Reksa Dana, Investasi Tepat untuk Kawula Muda

Margaret Puspitarini, Okezone · Kamis 13 September 2012 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 13 373 689255 9PzaPYzXJF.jpg Ilustrasi : Corbis

JAKARTA - Kawula muda harus mulai mengubah pola pikir mereka jika menginginkan masa depan yang lebih baik dari segi finansial. Mereka harus menanamkan pola pikir berinvestasi, bukan lagi sekadar menabung.

Demikian disampaikan Marketing Director PT Ciptadana Asset Management (CAM) Paula Rianty Komarudin selepas seminar dan workshop "Mahasiswa Lebih Menahami Tentang Pentingnya Investasi" di Universitas Pelita Harapan (UPH), belum lama ini. "Kita harus mengubah kebiasaan menabung menjadi berinvestasi karena eranya sudah berubah," ujar Paula kepada Okezone.

Menurut Paula, pilihan investasi tepat bagi generasi muda adalah reksa dana saham maupun campuran. Untuk mulai berinvestasi, lanjutnya, tidak harus dimulai dalam jumlah yang besar. "Misalnya setiap tanggal 20 kita tetapkan untuk membeli reksa dana. Rp100 ribu saja, nanti akan terasa hasilnya. Dari Rp100 ribu yang disisihkan itu mereka akan merasakan manfaatnya, sehingga akan tertanam jika investasi itu baik," ungkapnya.

Dia mengimbuh, untuk berinvestasi, mahasiswa tidak harus menunggu ketika lulus kuliah. "Everyday is a good day. Karena kita tidak pernah tahu kondisi market besok seperti apa. Jadi tidak perlu menunggu lulus kuliah, berinvestasi saja dari sekarang secara rutin dan berkelanjutan," tutur Paula.

Paula menyatakan, jika generasi muda ingin mencoba investasi lain, seperti pasar modal, akan jauh lebih sulit. Kesulitan ini, lanjutnya, karena ada sejumlah hal yang harus dipenuhi ketika memutuskan berinvestasi di dunia pasar modal yang sulit dijangkau oleh mahasiswa.

"Sedikitnya ada tiga hal yang harus dikuasai dan dimiliki ketika ingin bermain saham. Pertama modal, kedua waktu, dan ketiga pengetahuan. Untuk modal dibutuhkan dalam jumlah besar. Tidak cukup hanya Rp100 ribu," imbuhnya.

Terkait waktu, lanjut Paula, mahasiswa tidak memiliki waktu yang cukup untuk menganalisa berbagai saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI). "Waktu mereka tidak didedikasikan untuk memelototi berbagai saham di BEI yang memiliki potensi untuk naik," tandasnya.

Sementara tentang pengetahuan, katanya, mahasiswa kurang memiliki pengetahuan di bidang tersebut. Terutama mereka yang memang tidak bergelut di dunia tersebut. "Jika investasi dalam bentuk reksa dana, ada tenaga profesional, yakni Manajer Investasi (MI) yang memang bertugas 100 persen mengamati portofolio," tutur Paula.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini