Share

Pakar Gempa Bahas Status Sesar Lembang & Tektonik Indonesia

Iman Herdiana, Okezone · Rabu 07 November 2012 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2012 11 07 373 714854 RGquQkNBSL.jpg Image: corbis

BANDUNG - Indonesia dibentuk oleh tiga lempeng utama dunia, yakni Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, serta Lempeng Eurasia. Konvergensi antara ketiga lempeng ini membentuk kepulauan Indonesia, membentuk jajaran gunung api aktif, zona gempa bumi, tsunami serta patahan gempa aktif yang aktivitasnya menimbulkan berbagai bencana gempa.

Pulau Jawa termasuk pulau yang memiliki sesar yang berpotensi menimbulkan gempa bumi. Di Jawa Barat sendiri, tepatnya di daerah Bandung, ada dua sesar gempa, yakni Sesar Lembang dan Sesar Cimandiri.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Nah, khusus Sesar Lembang, selalu menjadi perhatian para pakar gempa. Saat ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membahas khusus aktivitas Sesar Lembang lewat diskusi "Status Sesar Lembang dan Tektonik Indonesia Kini."

Diskusi yang dimulai pukul 10.00 WIB ini digelar Ruang Pange, lantai 2, Gedung 70, LIPI, Jalan Sangkuriang, Bandung. Para pakar yang hadir di antaranya Dr. Ir. Munasri, M.Sc (moderator), ahli dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Dr. Danny Hilman Natawijaya,  Dr. Ir. Adang Bachtiar (Exploration Think Tank Indonesia) PT Geologist Delta Andalan, Dr. Awang Harun Satyana (Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi/BP Migas), Dr. Eko Yulianto (Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI), Dr. Irwan Meilano (Teknik Geodesi Fakultas Ilmu Teknologi Kebumian ITB), dan lain-lain.

"Tema ini bisa berarti Sesar Lembang dan pengaruhnya terhadap tektonik di Indonesia. Atau membahas Sesar Lembang dan potensi gempa tektonik di Indonesia," kata Munasri, saat membuka diskusi, Rabu (7/11/2012).

Status Sesar Lembang, kata dia, maksudnya keadaan atau informasi Sesar Lembang saat ini.  Pada 28 Agustus 2012 lalu, terjadi gempa 3 SR di Cisarua, Lembang. Gempa ini menimbulkan spekulasi bahwa Sesar Lembang sebagai patahan gempa aktif.

Diskusi digelar juga terkait dengan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana. "Jika kita siap menghadapi Sesar Lembang, maka akan siap menghadapi gempa-gempa lainnya," katanya.

Dalam diskusi itu juga diungkapkan, Sesar Lembang ada sepanjang 30 km ke arah utara Cekungan Bandung (pusat Kota Bandung). Bentuknya perbukitan memanjang berarah barat-timur jika dilihat dari latar depan selatan Gunung Tangkubanparahu.

Sesar Lembang memiliki panjang 22 km, yang pertama diperkenalkan Van Bemmelen pada 1934. Hingga kini, satus sesar lembang masih menjadi perbincangan. Misalnya pada 1968 Sesar Lembang disebut Sesar geser manganan (right lateral). Namun Natawidjaja dan Setyowidarto (2002) belum dapat menyebutkan pergerakan sesar ini. Maka disebutkan, diskusi ini juga terkait dengan mitigasi dan resiko pengurangan bencana.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini