Share

Indonesia Butuh Pendidikan Khusus Bangunan

Margaret Puspitarini, Okezone · Kamis 20 September 2012 09:08 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 19 373 692314 ElJgUlOqVn.jpg Ilustrasi : Corbis

JAKARTA - Mengingat Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap bencana gempa bumi, maka diperlukan pendidikan khusus di bidang teknologi bangunan, terutama beton. Namun sayangnya, perhatian terhadap peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran di bidang teknologi bangunan, khususnya beton, masih jarang dilakukan.

Maka, belum lama ini Fakultas Teknik (FT) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, menghelat "Seminar on Syllabus of Courses Implementation: Supporting Infrastructure Development in Cost-Competitive and Sustainable Manner of Future Concrete Construction in Indonesia". Pada kesempatan tersebut, Dosen Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan (JUTAP) Yoyok Wahyu Subroto menyebut, pengajaran di bidang teknologi bangunan tersebut diperlukan karena adanya tuntutan dari para pelaku di bidang konstruksi bangunan sangat tinggi.

Tuntutan tersebut, lanjutnya, terkait dengan metode dalam menjamin mutu desain dan model pemeliharaan konstruksi beton yang rusak akibat bencana atau umur bangunan. “Pengajaran tentang teknologi beton masih minim diajarkan sehingga perlu ditingkatkan,” kata Yoyok, seperti disitat dari situs UGM, Kamis (20/9/2012)

Pria yang juga koordinator acara tersebut pun berharap, kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan dengan program lanjutan guna menjamin kontinuitas peningkatan mutu substansi keilmuan konstruksi beton di Indonesia, mengingat tantangan yang ada sangat besar. “Apalagi jika melihat Indonesia sebagai negara yang cukup rawan dengan bencana alam seperti gempa,” imbuhnya.

Harapan tersebut disambut baik oleh pihak Concrete Society Netherlands yang diwakili oleh Peter Hoes. Hoes berjanji akan mengusulkan program lanjut bantuan tersebut kepada Pemerintah Kerajaan Belanda sebagai pendonor utama program kerjasama yang telah berlangsung secara terus-menerus selama enam tahun terakhir. “Kami akan usulkan agar program ini bisa dilanjutkan,” ujar Hoes.

Program kerjasama yang dimulai sejak 2006 sesaat setelah terjadi gempa bumi di Yogyakarta ini telah memberikan banyak kontribusi. Hal ini terlihat dalam peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran di bidang konstruksi beton khususnya pada program strata satu.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini