Share

UI-Kemenhub Cegah Human Error Penerbangan

Margaret Puspitarini, Okezone · Kamis 06 September 2012 13:49 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 06 373 686011 h7pExwvJXJ.jpg Ilustrasi: pilot. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Beragam peristiwa kecelakaan pesawat yang kerap kali terjadi di Tanah Air tidak jarang disebabkan oleh human error. Bahkan, kejadian yang menimpa pesawat militer maupun komersil tersebut terkadang karena ketidaksiapan kesehatan fisik dan mental penerbang.

Untuk itu, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI), TNI AU, dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghelat program perkuliahan yang menggeluti secara spesifik kedokteran penerbangan. Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran (SpKP) ini telah berlangsung selama dua tahun dan berkampus di FK UI Salemba dan Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Luar Angkasa (Lakespra) di MT Haryono, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Lantas, apa saja yang dipelajari oleh para mahasiswa SpKP? Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan Indonesia (Perdospi) Soemardoko mengungkap, masih sangat minim pengetahuan penerbang terhadap kondisi kesehatan mereka, terutama dengan adanya perbedaan lingkungan darat dan udara.

"Misalkan, apakah pilot penderita diabetes tipe dua boleh terbang? Tentu harus dikonsultasikan. Mereka tetap boleh terbang namun dengan batasan tertentu," ujar Soemardoko dalam sambutannya ketika pelantikan pengurus Perdospi di Balai Kesehatan Penerbangan, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (6/9/2012).

Menurut Soemardoko, terdapat empat aspek utama yang dipelajari pada prodi SpKP. Pertama, mempelajari lingkungan tempat para penerbang bekerja, yakni hangar dan airport. "Dengan mempelajari lingkungan kita dapat mengetahui pengaruhnya terhadap tubuh dan bagaimana mengantisipasinya," tuturnya.

Kemudian, lanjut Soemardoko, aspek yang dipelajari adalah pengaruh fisiologi terhadap keseimbangan tubuh. "Di darat dua bidang sementara udara tiga bidang. Jadi bagaimana penerbang harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda dengan biasanya. Terutama untuk militer yang kerap melakukan aerobotik di udara dan dapat menjaga keseimbangannya," katanya menjelaskan.

Ketiga, ujar Soemardoko, aspek percepatan yang nantinya akan mengerucut pada G-force. Terakhir, self impulse stress. "Masalah yang gampang tapi susah diterapi adalah kebiasaan merokok kemudian pola makan. Biasanya penerbang, terbang dalam jangka waktu lama akan merasa lapar. Jika tidak dibekali makanan yang sehat, akan terjadi overweight," ungkap Soemardoko.

Maka, lanjutnya, kita harus menggali banyak aspek dari kehidupan penerbang. "Bagaimana mendisiplinkan diri penerbang sehingga bisa melaksanakan tugasnya dengan baik," imbuhnya.

Butuh enam semester untuk mempelajari dasar-dasar ilmu kedokteran penerbangan. "Mengambil spesialisasi ini membuat kita harus mengambil keputusan dengan cepat. Dengan SpKP kita mempunyai kompetensi untuk melakukan intervensi medis," papar Soemardoko.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini