Share

Kreativitas di Indonesia Belum Dihargai

Margaret Puspitarini, Okezone · Rabu 07 November 2012 18:27 WIB
https: img.okezone.com content 2012 11 07 373 715163 4RKhQwqaLU.jpg Foto : Margaret Puspitarini/Okezone.com

JAKARTA - Penghargaan atas Hak Kekayaan Intelektual (Haki) merupakan sebuah sikap yang wajib dimiliki oleh setiap individu. Namun. Pada kenyataannya, penghargaan masyarakat Indonesia terhadap Intellectual Property (IP) masih sangat minim.

Pada diksusi bertajuk IP for The Betterment of Indonesia besutan Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) salah satu pembicara, yakni Direktur Kerjasama dan Promosi Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (DJHKI) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Timbul Sinaga menyebutkan, salah satu penyebab minimnya penghargaan terhadap Haki adalah IP culture yang terbentuk pada masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

"IP culture kita belum menghargai kreativitas orang lain, terutama di bidang hak cipta. Contoh di bidang musik. Ada musisi menciptakan lagu baru dan satu minggu kemudian sudah dipakai oleh orang lain. Dan si pengguna malah merasa bangga," ujar Timbul di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Rabu (7/11/2012).

Timbul menilai, tingkat inovasi pada sebuah negara memang akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Semakin tinggi inovasi di negara tersebut maka, pertumbuhan ekonomi negara itu pun semakin pesat.

"Korea dan China memiliki tingkat permohonan Haki yang tinggi khususnya dalam pengajuan hak paten. Sementara di Indonesia hanya 700-800 dari penduduk sekira 240 juta. Tidak heran jika Indonesia disebut sebagai negara pengguna teknologi bukan negara inovator (Eropa dan AS) atau negara pengikut teknologi (China)," tuturnya.

Maka, lanjutnya, masyarakat Indonesia harus terus berinovasi dan berkreativitas. Namun, tentunya harus didukung dengan penghargaan atas hasil kreativitas tersebut.

"Kreativitas tanpa penghargaan dan dampak ekonomi akan mati. Orang tidak mau lagi melakukan inovasi jika tidak ada penghargaan maupun tidak ada dampak ekonomi atas karya itu," pungkas Timbul.

Menurut Timbul, untuk menggalakkan penghargaan terhadap HKI, perlu keterlibatan dari berbagai pihak. Tidak hanya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) tetapi juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), serta pihak industri.

"Dari satu kementerian tidak. Cukup. Harus ada dukungan dari berbagai pihak/instansi terkait. Culture IP Indonesia sangat lemah maka harus dibangun sejak dini sehingga 10-20 tahun ke depan, pengajuan dan permohonan atas hak paten akan meningkat," imbuhnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini