Share

Sofia Terpaksa Pulang ke Tanah Air karena Dibelikan Tiket

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 10 Oktober 2012 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 09 417 701506 3wWGqWbUk0.jpg Rektor Universitas Bakrie Sofia Alisjahbana. (Foto: Rifa Nadia/Okezone)

JAKARTA – Awalnya Sofia Alisjahbana hanya ingin menamatkan pendidikan magisternya di Amerika Serikat (AS). Tetapi dorongan dan inspirasi sang dosen pembimbing memantapkan hati Sofia meraih gelar doktor di Negara Paman Sam tersebut.  

Sang profesor ini pulalah yang menjadi inspirasinya dalam mengajar. Secara teknis, Sofia mendapat berbagai pelatihan dari kampusnya, University of Wisconsin, Madison, AS, untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya. Tetapi, Sofia belajar tentang kebijaksanaan sebagai dosen dari sang profesor.

 

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

“Saya mendapat advisor yang sangat baik. Dia mendorong saya untuk meneruskan kuliah hingga meraih gelar PhD di sana dan bekerja dengannya. Profesor ini jugalah yang menginspirasi saya dalam mengajar di kelas,” tutur Sofia kepada Okezone, belum lama ini.

 

Ketika itu, sebagai mahasiswa S-3, Sofia mengangkat disertasi tentang benda angkasa. Disertasinya yang berjudul “Rotating Annular Plate Response to Arbitary Moving Load” membahas dinamika benda angkasa seperti roket dan satelit. Beruntung, Sofia mendapatkan bimbingan dari profesor yang juga merupakan staf badan antariksa nasional AS, NASA. Sebenarnya, keinginan bekerja di NASA juga tertanam kuat di benak Sofia. Namun, status kewarganegaraan memupuskan impiannya itu.

 

“Profesor saya menenangkan kegundahan saya. Dia bertanya, apa yang saya inginkan dari pendidikan saya? Jika nantinya saya kembali ke Tanah Air, maka dia menyarankan agar saya membuat penelitian yang dapat saya aplikasikan di Indonesia. Saya pun menuruti nasihatnya,” imbuh Sofia.

 

Bimbingan sang profesor dan pengalamannya bekerja sebagai teaching assistant atau asisten dosen (asdos) di berbagai mata kuliah menempa kemampuannya dalam mengajar dan mendidik, begitu pula kemampuan Sofia dalam berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Bekal inilah yang menjadi pegangannya ketika memulai karier pendidiknya di Indonesia.

 

Ibu dua anak ini mengenang, kepulangannya ke Tanah Air merupakan paksaan sang ayah. Setelah lulus menjadi doktor pada akhir 1992, Sofia sebenarnya belum memikirkan kemungkinan pulang kampung. Terlebih, ketika itu Sofia masih belum memiliki pendamping, belum ada yang “mengharuskannya” pulang.

 

Tetapi, kedua orangtua Sofia gigih memaksanya pulang. Ketika itu sang ayah, yang merupakan nasionalis sejati, berkata betapa Indonesia masih membutuhkan orang-orang seperti Sofia. Sejak kecil, Sofia memang diajarkan tentang betapa pentingnya nasionalisme dan pentingnya berkorban demi negara.

 

 “Bahkan begitu seriusnya mereka menyuruh saya pulang ke Tanah Air, ayah dan ibu sampai membelikan tiket pulang untuk saya. Ayah bilang, kalau selama enam bulan saya enggak betah, saya boleh kembali ke AS,” kenangnya.

 

Namun, nasionalisme yang ditanamkan sang ayah pulalah yang membuat Sofia tergerak untuk berbuat banyak bagi Indonesia. Padahal, dengan gelar doktor di tangan, peluang Sofia bekerja di luar negeri juga terbuka sangat lebar.

 

Ternyata, jalan hidup Sofia sekembalinya dari AS juga telah ditentukan Sang Pencipta. Januari 1993, dia bertemu dengan Rian Alisjahbana, temannya ketika sekolah dasar dahulu. Tidak butuh waktu lama, keduanya pun sepakat menikah di tahun itu juga, tepatnya bulan Oktober.  Sang suami, juga berasal dari keluarga pendidik. Rian putra dari Profesor Iskandar Alisjahbana, mantan rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), cucu dari Sutan Takdir Alisjahbana.

 

“Saya tidak pernah menyesali kepulangan saya kembali di Indonesia,” ujar Sofia seraya tersenyum.

 

Sofia sebenarnya diterima untuk mengajar di ITB. Tetapi, rasa enggan muncul mengingat dia harus hidup terpisah dengan sang suami jika menerima tawaran tersebut. Sofia pun batal menjadi dosen ITB. Dia kemudian bergabung dengan Universitas Tarumanagara (Untar) dan merintis program pascasarjana Teknik Sipil di kampus tersebut. Bagi Sofia, mengabdi untuk bangsa tidak terbatas pada institusi tertentu saja.

 

Alumnus ITB angkatan ’81 ini mengaku kesulitan beradaptasi dengan dunia pendidikan di Tanah Air. Di Amerika, Sofia terbiasa dengan kemudahan pada akses mendapat informasi dan literature, serta pada fasilitas laboratorium yang lengkap. Tetapi komitmen yang kuat membuat Sofia mampu menangani masalah tersebut.

 

Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) ini pun membesarkan program pascasarjana yang dirintisnya di Untar. Terakhir, Sofia pun menjabat sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik di kampus tersebut. Di kampus ini pulalah Sofia meraih gelar guru besar sebelum usia 40 tahun, sebuah gelar yang diraihnya sebagai jawaban atas tantangan sang suami. (Bersambung)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini