Share

Perdalam Social Tehcnopreneur, ITS Undang Pakar dari AS

Margaret Puspitarini, Okezone · Selasa 18 September 2012 17:38 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 18 373 691645 JuPAh81kDy.jpg Ilustrasi : ist.

JAKARTA - Menjadi seorang wirausaha ternyata tidak melulu hanya berorientasi pada keuntungan. Selain mencari keuntungan dari usaha, seorang wirausaha juga konsen terhadap masalah pengembangan masyarakat. Pemahaman inilah yang dianut oleh seorang social tehcnopreneur.  

Mengajak mahasiswa lebih memahami social tehcnopreneur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pun menggelar seminar mengenai hal tersebut. Tidak tanggung-tanggung, ITS pun menggandeng Konsulat Jendral (Konjen) AS dan menghadirkan seorang pakar social tehcnopreneur asal AS Adnan Mahmud sebagai pembicara.

 

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Adnan mengungkapkan, pada intinya social tehcnopreneur merupakan konsep kewirausahaan yang berbasis pada kesejahteraan masyarakat. ''Tidak ada definisi yang tetap untuk konsep ini. Apabila usaha yang dilakukan punya tujuan mulia untuk mengembangkan masyarakat, maka itulah social technopreneur," ujar Adnan, seperti disitat dari ITS Online, Selasa (18/9/2012).

 

Pria asal Seatlle AS tersebut mengungkapkan, konsep kewirausahaan ini merupakan konsep yang sulit untuk diajarkan. Menurut Adnan, tidak banyak pengusaha yang memiliki niatan tulus untuk memajukan masyarakat dalam setiap programnya. ''Kalian harus sedikit gila untuk mau melaksanakan konsep ini,'' tuturnya.

 

Namun, pendiri sebuah organisasi amal Jolkona Foundation tersebut meyakini, konsep social technopreneur bisa diterapkan di Indonesia. Dia menyatakan, masyarakat Indonesia memiliki rasa kemanuasiaan yang tinggi terhadap sesama.

 

Dia membandingkan, di beberapa negara lain, konsep kewirausahaan ini sulit diterapkan karena tingginya sikap individualis masyarakatnya. ''Di negara saya (Amerika) banyak yang meragukan konsep ini,'' papar Adnan.

 

Konsep ini, lanjut Adnan, akan sangat bermanfaat bagi masyarakat luas. Bila setiap mahasiswa melakukan satu langkah kecil dalam bidang social technopreneur ini, maka kehidupan masyarakat Indonesia akan sejahtera sepenuhnya. ''Saya percaya Indonesia akan membutuhkan pemimpin seperti kalian. Bukan sekarang, bukan satu tahun lagi. Tapi, 20 tahun mendatang,'' papar pria lulusan University of Southern California tersebut.

 

Inisiator kuliah tamu tersebut Lantip Trisunarmo menyebutkan, mahasiswa ITS sebenarnya sudah menjalankan konsep social technopreneur sejak beberapa waktu yang lalu. ''Kita boleh menyebut program ITS Bangun Desa sebagai sebuah social technopreneur,'' ungkap Lantip.

 

Lantip juga berpesan agar mahasiswa ITS bersungguh-sungguh dalam menbangun kesejahteraan masyarakat. Dia menyebutkan, mahasiswa ITS tidak boleh kalah dalam memberikan sumbangsih malalui ilmunya. ''Kalau Institut Teknologi Bandung (ITB) punya Goris Mustakim yang berhasil menbangun desanya di Garut, Jawa Barat, maka ITS juga harus punya mahasiswa seperti itu,'' selorohnya.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini