Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ingin Tubuh Ideal? Kontrol Kalori!

SINDO , Jurnalis-Jum'at, 05 Oktober 2012 |15:34 WIB
Ingin Tubuh Ideal? Kontrol Kalori!
Jaga pola makan (Foto: Corbis)
A
A
A

BANYAK orang, terutama wanita, yang salah kaprah dalam menjalankan program diet. Untuk mendapatkan berat ideal, bukan dengan cara mengurangi asupan makanan, tetapi dengan mengontrol kebutuhan kalori harian.
 
Semua orang, baik wanita maupun pria, tentu mendambakan tubuh yang bugar dengan berat badan ideal. Berbagai cara pun dilakukan, baik yang sesuai dengan petunjuk dokter maupun dengan cara instan atau singkat dengan mengurangi asupan makanan. Paradigma yang kemudian muncul adalah semakin sedikit makanan yang masuk, maka angka keberhasilan memperoleh berat badan ideal itu semakin besar.

Pendapat ini tentu saja tidak sepenuhnya benar. Salah satu langkah yang benar dan banyak disarankan para ahli nutrisi adalah dengan mengontrol porsi kalori pada makanan yang dikonsumsi. Harap diingat, belum tentu makanan dengan porsi yang lebih kecil memiliki kalori yang kecil juga. Selain itu, menghindari kalori dengan sama sekali tidak mengonsumsinya, juga tidak sarankan. Itu karena mengganggu metabolisme dalam tubuh.
 
“Kalori yang dimasukkan dalam tubuh harus seimbang agar metabolisme tubuh tidak terganggu. Oleh karena itu, untuk mendapatkan berat badan ideal, seseorang harus mengerti terlebih dahulu, berapa kalori harian yang diperlukan oleh tubuhnya,” kata ahli gizi klinis dr Ida Gunawan MS SpGK saat acara workshop “Oops Calories Meter” di By the Beach, eX Plaza, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Ida, kebutuhan kalori setiap orang berbeda-beda, bergantung pada jenis kelamin, tinggi badan, aktivitas harian, dan usia. Bagi Anda yang berusia 40 tahun ke atas, penghitungan kebutuhan kalori dikurangi 5-20% bergantung usianya.
 
”Ini karena usia seperti itu, metabolisme tubuh akan mengalami perlambatan,” tuturnya.
 
Dia menuturkan, untuk mengetahui berapa jumlah kebutuhan kalori Anda setiap harinya, dapat diketahui dari rumus sederhana. Pertama, temukan berat ideal Anda dengan mengurangi tinggi badan dengan 100 dan mengalikannya dengan 0,9. Lalu, hitung kebutuhan kalori basal dengan cara mengalikan berat badan ideal dengan 25 kkal untuk wanita dan 30 kkal untuk pria. Setelah didapatkan hasilnya.
 
Ida menyebutkan, tambahkan dengan persentase kegiatan setiap harinya,apakah ringan, sedang, atau berat. Aktivitas ringan, tambahkan dengan 10-20%, misalnya menyetir mobil, membaca, berjalan atau kerja kantoran. Kalau aktivitas sedang, misalnya bekerja rumah tangga atau berkebun, tambahkan 20-30%.
 
Untuk aktivitas berat, semisal aerobik, dansa, panjat tebing, atau seorang atlet, tambahkan sebanyak 40-50%. ”Semakin berat aktivitasnya, maka asupan kalori yang dibutuhkan juga semakin besar,” sebutnya.

Dan terakhir, kurangi dengan faktor koreksi usia sekitar 5-20% untuk Anda yang berumur 40 tahun ke atas. Setelah mengetahui kebutuhan kalori per hari, total yang diperoleh tersebut kemudian harus dibagi dalam tiga kali waktu makan besar dan 2-3 kali snack. Dia menegaskan, jangan sekalipun melewatkan satu kali waktu makan, termasuk snacking. Jika itu dilakukan, maka Anda akan berpotensi mengalami over calories intake (kelebihan asupan kalori) yang bisa jadi menyebabkan kegemukan.

“Tubuh itu memiliki jamnya sendiri. Dua jam setelah makan besar, gula darah akan berada di titik maksimal dan kemudian turun. Saat turun inilah, tubuh merasa lapar.Bila rasa ini diabaikan, maka gula darah akan semakin turun dan cenderung menyantap makanan dalam jumlah banyak pada waktu makan berikutnya,” ujar Ida.

Untuk dapat memenuhi semua waktu makan, tanpa menjadi gemuk, Anda harus membagi kebutuhan kalori harian dalam 5-6 waktu makan tersebut. Sarapan dan makan malam memiliki jatah masingmasing 20% total kalori sehari, sedangkan makan siang 30%. Sementara, 3 kali snack masing-masing 10% total kalori. Ida menyatakan, menepati jam makan adalah hal yang penting. Bila merasa kelewatan, imbangi dengan beraktivitas atau berolahraga.

Makan snack, menurut dia, juga amat diperlukan bagi tubuh. Melewatkan snacking, maka akan meningkatkan gula darah sehingga lebih mudah mengantuk dan tubuh akan mudah gemuk. ”Namun, perlu diperhatikan karena secara psikologis bersifat susah berhenti,” katanya.
 
Contoh snacking yang menyehatkan, lanjut Ida, adalah dengan mengonsumsi agar-agar atau jelly ditambah dengan buah-buahan. Hindari pemakaian gula atau vla saat mengonsumsi agar-agar atau jelly tersebut. Dalam rangka mengatasi kesulitan masyarakat dalam mengetahui kalori yang ada di setiap makanan, OT Group meluncurkan produk barunya, yaitu Oops 100 Kalori.
 
“Oops 100 Kalori diciptakan untuk membantu konsumen mengontrol kalori, terutama saat waktu snacking,” kata Yuna Eka Kristina, Public Relations Manager OT Group.


Yuna menuturkan, banyaknya produk snack yang beredar sekarang ini, baik itu buatan rumah maupun kemasan yang sajiannya kecil ternyata memiliki takaran kalori yang cukup tinggi. Oleh karena itu, banyak orang yang berpindah dan memilih snack yang memiliki rendah kalori dengan rasa yang kurang enak dan mengonsumsinya dengan takaran sedikit.

(Tuty Ocktaviany)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement