Panggil Antasari, DPR Dinilai Tak Sabar Tunggu Penyidikan KPK

Angkasa Yudhistira, Okezone · Kamis 13 September 2012 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 13 339 689049 rJkUpvG4RX.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Pengamat Politik Charta Politica, Yunarto Wijaya menilai dibukanya kembali kasus Bank Century oleh DPR lantaran para anggota dewan tersebut tak sabar dengan penyidikan yang tengah dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Yunarto mengatakan permasalahan yang terjadi dalam kasus Century memiliki dua proses. "Kasus Century ini berdasar pada dua proses, yang pertama proses hukum oleh KPK. Tunggu dari proses yang sedang dilakukan KPK dalam pengungkapan kasus tersebut," ungkpanya saat dihubungi Okezone, Rabu (12/9/2012).

 

Selain itu, sambung Yunarto, kasus Century juga menarik ke dalam proses politik dimana tokoh utamanya adalah para anggota DPR. "Nah, dalam proses politik ini menjadi buntu pada proses pernyataan pendapat dan terjadi tawar menawar untuk kepentingan apapun itu, terutama saat hak angket," sambungnya.

 

Yunarto menilai, sebenarnya masyarakat lebih percaya dengan penyidikan yang dilakukan oleh KPK dibanding apa yang dilakukan oleh para wakilnya di DPR. "Masyarakat itu sebetulnya lebih percaya dengan kinerja KPK, tetapi DPR selalu memiliki kepentingan tersendiri," jelasnya.

 

Lebih lanjut, Yunarto mengatakan bahwa terlalu banyak kepentingan dalam kasus yang menelan Rp6,7 triliun tersebut. "Permasalah proses politik ini abu-abu. Sangat banyak bukan hanya menyangkut pada Pilpres 2014, banyak yang terkait dalam kasus Century," pungkasnya.

 

Sebelumnya, Mantan Ketua KPK Antasari Azhar diundang oleh Tim Pengawas (Timwas) Century ke DPR pada Rabu, 12 September 2012. Dalam kesempatan itu Antasari menegaskan bahwa dalam rapat di Istana Negara pada 9 Oktober 2008 lalu, tidak ada pembahasan yang menyebut Bank Century apalagi tentang kebijakan bailout.

 

Dia menyesalkan, banyak kalangan yang hanya melontarkan komentar-komentar di media, tanpa mengetahui apa yang disampaikannya saat ini. "Saya melihat bahwa kenapa sebelum komentar disampaikan tidak diteliti dulu apa yang saya sampaikan secara utuh," sambungnya.

(sus)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini