Kubus Unik dari UPH

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 19 September 2012 12:09 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 19 372 692000 Rzr7TC2qiT.jpg Modular Living Gadget karya lima mahasiswa UPH. (Foto: dok. UPH)

JAKARTA - Biasanya, kebutuhan furnitur di kamar terdiri dari tempat tidur, meja belajar, lemari baju, dan rak buku. Namun di tangan lima desainer muda dari Universitas Pelita Harapan (UPH) ini, kebutuhan furnitur tersebut dapat disatukan dalam sebuah kubus unik.

Christina Indraningsih, Marina Tjandra, Jeanne Junita Pertiwi, Angela Johanna Sudarma, dan Stephanie, membuat kubus unik yang menampung fasilitas tempat tidur, meja belajar, rak buku, hingga meja makan. Kubus unik yang dinamai Modular Living Gadget itu pun menyedot perhatian para pengunjung pameran Desain.ID 2012 beberapa waktu lalu.

Christina memaparkan, ide mereka awalnya berupa konsep kecil yang dapat memenuhi kebutuhan dasar seseorang seperti makan, istirahat, dan bekerja. "Kami kemudian mulai mencetuskan ide tentang "gadget" yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut," kata Christina, seperti dilansir laman UPH, Rabu (19/9/2012). 

Mahasiswi angkatan 2010 ini menjelaskan, material yang mereka gunakan untuk Modular Living Gadget bersifat ramah lingkungan dan dapat didaur ulang, misalnya kayu. Kelimanya pun lebih memilih elemen kayu ketimbang baja. Untuk pencahayaan, tim Christina menggunakan LED untuk menghemat energi listrik, dan karena penggunaannya yang lebih simpel. Hasilnya, dalam sebulan mereka dapat merampungkan prototipe Modular Living Gadget dan menarik perhatian banyak orang.

"Banyak pengunjung bertanya apakah hasil kerja kami ini dijual. Ada juga yang tertarik menggunakan living gadget untuk kebutuhan di asrama," Christina mengimbuh.

Pembimbing kelimanya, Elaine Steffany bertutur, Modular Living Gadget dapat dirancang ulang sesuai kebutuhan masing-masing individu. "Meski telah menjadi sebuah kesatuan (compact), kita bisa menambahkan berbagai fitur untuk memenuhi kebutuhan dasar seseorang. Jadi ini masih bisa didesain secara kreatif, tergantung fungsi yang dibutuhkan," kata Elaine.

Marina mengaku, meski menyenangkan menggarap Modular Living Gadget bersama-sama, awalnya mereka ragu akan hasil kerja mereka. Tetapi, motivasi dan dukungan dari para dosen pembimbing melecutkan semangat mereka untuk menyelesaikan karya tersebut.

"Ketika hasil kerja kami selesai, ternyata ia mempengaruhi banyak orang. Tadinya kami pikir desain ini hanya akan mempengaruhi sekelompok orang seperti para desainer," ujar Marina.

Anggita tim lainnya juga mengaku mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru. Terutama, pengalaman tentang bekerja sama di dalam tim tempat mereka saling berbagi ide.

Menurut Elaine, dengan mengerjakan proyek ini, para mahasiswa dapat mempraktikkan langsung ilmu yang mereka dapatkan di kelas. Uniknya, mereka pun berperan langsung sebagai desainer dalam proyek ini, sehingga pekerjaan tersebut terasa lebih nyata. Sehingga, dari awal pengerjaan proyek, pihak kampus menekankan bahwa proyek ini adalah sesuatu yang serius dan tidak main-main. Bahkan, para mahasiswa yang terlibat akan disebut sebagai desainer, entah proyeknya berhasil ataupun gagal.

"Proyek ini digarap senyata mungkin, karena kami ingin memberi tahu orang banyak bahwa yang membuat gadget ini adalah desainer asli yang membawa sesuatu yang baru," imbuhnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini