Share

Pemerintah Belum Berani Panggil Peneliti RI di Luar Negeri

Wahyudi Siregar, Okezone · Senin 24 September 2012 18:19 WIB
https: img.okezone.com content 2012 09 24 373 694448 yknR6YazN4.jpg Image: Corbis

MEDAN – Menteri Negara Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengaku kesulitan memaksimalkan upaya pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) di sektor industri pengolahan karena minimnya tenaga peneliti yang memiliki kompetensi tinggi. Ironisnya, meski pemerintah mengaku memiliki dana untuk memberikan insentif pada peneliti Indonesia yang kini berkarya di luar negeri, namun terkendala dengan sarana dan prasarana pendukung penelitian yang masih sangat minim.

"Para peneliti kita yang ada di luar negeri sudah dipanggil. Ternyata mereka masih berkomitmen dengan kita. Namun kami belum berani meminta mereka pulang kampung, karena kami harus sediakan sarana dan prasarana dahulu. Kalau soal insentif kami sudah siapkan," kata Gusti saat berkunjung ke Medan, Senin (24/9/2012).

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Gusti mengungkap, saat ini pemerintah telah memiliki Pusat Unggulan Iptek di Sumut, yang diberi nama Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS). Fungsi dan kinerja PPKS itu dititikberatkan pada penelitian terapan (applied research) dan pengembangan tetap dilakukan untuk menopang penelitian terapan. Namun harus diakui jika tenaga peneliti yang ada belum memadai untuk memberikan hasil yang maksimal.

"Kan harus ada transfer teknologi. Peneliti kita di sana tentunya memiliki sudut pandang dan ide-ide segar yang bisa diterapkan. Saya yakin kalau nantinya mereka kembali, banyak yang bisa kita hasilkan. Dan harapan untuk menjadi negara yang diperhitungankan dari sisi teknologi pun bukan lagi mimpi kita di siang bolong," imbuhnya.

Tingginya kebutuhan akan peneliti yang memiliki kompetensi tinggi juga diakui oleh Direktur PPKS Witjaksana Darmosarkoro. Dia mengungkap, saat ini PPKS didukung oleh 59 peneliti dengan kualifikasi S-3 sebanyak 15 peneliti, S-2 sebanyak 17 peneliti dan S-1 sebanyak 27 peneliti. Jumlah ini tentunya belum mencukupi kebutuhan, apalagi lima di antara peneliti tersebut akan segera memasuki masa pensiun.

Witjaksana berujar, peneliti bukanlah profesi yang digeluti banyak orang. Di samping membutuhkan pengetahuan yang tinggi, diperlukan pula kreativitas dan inovasi yang tinggi. Dan biasanya, hal ini hanya bisa dilakoni oleh peneliti-peneliti senior yang sudah berumur, sementara peneliti muda Indonesia lebih mau berkarya di luar negeri.

"Kalau keberadaan pusat penelitian ini mau ditambah, mau tidak mau peneliti-peneliti kita di luar sana harus diminta komitmennya untuk kembali ke dalam negeri. Pemerintah pun harus memberikan kompensasi yang layak bagi mereka," tandasnya.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini