibunya. Maaf, saya tidak punya banyak waktu, saya harus cepat-cepat agar tidak tertinggal travel.”
 
Usai menyelesaikan kalimatku, segera kusentak lengan kedua putriku. Aku setengah memaksa mereka untuk berlari mengimbangi langkahku yang makin lebar dan cepat. Aku terus saja melangkah, ada kelegaan dalam hati sebab aku tahu pasti anak-anak bersamaku.
 
Aku tidak lagi berhubungan dengan keluarga almarhum suamiku yang tak punya hati itu. Aku kian jauh meninggalkan pekuburan dan Mbak Winda yang mulai berteriak-teriak memakiku, mencaciku tanpa ampun dengan berbagai makian, cacian dan umpatan yang sungguh tak pantas diucapkan seorang terpelajar seperti dia.
 
***
Paha kananku menyanggah kepala Bulan yang terkulai lelah. Ia tertidur cepat. Sementara Bintang bersandar di lengan kiriku. Travel yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan sedang begitu tenang, setenang hatiku kini. Perlahan kubisikkan dalam hati, Hendra telah pergi, bersamanya semua keburukan, kesengsaraan, kepedihan, yang selama ini aku terima selama menjadi istrinya tak akan aku alami lagi.
 
Mulai saat ini, kehidupanku yang baru akan dimulai. Bersama Bintang dan Bulan aku harus bisa menata hidup yang lebih bahagia, lebih damai dan tentram. Kamu pasti bisa Mentari, bersama Bintang dan Bulan kamu akan dapat menciptakan warna seindah pelangi  bagi kehidupan kalian nanti. Segala kemanisan akan mudah kau ciptakan. Begitu bisikku dalam hati.
 
Aku pulang kali ini, dengan penuh rencana indah bagi diriku dan kedua putriku. Aku pulang dengan kelegaan hati tiada tara. Hanya ada aku, dan kedua putriku. Itu sudah cukup.*


Penulis Myra Nastiti
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini