Share

Sebelum Ngajar, Sofia Jadi Loper Koran & Cleaning Service

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Selasa 09 Oktober 2012 16:04 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 09 417 701375 ATL71lHlRb.jpg Rektor Universitas Bakrie Sofia Alisjahbana. (Foto: Rifa Nadia/Okezone)

JAKARTA – Tekad kuat Sofia Alisjahbana melanjutkan studi di Amerika Serikat membuatnya mantap meninggalkan kuliah magister yang baru dijalaninya satu semester di National University of Singapore (NUS). Berbekal tunjangan dari orangtua selama satu semester, Sofia pun menginjakkan kaki di Negara Paman Sam, dan mulai merintis kariernya sebagai pengajar.

Sofia lulus dari Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1986. Alumnus ITB angkatan ’81 ini menyelesaikan kuliahnya selama 4,5 tahun, masa studi yang tergolong cepat pada waktu itu. Dari sekira 150 mahasiswa seangkatannya, hanya Sofia dan tiga rekannya yang mampu lulus dalam masa kurang dari lima tahun. "Biasanya teknik itu lama, minimal enam tahun," kata Sofia kepada Okezone, belum lama ini.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Lulus dari ITB, Sofia sempat kuliah di NUS selama satu semester dengan beasiswa. Tapi cita-cita Sofia yang sebenarnya adalah melanjutkan kuliah di Amerika Serikat (AS). "Sebab, rasanya ada kebanggaan tersendiri jika bisa menempuh studi di sana, terlebih lagi zaman saya dulu," kenang Sofia.

Sofia bercerita, begitu kuatnya keinginan belajar di Negeri Paman Sam, Sofia sampai nekat "menodong" kedua orangtuanya. Waktu itu, kata Sofia, dia meminta ke orangtuanya untuk memberikan biaya hidup dan kuliah selama satu semester saja. "Kemudian, setelah satu semester, saya akan mencari biaya kuliah sendiri melalui beasiswa dan bekerja untuk mendapatkan biaya hidup," ujarnya mantap.

Ibu dua anak ini pun pontang-panting mencari pekerjaan untuk menyokong hidupnya. Dia menjalani profesi sebagai loper koran dan cleaning service di perumahan. Sofia mengenang, kedua pekerjaan itu sebenarnya cukup berat, tapi dijalaninya dengan riang. Contohnya, sebagai loper koran, Sofia harus mengantarkan koran ke pelanggannya di 100 rute perjalanan. Menurut Sofia, kerja ini terasa sangat berat ketika akhir pekan ketika koran-koran di sana lebih tebal dari edisi harian.

"Begitu mengetahui pekerjaan saya, orangtua saya sempat menyuruh saya berhenti. Mereka bilang, biar mereka kirimi uang saja. Tetapi saya bersikukuh untuk tetap melanjutkan pekerjaan itu, karena buat saya, itu menyenangkan," imbuhnya.

Kenekatan Sofia lainnya diperlihatkan pada semester keduanya di Department of Engineering Mechanics, University of Wisconsin, Amerika Serikat. Ketika itu, berbekal nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang sempurna, yakni 4.00, Sofia melamar untuk posisi teaching assistant atau asisten dosen (asdos). Menjadi asdos di almamater barunya tidaklah mudah, terlebih bagi mahasiswa asing seperti dirinya. Namun, kepercayaan diri Sofia membuatnya mampu menaklukkan kepala departemen tempatnya belajar.

"Saya ingat, waktu itu profesor  saya bilang, 'Oh, kamu adalah wanita muda dari Indonesia dengan tulisan tangan yang rapi,'" ujarnya seraya tertawa kecil.

Jabatan asdos pun diraihnya. Bahkan, dia juga dikontrak hingga dua tahun melalui teaching assistant grant. Padahal, biasanya di setiap akhir semester, kinerja setiap asdos harus ditinjau sebelum kontraknya dilanjutkan. Kejutan lainnya adalah, Sofia ternyata diberi tanggung jawab mengampu kelas seorang diri, tanpa pendampingan dosen. "Saya pegang laboratorium yang mata kuliahnya belum pernah saya pelajari di ITB," kenangnya.

Berstatus masih mahasiswa semester dua di negeri asing, Sofia pun kelimpungan memenuhi kewajibannya sebagai asdos. Ditambah lagi mengingat kemampuan bahasa Inggrisnya yang belum mumpuni untuk mengajar. Tak ayal, dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk belajar lebih dahulu dan lebih banyak dari mahasiswanya. Sofia pun mempelajari manual semua alat yang ada di laboratorium dan belajar langsung dari para teknisi laboratorium.

"Saat itu saya pikir, ini adalah kesempatan saya untuk membuktikan diri. Saya enggak boleh gagal. Bagaimana nasib saya nanti kalau gagal?" tutur penyuka badminton ini.

Sofia juga harus beradaptasi dengan karakteristik mahasiswanya yang sangat beragam. Selain berasal dari berbagai latar belakang budaya, secara umum, kebudayaan di ruang kelas kampus-kampus Barat pun menuntut perhatian lebih. Salah satunya, kata Sofia, adalah ketidakseganan para mahasiswa memprotes para dosen jika ada hal-hal yang tidak mereka setujui.

Latar belakang budaya sebagai orang Asia dirasa Sofia juga memengaruhi gaya mengajarnya di sana. Sebab, imbuhnya, kebanyakan dosen Barat sangat ketat dalam manajemen waktu. Jika jam belajar sudah habis, maka mereka juga menyudahi pelajarannya.

"Berbeda dengan saya, jika jam mata kuliah sudah habis, tapi masih ada yang ingin bertanya dan berdiskusi, maka saya masih bisa dan mau melayani mereka  sampai tuntas semua pertanyaan," tuturnya.

Tidak heran, kerja keras dan tekad kuat Sofia pun terbayar manis. Dia diberi predikat asdos favorit oleh para mahasiswanya.

Tadinya, Sofia hanya ingin menamatkan studi magisternya di AS. Tapi, motivasi kuat dan inspirasi dari dosen pembimbingnya pun menambatkan hati Sofia untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral. Di titik inilah cikal bakal kiprah Sofia sebagai pendidik di Tanah Air tertera. (Bersambung)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini