Share

Jadi Rektor di Tengah Dominasi Pria Tak Buat Sofia Ciut

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 10 Oktober 2012 09:05 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 09 417 701540 y73ZPW7XXE.jpg Rektor Universitas Bakrie Sofia Alisjahbana. (Foto: Rifa Nadia/Okezone)

JAKARTA – Menjadi pemimpin sebuah institusi pendidikan besar sekelas Universitas Bakrie tidak membuat nyali Sofia Alisjahbana menciut. Terlebih lagi di tengah dominasi patriarkal dalam dunia pendidikan Tanah Air.

 

Bagi pemegang gelar doktor dari University of Wisconsin, Amerika Serikat (AS) ini, perasaan (emosi) memang seringkali menjadi titik lemah wanita ketika memimpin sesuatu, terlebih dalam pengambilan keputusan. Akibatnya, stereotip kurang tegas pun disematkan kepada banyak perempuan yang memegang tampuk pimpinan.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

 

“Tapi sifat kewanitaan juga bisa menjadi kekuatan dalam memecahkan suatu masalah dengan pendekatan personal. Pada beberapa masalah yang sangat kompleks, strategi ini bisa membantu,” tutur Sofia ketika berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

 

Kiprah Sofia dalam dunia yang didominasi laki-laki tidaklah dimulai kemarin sore. Ketika menempuh studi S-1 di Institut Teknologi Bandung (ITB), dia mengambil jurusan Teknik Sipil. Bahkan, Sofia membuktikan, dia bisa masuk ke dalam kelomppok orang yang lulus cepat di angkatannya.

 

“Saya lulus dalam masa 4,5 tahun dengan tiga teman lain. Itu sudah sangat cepat, mengingat pada masa saya kuliah, mahasiswa teknik minimal butuh enam tahun untuk lulus,” imbuhnya.

 

Lulus dari ITB, Sofia melanjutkan studi S-2 di University of Wisconsin, Amerika Serikat (AS). Pada semester kedua, Sofia, yang merupakan mahasiswa asing di kampus tersebut, ditunjuk menjadi asisten dosen (asdos) selama dua tahun penuh. “Ketika itu, saya juga harus bisa mengelas dan menyolder berbagai peralatan di laboratorium sendiri,” kenangnya.

 

Sekarang, setelah puluhan tahun berkecimpung di dunia pendidikan, Ibunda Irine dan Tiana ini melihat, saat ini kecenderungan pendidikan di Tanah Air justru sulit menemukan tenaga pendidik laki-laki, khususnya dosen. Menurut Sofia, bisa jadi gaji sebagai pendidik masih belum mencukupi untuk dibawa pulang seorang kepala keluarga. Beda halnya jika seseorang bekerja di sektor industri.

 

“Hal ini bisa menjadi pertimbangan sendiri mengapa seseorang tidak menjadi pendidik. Tetapi, sebenarnya sekarang pemerintah pun sudah memperhatikan kesejahteraan guru dan dosen melalui tunjangan sertifikasi,” paparnya.

 

Kiprah Sofia sebagai pendidik tidak akan berjalan lancar jika tidak didukung oleh keluarga. Beruntung, dia lahir dari keluarga pendidik. Sang ayah merupakan guru besar emeritus dan mantan rektor Institut Teknologi Bandung (ITB). Sementara, keluarga suami pun merupakan keluarga pendidik. Meski demikian, Sofia selalu meluangkan waktu untuk memperhatikan pertumbuhan, perkembangan, dan pendidikan kedua putrinya, Irine dan Tiana.

 

Sofia bercerita, momen makan malam selalu diusahakan agar semua anggota keluarga hadir. Kemudian, pada akhir minggu, seluruh anggota keluarga pun larut dalam aktivitas berolahraga bersama. Sofia sendiri menyenangi badminton sebagai pilihan olahraganya.

 

“Sebagai rektor, kadang memang saya harus meluangkan waktu untuk membuka acara atau berbagai pekerjaan tambahan lainnya. Tapi jika masih bisa saya delegasikan ke orang lain, pasti saya lakukan karena Sabtu dan Minggu adalah hari untuk mendapatkan waktu yang berkualitas bersama keluarga saya,” ujar Sofia. (Tamat)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini