Kampung Gedong

Dede Suryana, Okezone · Jum'at 05 Oktober 2012 16:32 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 05 504 699770 5LgUPTaaXV.jpg Kampung Gedong (Foto: Istimewa)

Kampung Gedong merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Kramatjati, Kotamadya Jakarta Timur. Kenapa dikenal dengan Kampung Gedong?

Syahdan, istlah Kampung Gedong diambil dari sebuah gedung peristirahatan milik tuan tanah partikelir Tanjoeng Oost (Tanjung Timur) dengan halamannya yang sangat luas. Oleh pemiliknya tempat itu diberi nama Goeneveld, yang berarti lapangan hijau.

Dari gedung tersebut sampai tempat yang sekarang menjadi perempatan Pasar Rebo, Jalan Raya Bogor, terbentang jalan yang dahulu kanan kirinya ditanam pohon asam menambah keasrian pemandangan sekitarnya.

Tuan tanah pertama dari kawasan itu adalah Pieter van de Velde asal Amersfoort, yang pada pertengahan abad ke-18 berhasil memupuk kekayaan berkat berbagai kedudukannya yang selalu menguntungkan. Setelah peristiwa pemberontakan China pada tahun 1740, dia berhasil mengusai tanah-tanah Kapten Ni Hu-Kong, yang terletak di selatan Meester Cornelis—kini Jatinegara—sebelah timur Sungai Ciliwung.

Tanah-tanah lain yang ada di sekelilingnya juga pada tahun 1750-an, maka terbentuklah Tanah Partikelir Tanjoeng Oost. Di situ dia membangun gedung tersebut.

Pemilik kedua gedung peristirahatan itu adalah Adrian Jubels. Setelah dia meninggal pada tahun 1763, Tanah tanjung Oost dibeli oleh Jacobus Johannes Craan, yang terkenal dengan seleranya yang tinggi. Pemilik baru itu mendandani gedung peristirahatan dengan dekorasi berlanggam Lodewijk XV. Setelah Craan meninggal, Tanjoeng Oost dibeli oleh menantunya Willem Vincent Helvetius van Riemsdjik, putra Gubernur Jendral Jeremies van Riemsdjik pada 1775-1777.  

Sampai pecahnya Perang Dunia Kedua, gedung Groeneveld dikuasai turun- temurun oleh para ahli warisnya, keturunan Vincent Helvetius van Riemsdjik.

 

Willem Vincent Helvetius sendiri sejak muda sudah menduduki jabatan yang menguntungkan, antara lain pada usia 17 tahun sudah menjabat sebagai administrator Pulau Onrust, jabatan yang menjadi incaran banyak orang, karena konon sangat “basah” banyak memberi kesempatan untuk memupuk kekayaan.

 

Kedudukan ayahnya sebagai gubernur Jenderal dimanfaatkan dengan sangat baik, sehingga kekayaannya makin berkembang. Pada tahun sembilanpuluhan abad ke-18, tanah-tanah miliknya tersebar antara lain di Tanahabang, Cibinong, Cimanggis, Ciampea, Cibungbulan, Sadeng, dan dengan sendirinya Tandkoeng Oost atau Tanjung Timur.

 

Tanjung Timur mengalami perkembangan yang sangat pesat pada waktu dikuasai oleh Daniel Cornelius Helvetius, yang berusaha menggalakkan pertanian dan peternakan. Setelah ia meninggal pada tahun 1860, Groeneveld menjadi milik putrinya yang bernama, Dina Cornelia, yang menikah dengan Tjalling Ament, asal Kota Dokkum, Belanda Utara.

 

Ament melanjutkan usaha mertuanya, meningkatkan usaha pertanian dan peternakan. Pada pertengahan abad ke-19, di kawasan TanjungTimur dipelihara lebih dari 6000 ekor sapi. Produksi susunya sangat terkenal di Batavia.

 

Sampai tahun 1942 Groeneveld secara turun-temurun dihuni keturunan Van Riemsdjik, dan kawasan itu sampai sekarang disebut Kampung Gedong.

 

Diolah dari berbagai sumber

(ded)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini