nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lebaran Tanpa Suami

Jum'at 24 Agustus 2012 14:40 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2012 08 24 343 680277 44LYmERSkd.jpg Ilustrasi (Agung/Okezone)
SELESAI mandi sore dan hendak berganti baju, Rukmini berdiri berlama-lama di depan cermin. Dipandangi tubuh telanjangnya. Dari ujung rambut kepala sampai ke ujung kaki.
 
Ada yang terasa aneh ketika Rukmini mengawasi sosoknya di balik cermin. Pinggangnya yang dulu ramping, sekarang gendut. Pipinya yang dulu tirus, sekarang tembem. Pahanya yang memang besar, bertambah besar. Perutnya yang rata kini berubah membukit. Bobot tubuhnya pun melonjak. Ya...tentu saja karena Rukmini sekarang sedang hamil.
 
Rukmini bisa merasakan ada gerakkan-gerakkan lembut yang berasal dari dalam perutnya. Wanita ayu berusia 25 tahun itu bisa merasakan ada kehidupan lain di sana. Kehidupan yang tak dilihatnya, tapi dirasakan keberadaannya. Ketika dia menggerakkan kaki-kaki mungilnya. Ketika dia  menonjokkan jemari lembutnya. Atau ... ketika kepala kecil itu bergeser, menyiratkan sebuah kehidupan. Mungkinkah di sana ada dunia luas...yang membuatnya betah bermain?
 
Ah, Rukmini membayangkan...dia  yang ada dalam kandungannya akan segera lahir. Dua bulan lagi, dia laki-laki atau perempuan? Rukmini tak mempersoalkannya. Yang penting kelak bayinya lahir dengan selamat. Tapi suaminya, Mas Abimanyu menginginkan anak pertama mereka kelak, seorang lelaki.
 
“Aku ingin kelak dia lahir lelaki...,” Abimanyu berbisik lembut. Membelai perut Rukmini. Menciuminya. Rukmini geli, terkikik.
 
“Memangnya kenapa kalau dia lelaki, Mas Bim?” tanya  Rukmini bermanja-manja.
“Ya...bisa aku ajak bermain bola dong, sayang. Aku bayangkan, kelak ketika usiaku belum tua, dia sudah tumbuh remaja. Kami bisa bermain bola bersama,  renang bersama,  main sepeda bersama.
 
“Ah, kalau cuma main sih kita bisa kan, Mas....” Rukmini tersenyum genit, nakal.
“Iya sih...sekarang pun kalau mau bisa kok kita main...” Abimanyu tersenyum  penuh arti. Mencium tak hanya perut Rukmini. Lalu mereka melabuhkan kasih asmara sebagai suami istri yang saling mencintai.
 
Rukmini tersenyum, membayangkan kemesraan di hari-hari lalu kala suaminya menemaninya. Ketika dia tengah hamil muda. Tapi ketika kehamilannya menjelang usia 4 bulan Abimanyu ditugaskan di Papua. Rukmini memakluminya. Begitulah risikonya menjadi istri tentara. Sering ditinggal suami. Tak hanya ditinggal piket malam. Juga berangkat perang ke negeri rawan.
 
Rukmini harus  ikhlas melepas kepergian suaminya tugas. Mas Abimanyu telah dilantik sebagai prajurit TNI, dan telah bersumpah  untuk mengemban tugas negara di pundaknya. Tugas negara bagi tentara adalah di atas segalanya. Tak peduli istri mau melahirkan. Seandainya panggilan tugas negara mengundangnya, sebagai prajurit dia harus berangkat! Tidak boleh tidak!
 
                                                              ****
Tiga purnama sudah Mas Abimanyu pergi.
Dua belas minggu sudah mereka berpisah. Betapa Rukmini merasa hari-harinya sunyi.  Sepi. Waktu terasa lambat dan sangat lama berganti. Seandainya Rukmini bisa, betapa dia ingin hari indah itu segera tiba. Rukmini ingin melahirkan didampingi sang suami tercinta.
 
Tapi rasanya keinginan Rukmini ini sesuatu yang mustahil. Suaminya kelak akan pulang dari tugas, setelah Rukmini melahirkan! Masa tugas Mas Abimanyu di Papua masih lumayan lama. Sementara saat Rukmini melahirkan tinggal dua bulan lagi!
Ah, Rukmini menghela nafas resah. Dipandanginya seputar kamarnya yang rapi. Rukmini tba-tiba merasa haus. Rukmini bangkit dari  pembaringan, membuka  pintu kamar hendak menuju ruang makan.
 
Ketika melewati ruang tamu, Rukmini melihat Larasati  sedang belajar. Adik iparnya yang masih  duduk di kelas 2 SMA itu-sedang mengerjakan tugas sekolah. Ya, Laras lah yang menemaninya selama Mas Abimanyu pergi.
“Ngerjain pe-er apa sih Ras?”
“Matematika. Sulit nih...”
“Ya, cari dong rumusnya dan cara pengerjaannya.
“Iya sih. Tapi bikin kepala pusing,  Mbak. Mendingan ngerjain pe-er lainnya. Sosiologi, Sejarah atau bahasa Indonesia.”
 
“Misalnya mengarang ya Ras?”
“Iya sih mbak. Apalagi ngarang cerpen. Duh... bisa lupa waktu!”
 
Rukmini tersenyum, teringat kesukaan adik bungsu Mas Abimanyu itu- yang suka nulis cerpen. Sejak kecil Laras suka dan terbiasa menulis diary. Bermula dari sanalah dia mengembangkan hobinya, mencoba bikin cerpen. Laras ternyata berbakat jadi penulis fiksi, terutama cerpen. Beberapa karyanya pernah dimuat media. Gadis cute 16 tahun ini  juga pernah memenangi  lomba penulisan cerpen tingkat nasional. Nama Laras disebut-sebut sebagai penulis berbakat. Penulis muda bermasa depan cerah! Sebagai kakak Rukmini merasa ikutan bangga. Ah...
 
         “Mbak  Ni...kelihatan melamun. Ada apa sih Mbak?”
         “Nggak...nggak ada apa-apa.”
         “Mbak Ni...teringat Mas Abim?”
         “Ya, mungkin. Entahlah, Ras.”
         “Laras ngertiin kok perasaan Mbak. Tapi ibu bilang, inilah risikonya menjadi istri tentara kan Mbak. Harus siap ditinggal pergi tugas, dalam keadaan apapun.”
 
Ya, ya, Rukmini membenarkan apa yang dikatakan Laras. Sebenarnya Rukmini tahu apa yang..., tapi entah mengapa...hari-hari terakhir ini dia selalu terbayang-bayang pada sosok suaminya. Mungkinkah ini refleksi dari keinginannya yang kelak ingin melahirkan dengan ditunggui suami tercinta?!
 
Ah ,sedang apa sih Mas Abimanyu sekarang? Sedang piket malam sambil nonton TV? Atau sedang jaga sambil main catur dan berteman secangkir kopi?
Atau Mas Abimanyu sedang istirahat malam, tapi tak bisa tidur...karena memikirkannya, merindukannya? Seperti keadaan dirinya, di sini, di malam ini...
 
“Mbak  Ni tidur dulu ya Ras. Sudah ngantuk nih. Sebelum tidur tolong angetin  mangut dan tumis kacang panjangnya,  Ras. Lalu periksa jendela dan pintu...”
 
Laras mengiyakan. Rukmini bagai membawa tambur perlahan berjalan menuju kamarnya. Membaringkan diri di ranjang. Telentang. Memandang langit-langit. Menerawang. Lalu mencoba memejamkan mata. Menepuk bantal berulang-ulang. Mendoa. Berharap suaminya datang, walau dalam mimpi....
 
                                                      *****
 
 Rukmini membaca surat dari suaminya, dengan perasaan bahagia, sedih, kangen campur aduk membaur menjadi  satu.
 
Kabar Mas baik-baik saja, dik. Mas sangat merindukanmu. Mas ingin berjumpa kamu. Seandainya Mas punya sayap, mungkin Mas sudah terbang menghampirimu. Melepas kerinduan dalam dada ini. Tapi sayang...Mas hanya punya burung. Burung mas pun tak punya sayap. Burung mas malah kesepian...
 
Ah, Rukmini tersenyum menelusuri goresan-goresan pena Mas Abimanyu yang isinya agak nakal. Rukmini pun mendambakan saat-saat indah itu. Tapi jarak terbentang jauh memisahkan. Entah kapan Mas Abimanyu pulang. Rukmini akan menjaga kesetiaan ini. Sampai  kelak  Mas Abim  kembali, janji Rukmini sambil mendekap foto suaminya.
 
“Tok---tok...tok!”  Suara ketukan pintu mengejutkan Rukmini. Buru-buru diletakkannya surat dan selembar foto di meja rias. Rukmini memandangi dirinya di balik cermin.
      “Mbak Ni...udah siap?”
      “Ya, ya sebentar lagi. Tungguin...”
 
Hari ini mereka berniat belanja ke swalayan. Belanja kebutuhan Lebaran. Lebaran tanpa terasa tinggal beberapa hari  lagi. Padahal mereka belum belanja untuk kebutuhan menyambut hari kemenangan itu. Belum membeli sarung untuk Bapak, mertua lelaki dan saudara lelaki. Belum membeli  mukena untuk ibu, mertua dan saudara perempauannya. Lalu baju dan kue untuk keponakan.
 
Ah, sebenarnya  Rukmini malas untuk ke luar rumah. Tapi daripada di rumah bengong melulu, lebih baik bepergian. Apalagi waktu melahirkan sudah dekat. Kata bidan Yuni, yang sering memeriksa kehamilannya: dia harus membiasakan  jalan-jalan untuk memudahkan proses melahirkan. Agar persalinannya kelak lancar.
 
                                                         *********
Rukmini sibuk menata kado Lebaran untuk keluarganya. Laras pun sibuk membungkusinya. Lebaran ini mereka akan pulang ke Jepara.
Daripada Lebaran di tangsi tentara, sunyi tanpa saudara kerabat, lebih baik Rukmini mudik. Rukmini teringat Lebaran tahun lalu , ketika untuk  pertama kalinya dia merayakannya bersama suaminya. Setelah sungkem pada ibu, bapak dan  keluarga besarnya di Jepara, mereka berdua terbang ke Jakarta. Ke mertua dan keluarga Mas Abimanyu di kota Metropolitan  itu.
 
Tapi tahun ini? Rukmini sudah membayangkan, dia akan berlebaran tahun ini tanpa kehadiran suaminya. Tak mungkin Mas Abimanyu meninggalkan tugas di Papua, dan pulang untuk berlebaran bersamanya.... Karena  letih, Rukmini tertidur di sofa. Laras masih sibuk membungkus kado-kado mungil untuk keponakanya yang jumlahnya  lumayan banyak,  sementara TV di depannya masih menyala. Iklan. Lagi-lagi iklan. Laras memijit remote. Ketika sebuah televisi swasta menayangkan sebuah headline  news...
 
“Beberapa prajurit  TNI yang sedang mengadakan patroli di daerah perbatasan  Indonesia-Papua Papua Nugini mengalami kecelakan. Jembatan gantung yang mereka lewati runtuh. Musibah pun terjadi akibat jembatan putus ini.Seorang  prajurit bernama  Abimanyu Anjasmara Perdana, berpangkat letnan satu  menjadi korban. Dia tewas....”
 
Abimanyu  Anjasmara Perdana? Apakah ada prajurit bernama sama dan sedang tugas di Papua pula?  Hati  Laras terhentak. “Kak Abim...”  Laras gugup dan panik membangunkan Rukmini. Duhai, demi Tuhan...mengapa Rukmini tak jua bangun?
 
“Mbak Nik, Mbak Nik, bangun! Bangun!  Kak Abim...”  Laras menangis.
Rukmini  tersenyum dalam tidurnya. Dia tengah bermimpi indah. Bersama mas Abimanyu bercanda di sebuah taman bunga nan mempesona. Saling berkejaran. Ketika suaminya  tiba-tiba menghilang di antara  semerbak bunga-bunga.
 
Mas Abim!?  Mas Abim sembunyi di mana?”
Rukmini terus mencarinya, sambil menangis.
“Mas Abim, di mana kau Mas?! Mas Abim....!!
 
 Kota Ukir, Januari 2009- Juni 2012  
 
Penulis: Kartika Catur Pelita
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)

 
Penulis lahir di Jepara, 11 Januari  1970. Menulis fiksi dan non fiksi. Cernak pernah dimuat di Yunior, Suara Merdeka. Cerpen dimuat di Suara Pembaruan, Annida online, Satelit Pos, dan Kartini. Karya terpilih dalam antologi cerpen JOGLO 11 “Tatapan Mata Boneka (Taman Budaya Jawa Tengah, 2011), JOGLO 12 “Tahun-tahun Penjara (TBJT, 2012), “Membunuh Impian” 15 cerpen Inspirasi Annida Online 2011, antologi puisi “Sepotong Rusuk Untukmu” (Samudra). Novel PERJAKA (AKOER, 2011).

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini