Share

Penyebab Indeks Pendidikan Indonesia Jeblok

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 24 Oktober 2012 11:37 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 24 373 708492 hthASGtlUe.jpg Sekolah disegel. (Foto : Okezone)

JAKARTA - Pada kelompok usia sekolah, sedikitnya setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tidak dapat melanjutkan pendidikan. Tingginya jumlah anak putus sekolah ini juga turut menjadi faktor rendahnya Education Development Index (EDI) Indonesia, yakni peringkat ke-69 dari 127 negara.

Menurut Staf Ahli Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Prof. Dr. Kacung Marijan, mencari masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia akan sangat mudah, mengingat kompleksnya persoalan di Tanah Air. Selain angka putus sekolah, pendidikan di Indonesia juga menghadapi berbagai masalah lain, mulai dari buruknya infrastruktur hingga kurangnya mutu guru. 

Meski begitu, ujar Kacung, beragam masalah pendidikan ini bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga butuh partisipasi pihak swasta dan masyarakat.  

"Tiga komponen ini harus bersama-sama memajukan pendidikan. Dalam sejarah pendidikan Indonesia, yang banyak terlibat justru komunitas (masyarakat), baru kemudian swasta dan pemerintah," kata Kacung, dalam saat Peresmian Gerakan Indonesia Berkibar (GIB), di Financial Club, Grha Niaga, Jakarta Selatan, Rabu (24/10/2012.  

Kacung mengimbuh, urusan pendidikan merupakan perhatian bersama, maka Kemendikbud pun menyambut baik semua program pengembangan pendidikan.

Menurut Ketua Umum Komite Gerakan Indonesia Berkibar (GIB) Shafiq Pontoh, pendidikan Indonesia tidak akan maju jika semua pihak tidak bergandengan tangan bersama-sama.

"Semua orang bisa berkontribusi apa pun dalam gerakan ini, sesuai dengan latar belakang dan kompetensi masing-masing," kata Shafiq.

Melalui kerjasama pemerintah dan swasta, ujar Shafiq, gerakan ini dirancang untuk memperbaiki kualitas guru dan sistem pembelajaran di Indonesia melalui program peningkatan profesionalisme guru, program kepemimpinan dan manajemen sekolah, program tata kelola sekolah, dan program lanjutan.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini