Yusril: Ucapan SBY Bisa Ditafsirkan untuk Selamatkan AM

Arief Setyadi , Okezone · Selasa 11 Desember 2012 14:31 WIB
https: img.okezone.com content 2012 12 11 339 730501 NSgqgCGCgi.jpg

JAKARTA - Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra, tidak sependapat dengan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta agar pejabat yang tidak berniat korupsi tetapi salah dalam membuat kebijakan, diselamatkan.

Menurut Yusril, apa pun yang terjadi, hukum harus tetap ditegakkan. "Bukan tidak harus menyelamatkan, hukum harus ditegakkan. Saya tidak sependapat presiden menyatakan seperti itu. Jadi hukum harus ditegakkan dengan tegas, dengan bijak, " ujar Yusril di acara Diskusi Nasional bertajuk Upaya Menghindari Akibat Hukum Pidana Korupsi Pejabat Daerah dan Pengusaha Dalam Membangun Kenyamanan Berinvestasi dan Berusaha di Golden Bailroom Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Seharusnya, terang Yusril, seorang pejabat bila memang tidak terbukti unsur kesalahan telah melakukan korupsi, maka jangan dituntut sebagai pelaku korupsi.

"Jadi Presiden sekarang ini mulai kasihan dengan pejabat yang disangka korupsi seperti itu, seperti diberitakan Kompas hari ini, masalahnya, rezimnya sendiri biasa menggunakan cara-cara seperti ini untuk menyapu lawan-lawan politiknya. Ketika berbalik kepada dirinya sendiri keadaannya jadi berubah,” cetusnya.

Yusril mencontohkan, tindakan Wamenkum HAM, Denny Indrayana, yang pernah memaki-maki orang dengan ucapan advokat koruptor, tidak diikuti dengan langkah yang konsisten. "Ketika Andi Mallarangeng menjadi tersangka kasus korupsi kok dia malah datang ke situ, itu poin trahnya sudah sama dengan koruptor. Selama ini suka ngerjain orang," tuturnya.

Yang jelas, lanjut Yusril, pernyataan Presiden itu bisa ditafsirkan untuk penyelamatan Andi Mallarangeng (AM) yang terjerat kasus korupsi Hambalang.

"Bahwa Presiden sekarang ini mulai menyadari bahwa selama ini bermain-main dengan isu korupsi, menghantam lawan- politik pada ujung-ujungnya berbalik pada dirinya sendiri. Dan ketika berbalik kepada diri sendiri, timbul ucapan-ucapan, ya tidak perlu diterapkan, tidak paham perundang-perundangan, harus dikasihani, dan sebagainya," tegas Yusril.

Intinya, masih kata Yusril, Presiden harus fair, tegas, dan menjalankan hukum yang tegas kepada siapa pun. "Bukan hanya menjadikan isu korupsi sebagai cara menghantam lawan-lawan politik. Karena hal-hal itu akan berbalik kepada dirinya. Itu kan bisa jadi pelajaran bagi dirinya," simpulnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini