Share

Unair Miliki 407 Profesor

Jum'at 21 September 2012 09:44 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 21 373 693039 zB7E4Jwwzq.jpg Ilustrasi: ist.

SURABAYA - Jumlah guru besar (gubes) di Universitas Airlangga (Unair) bertambah lagi. Kali ini tiga dosen senior dinobatkan menjadi guru besar ke-405, 406, dan 407. Mereka adalah Gubes Ilmu Kedokteran Farmakologi Prof. Dr. H Achmad Basori, Drs. Apt. MS.; Gubes Ilmu Fisiologi Reproduksi pada Fakultas Kedokteran Hewan Prof. Dr. Pudji Srianto, MKes. drh. Gubes ketiga adalah Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS. Apt.

Pada upacara pengukuhan Sabtu besok, Prof. Achmad Basori akan membawakan orasi ilmiah bertajuk "Aspek Chirality di Dalam Farmakologi Suatu Tantangan Farmakoterapi di Masa Depan". Basori akan menjelaskan tentang efek terapi suatu obat. Menurutnya, ada empat fase yang harus dilalui, yakni farmasetik, farmakokinetik, farmakodinamik dan farmakoterapi. Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi berbagai fase tersebut adalah chirality.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Dia menyebut, di AS, obat yang diizinkan beredar adalah yang yang mengandung senyawa chiral 60-80 persen. "Jadi chirality ini mempengaruhi proses absorpsi, distribusi, metabolisme, eliminasi obat, dan interaksi obat dengan reseptor di dalam tubuh," terangnya.

Sementara itu, Prof. Pudji Srianto yang menjadi gubes ke-406 mengambil orasi ilmiah "Mengelola Aktivitas Seksual Pospartum Menuju Tercapainya Swasembada Sapi Perah di Indonesia". Pudji menjelaskan tentang pentingnya para peternak untuk mendeteksi saat-saat penting birahi sapi. Ini diperlukan untuk bisa memperoleh keturunan sapi yang bagus. "Jika tidak tahu kapan waktunya birahi, nanti juga akan mempengaruhi produksi susunya," terangnya.

Menurut dia, beberapa tanda klinis sapi betina birahi antara lain terdapatnya kemerahan pada mukosa vulva. Selain itu sapi sering berteriak, menguak (bengok-bengok), keinginan untuk menaiki. Juga keluarnya lendir dari vulva yang berasal dari mukosa serviks. Saat gejala klinis sapi sudah seperti itu, maka inseminator (tukang suntik) segera melakukan tugasnya. Ini akan membuat angka kebuntingan menjadi tinggi.

"Sekira 90 persen bisa jadi, kalau sampai betina pas keluar jlembret-nya," terang Pudji.

Saat ini konsumsi sapi di Indonesia sangat tinggi. Tak hanya diambil dagingnya, namun juga susu. Dan saat ini, pemerintah sedang mencanangkan tahun 2019 sebagai swasembada sapi perah. Itu bisa tercapai jika bisa mempertahankan kesuburan ternak dengan jaminan semua aktivitas biologis kelamin postpartum berjalan sesuai jadwal. Serta ditunjang dengan penggunaan teknik reproduksi dan rekording yang tertib.

Sedangkan Prof. Mangestuti Agil yang menjadi gubes ke-407 mengambil tema orasi ilmiah "Pendekatan Etnomedisin Peran Wanita Dalam Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indonesia". Mangestuti menyoroti tentang pentingnya penggunaan ramuan obat tradisional Indonesia untuk pengobatan dan menjaga kesehatan tubuh, terutama untuk kaum perempuan.

Dari penelitian yang sudah dilakukannya mulai dari Keraton Yogyakarta, Surakarta dan Sumenep, ditemukan bahwa jamu tradisional ternyata memberikan kesehatan terutama untuk kaum perempuan. "Biasanya yang harus diperhatikan mulai masa puber," terangnya.

Perempuan mengonsumsi jamu biasanya menjelang kehamilan, kelahiran dan pasca kelahiran, masa menopause, dan pasca menopause. Mereka akan terlihat sehat. Ramuan-ramuan ini, ternyata secara turun-temurun bisa menjaga pertumbuhan dan kesehatan kaum hawa. "Dan saya yakin, karena ini warisan turun temurun, maka terus dipakai karena bermanfaat. Kalau tidak bermanfaat, pasti akan ditinggalkan," tukas perempuan kelahiran Jakarta, 22 April 1950 ini.

Dia menilai, jamu-jamu tradisional yang beredar di nusantara memiliki khasiat yang luar biasa. Karena bisa bermanfaat untuk kesehatan, perempuan sangat dianjurkan mengonsumsi jamu tradisional supaya bisa lebih sehat. (arief ardliyanto/koran si)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini