Share

Jangan Bandingkan Pendidikan Indonesia dengan Brunai

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Rabu 24 Oktober 2012 16:55 WIB
https: img.okezone.com content 2012 10 24 373 708722 0ipC04MYmm.jpg Ilustrasi: anak-anak usia wajib belajar. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Rendahnya Education Development Index (EDI) Indonesia, yakni peringkat ke-69 dari 127 negara, salah satunya disebabkan oleh tingginya angka putus sekolah. Pada kelompok usia sekolah, sedikitnya setengah juta anak usia sekolah dasar (SD) dan 200 ribu anak usia sekolah menengah pertama (SMP) tidak dapat melanjutkan pendidikan.

Menurut Guru Besar Universitas Pendidikan Jakarta (UNJ) Prof. Soedijarto, pemerintah belum menunjukkan perhatian yang sungguh-sungguh pada pendidikan Tanah Air. Buktinya, angka putus sekolah dan banyaknya anak usia sekolah di jalan masih cukup tinggi.

"Coba lihat anak-anak jalanan, mana ada yang memberi perhatian pada mereka? Apakah pemerintah ada mencari tahu siapa orangtua anak jalanan itu dan memasukkan mereka ke sekolah? Kalau di Jerman, orangtua yang ketahuan tidak memasukkan anaknya ke sekolah bisa dipenjara. Di negara lain, hukumannya mungkin berbeda, misalnya didenda," ujar Soedijarto ketika berbincang dengan Okezone.

Namun, pendapat ini disanggah Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. Dr. Kacung Marijan. Menurut Kacung, fenomena putus sekolah tidak menunjukkan ketidakpedulian pemerintah. Bahkan, kebanyakan anak yang putus sekolah itu berhenti belajar karena keinginan sendiri, atau atas keputusan orangtuanya.

"Kalau sudah karena keinginan mereka sendiri, lalu bagaimana? Pemahaman masyarakat sendiri tentang pentingnya bersekolah harus dibangun," ujar Kacung kepada Okezone di Financial Club, Grha Niaga, Jakarta Selatan, Rabu (24/10/2012).

Kacung menekankan, partisipasi semua pihak dalam mengampanyekan pentingnya pendidikan sangat krusial. Dengan begitu, angka putus sekolah pun dapat bersama-sama ditekan.

"Lagipula, setengah juta murid putus sekolah dari sekira 30 juta siswa SD secara keseluruhan, hitungannya tidak terlalu besar. Jangan bandingkan dengan Brunei Darussalam yang penduduknya saja hanya ratusan ribu jiwa," imbuhnya.

Seperti diketahui, data terakhir badan PBB yang membawahi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan (UNESCO) tentang indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) menunjukkan, Indonesia berada di posisi ke-69 dari 127 negara. Indeks yang dikeluarkan pada 2011 ini jauh menurun dari tahun sebelumnya, dan lebih rendah dibandingkan Brunei Darussalam (34), serta terpaut empat peringkat dari Malaysia (65).

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini