Share

Insinyur Indonesia Kurang Dihargai di Negeri Sendiri

Herdiyanti Rohana, Okezone · Sabtu 24 November 2012 09:04 WIB
https: img.okezone.com content 2012 11 23 373 722570 cErh31oY9w.jpg Ilustrasi : Reuters

JAKARTA – Kekurangan tenaga ahli teknik atau insinyur di Tanah Air ternyata diakui oleh Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Sebagai salah satu kampus yang mencetak para insinyur, dia merasa prihatin dengan kondisi tersebut.

“Tenaga insinyur di Indonesia masih relatif sedikit untuk memenuhi kebutuhan industri teknologi Indonesia. Sementara kebutuhan terhadap teknologi industri setiap tahunnya meningkat. Kini, di Indonesia tenaga insinyur hanya 15 persen sedangkan kebutuhan tenaganya adalah 35 persen,” ujar Triyogi kepada Okezone, selepas acara Ikatan Alumni (IKA) ITS di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Jumat 23 Novemer kemarin.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Dia menyebutkan, salah satu faktor yang menyebabkan krisis insinyur di Indonesia adalah banyak insinyur yang bekerja bukan di bidang teknik. Hal ini mengurangi tenaga ahli tehnik ini.

“Sumber daya manusia yang mengelola negeri ini lebih memilih tenaga kerja asing. Selain karena menggunakan mesin serba Eropa, mereka menganggap orang asing lebih ahli,” tuturnya.

Minimnya penghargaan kepada para insinyur Tanah Air, membuat mereka memilih hengkang ke luar negeri. Pasalnya, di luar negeri mereka mendapat penghargaan yang lebih baik, termasuk pendapatan yang lebih besar berkali lipat dibandingkan di Indonesia.

“Dengan membangkitkan lagi perndustrian di dalam negeri, ini akan membangkitkan para generasi muda untuk minat menjadi insinyur. Kata kuncinya adalah cintai produk dalam negeri, cintai industri dalam negeri,” imbuh Triyogi.

(mrg)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini