Share

Atasi Angin Topan Antarkan ITS Raih Juara di Korea

Margaret Puspitarini, Okezone · Senin 17 September 2012 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 17 373 690835 LBW8CC7bKM.jpg Ilustrasi : Corbis

JAKARTA - Lagi, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menorehkan prestasi di kancah internasional. Kali ini, dua mahasiswa Jurusan Teknik Informatika berhasil meraih juara dua e-Learning International Contest of Outstanding New ages (e-ICON) World Contest di Incheon dan Seoul, Korea.  

Adalah Raden Aditya Brahmana dan Maranu Toto Negoro. Mahasiswa angkatan 2011 ini telah berjuang selama seminggu di Korea sejak Minggu 9 September lalu bersama 20 tim lain dengan total 96 peserta dari 11 negara.

 

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Seleksi awal e-ICON dilakukan dari proposal yang mereka kirimkan pada awal Agustus. Dinyatakan lolos, Pemerintah Korea membiayai semua akomodasi mereka menuju venue perlombaan. ''Dulu kita cuma iseng cari lomba di internet, lalu ikut saja,'' ujar Maranu, seperti dilansir dari ITS Online, Senin (17/9/2012).

 

Uniknya, dalam lomba ini, mereka hanya diberi waktu selama tiga hari untuk membuat program pembelajaran dengan media e-learning. Beruntung, mereka telah mempersiapkan konsep ide yang akan digunakan sejak masih di Indonesia. ''Sehingga di sana kami bisa mengerjakannya langsung,'' kata Adit menerangkan.

 

Ide e-learning yang mengantarkan mereka menjadi jawara adalah tentang pembelajaran iklim dan cuaca. Usut punya usut, mereka berdua sengaja memilih tema tersebut lantaran terjadi bencana alam typhoon alias angin topan sekitar seminggu sebelum lomba dihelat. Maka mereka memasukkan tips dalam menghadapi typhoon. Bahkan edukasi tentang cara mengetahui arah datangnya typhoon pun mereka masukkan dalam program.

 

Berbagi pengalaman selama perlombaan pada mahasiswa baru, Maranu mengatakan kekompakan tim menjadi kunci sukses utama. Pasalnya, dalam perlombaan tersebut mereka didampingi oleh dua mahasiswa Korea sehingga mereka harus memahami perbedaan budaya yang ada. ''Di sana, kita benar-benar melakukan kolaborasi internasional,'' paparnya.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini