Pasang-Surut Santri Ponpes Ngruki Pascabom Bali

Bramantyo, Okezone · Selasa 18 September 2012 12:08 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 18 345 691415 o3uY8Sakx2.jpg (Foto: Okezone/Bramantyo)

SUKOHARJO - Serangkaian aksi teror bom yang terjadi di Indonesia sejak 2002, berdampak pada jumlah para santri di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Muhammad Ali Usman, alumni Ponpes Al Mukmin, mengatakan, penurunan jumlah santri sangat dirasakan pada 2003 hingga 2005 atau pascaledakan Bom Bali I dan II.

“Hampir tiga tahun, jumlah santri di ponpes mengalami penurunan,” kata pria lulusan Ponpes Al Mukmin tahun 1981 itu.

Upaya untuk memulihkan nama ponpes pun dilakukan pihak pengasuh dan alumni. Maklum, aktor utama bom Bali merupakan alumni Ponpes Al Mukmin

Pada 2006, ponpes menggelar reuni akbar. Istimewanya, panitia saat itu mengundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Saya mengadakan reuni dengan mengundang Presiden SBY, tapi waktu itu SBY tidak datang ke Ngruki dan mengutus menterinya untuk datang,” jelasnya.

Reuni mengundang pejabat dari Pemerintah Pusat itu memang efektif. Sejak itu, jumlah santri yang menimba ilmu di Ponpes Al Mukmin kembali normal.

Lebih jauh Ali menerangkan, pengkaitan Ponpes Al Mukmin dengan terorisme tidak lepas dari upaya perlawanan para pendiri ponpes terhadap pemerintah, seperti ditunjukkan Abdullah Sungkar.

Abdullah Sungkar dikenal vokal menentang pemberlakuan Pancasila sebagai dasar negara yang untuk mengatur kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Saat itu, Indonesia dipimpin Soeharto. Mengetahui sikap Abdullah Sungkar itu, pemerintahan Soeharto geram.

“Abdullah Sungkar saat itu tidak sependapat kalau Pancasila di atas segala-galannya. Apa yang diyakini Abdullah Sungkar tidak bisa diterima Soeharto,” paparnya.

Sejak itu, aktivitas Ponpes Al Mukmin selalu dipantau. Stigma garis keras semakin diarahkan ke ponpes. Terlebih, saat ponpes kedatangan tokoh Negara Islam Indonesia (NII), Kartosuwiryo.

“Padahal menginapnya hanya tiga hari saja, tapi dituduh melakukan yang bukan-bukan. Mulai dari konsolidasi perlawanan terhadap pemerintahan dan lainnya. Sampai akhirnya Abdullah Sungkar lari ke Malaysia karena dikejar-kejar aparat,” tutur Ali.

Sementara itu, peran Abubakar Baasyir hanya sebatas pengajar. Ali bahkan heran Baasyir selalu dikaitkan dengan aksi teroris. Padahal, Baasyir dan Abdullah Sungkar berbeda pendapat. Keduannya sempat bersitegang. Tidak hanya itu, Baasyir menolak masuk ke Jamaah Islamiyah (JI) yang didirikan Abdullah Sungkar.

Menyangkut informasi yang menyebut ada bungker di Ponpes Al Mukmin, Ali secara tegas membantah. Menurut Ali, isu adanya bunker sengaja diembuskan pihak-pihak yang sengaja bertujuan untuk mendeskriditkan ponpes.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini