Share

Dikti Adopsi Pendidikan Karakter UMI

Selasa 02 Oktober 2012 08:46 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 02 373 697785 wvnP1Mb3Qo.jpg Ilustrasi: ist.

MAKASSAR - Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Masrurah Mokhtar mengaku, sistem pendidikan karakter yang dikembangkan kampus swasta terbesar di Kawasan Timur Indonesia (KTI) tersebut sudah dilirik oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Hal tersebut disampaikan Masrorah saat memberikan sambutan dalam seminar nasional Pembangunan Karakter Bangsa kerjasama antara MPR RI-UMI di Hotel Swiss Bel Inn Makassar, kemarin. Dalam acara yang dibuka Wakil Ketua MPR Farhan Hamid menghadirkan beberapa pemateri seperti, Akbar Faisal (Hanura), Rahadi Zakaria, SH (PDI P), Ketua BAN/Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI Prof. Mansyur Ramly, Rektor UMI Prof. Dr. Hj. Masrurah Mochtar, Guru besar di bidang Hukum/Dosen PPs UMI Prof. Dr. Hambali Thalib SH. MH., dan Wakil Rektor IV UIN Alauddin Prof. Dr. Kamaruddin Amin.

Masrurah menjelaskan, keseriusan Dikti mengadopsi pendidikan karakter berbasis pesantren yang dikembangkan UMI, karena dinilai sistem tersebut mampu membentuk karakter mahasiswa yang sosial dan religius. UMI sudah mengimplementasikan pendidikan karakter sejak tahun 2000 atau 12 tahun lalu. Adapun metode yang dilakukan dengan pesantren kilat dan pencerahan kalbu selama satu bulan penuh. Karena itu, pihak UMI atas permintaan Dikti sudah melakukan penyusunan buku mengenai kurikulum pendidikan karakter yang dimaksud, dengan melibatkan Wakil Rektor V Arfah Sidiq dan Pimpinan Pesantren Padang Lampe UMI Irwanto sebagai penyusunnya.

"Setiap tahun kami menerima 4.700 mahasiswa baru. Kalaupun ada yang tawuran satu atau dua orang yang kemudian terekam media, itu oknum," ungkapnya.

Sementara itu, Farhan Hamid mengungkap, Indonesia adalah negara yang besar dan majemuk yang memiliki kekayaan materil dan immateril. Karena itu Indonesia memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan visi ideal Indonesia masa depan yang dibangun oleh semangat mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera. Dalam mewujudkan visi tersebut, katanya, negara dihadapkan pada tantangan keadaan dan perubahan meliputi pemantapan persatuan bangsa dan kesatuan negara, sistem hukum yang adil, sistem politik yang demokratis, sistem ekonomi yang adil dan produktif, sistem sosial budaya yang beradab, sumber daya manusia yang bermutu, dan globalisasi.

"Tantangan kebangsaan itulah yang harus dihadapi dengan karakter bangsa yang optimistis, semangat nasionalisme yang besar serta konsistensi dari seluruh komponen bangsa dalam setiap proses dinamikanya," pungkasnya. (herni amir/koran si)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini