Share

BlooBis, Cara ITS Efektifkan Distribusi Darah

Margaret Puspitarini, Okezone · Selasa 20 November 2012 11:09 WIB
https: img.okezone.com content 2012 11 19 372 720329 WRjfthmOZ3.jpg Ilustrasi: donor darah. (Foto: Heru Haryono/Okezone)

JAKARTA - Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Maka, berkaca dari pengalaman, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Ika Nurkasanah pun berinovasi di bidang kesehatan, yakni donor darah. Bersama dua rekannya, Ika membuat aplikasi Blood Bank Information System (BlooBIS).

Selama satu tahun, Ika, Izzat Aulia Akbar, dan Benedictus Arya Binarsatya bekerja keras merampungkan sebuah sistem yang memudahkan orang untuk mengetahui segala informasi mengenai donor darah. Pengalaman masa kecil Ika serta hasil survei di lapangan menjadi latar belakang munculnya ide kreatif tersebut.

Saat kecil, salah satu anggota keluarga Ika ada yang sangat membutuhkan darah. Namun, tidak ada stok darah yang tersedia di Unit Transfusi Darah (UTD) daerah Mojokerto. Ternyata, pengalaman tersebut juga terjadi di berbagai daerah ketika Ika dan kawan-kawan melakukan survei.

"Kami memulainya dengan melakukan survei terlebih dahulu ke UTD untuk mengetahui tentang alur pendistribusian dan pemesanan darah. Kami mengumpulkan data tentang golongan darah, rhesus, komponen darah, jumlah kantong yang diminta, dan lain sebagainya," tutur Izzat, seperti dilansir ITS Online, Selasa (20/11/2012).

Ketika survei, terlihat proses distribusi darah masih sangat kurang memadai. Rumah sakit yang merawat pasien harus menghubungi satu per satu UTD untuk ketersediaan stok darah sehingga membuang banyak waktu dan tenaga. Sementara di waktu yang sama pasien sangat membutuhkan darah sesegera mungkin.

Maka, tim yang menamakan diri RedBlood itu berinisiatif untuk menciptakan aplikasi untuk membantu proses distribusi darah yang efektif. Secara sistematika kerja, aplikasi ini tidak begitu sulit dan relatif mudah digunakan. "Para pegawai UTD sangat mengapresiasi adanya aplikasi ini, tidak hanya bermanfaat, tetapi juga tidak berbelit bagi mereka" ungkapnya.

Izzat menyebutkan, cara kerja aplikasi cukup sederhana. Di awali dengan dokter yang menangani pasien login pada akun yang disediakan. Setelah itu dokter juga bertanggung jawab untuk memasukkan data darah yang diperlukan oleh pasien ini. "Data tersebut dikirim ke aplikasi, setelah itu aplikasi akan mencarikan data darah ke seluruh UTD di Indonesia. Barulah aplikasi akan mencari UTD yang terdekat secara otomatis," jelasnya.

Selanjutnya, UTD terdekat tersebut akan mendapatkan notifikasi adanya permintaan darah dari rumah sakit. Petugas UTD berhak melakukan penolakan ataupun penerimaan terhadap permintaan itu. "Jika ditolak, aplikasi akan mencari UTD terdekat kedua. Kalau diterima, sistem akan menampilkan kantong mana yang akan dikirim," lanjut Izzat.

Kemudian, tambahnya, UTD terkait akan mengirimkan darah ke rumah sakit yang bersangkutan. Jika darah sudah diterima, maka rumah sakit harus melakukan konfirmasi ke dalam aplikasi. "Konfirmasi ini bertujuan agar dapat diketahui tidak ada masalah ketika pengiriman darah," paparnya.

BlooBis juga dilengkapi login untuk pendonor darah. Bagi pendonor, akan muncul data seperti berapa kali telah mendonor dan anjuran waktu untuk donor darah selanjutnya. "Jika belum waktunya, pendonor tidak akan diperbolehkan oleh UTD," imbuhnya.

Aplikasi ini dapat membantu pemerintah untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang paling sering mendonorkan darahnya. Karena aplikasi ini akan merangking seluruh masyarakat Indonesia yang donor darah terbanyak. "Dibuat sistem peringkat, agar masyarakat Indonesia termotivasi untuk donor darah," cetus pria jebolan SMAN 1 Nganjuk tersebut.

Lebih lanjut dia berharap, aplikasi ini dapat dikembangkan ke dalam versi mobile dan ditambahkan fasilitas Short Message Service (SMS) gateway. Sehingga secara otomatis akan mengirimkan notifikasi berupa SMS kepada petugas UTD jika ada rumah sakit yang meminta darah.

Tidak hanya itu, mereka juga berharap, aplikasi BlooBis bermanfaat untuk setiap masyarakat Indonesia. Bahkan, pemerintah bersedia menerapkan aplikasi ini di seluruh UTD dan rumah sakit yang nantinya akan dikordinir langsung oleh Palang Merah Indonesya (PMI).

Karya inovatif dengan segudang manfaat ini ternyata mampu mengantarkan tim RedBlood menjadi juara tiga dalam pagelaran Gemastik 5. Kompetisi Gemastik adalah ajang bergengsi bagi mahasiswa bidang Teknologi Ilmu Komunikasi (TIK) di seluruh Nusantara yang digelar secara berkala oleh Dikti.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini