Share

Penghapusan Bahasa Inggris Hambat Multilingual Society

Senin 31 Desember 2012 16:31 WIB
https: img.okezone.com content 2012 12 31 373 739456 3JMJnnn3mw.jpg Ilustrasi: siswa belajar di ruang kelas. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)

NEW DELHI – Penghapusan Bahasa Inggris dalam Rancangan Kurikulum Pendidikan 2013 untuk sekolah dasar (SD) kurang tepat. Hal tersebut terungkap dalam International Symposium Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) sedunia 2012, di New Delhi beberapa waktu lalu.  

Menurut Susanto, seorang dosen di Fakultas Sastra Inggris Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang didapuk menjadi salah satu pembicara di acara tersebut, hal Ini merupakan kebijakan bahasa yang kurang tepat. Dalam sesi diskusi kuliah umumnya yang berjudul “Peluang Kontribusi Pelajar-Pelajar Indonesia di Luar Negeri untuk Akselerasi Kemandirian Teknologi di Tanah Air”, Susanto berargumen, kualitas lulusan pendidikan dasar di Tanah Air akan mengalami kemunduran dilihat dari kemampuan berbahasa Inggris jika Bahasa Inggris tidak diwajibkan di SD.

 

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

Kandidat doktor untuk bidang Linguistik dan Fonetik di EFL University-Hyderabad India ini menyitir pernyataan Wakil Mendikbud bidang pendidikan Musliar Kasim, kebijakan tersebut diajukan dengan alasan untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing. Menurutnya, Bahasa Inggris harus sudah diperkenalkan sejak pendidikan dasar.

 

“Bahasa Inggris sebaiknya sudah dipersiapkan sejak usia dini sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi Indonesia yang unggul yang siap bersaing di dunia internasional,” kata Susanto.

 

Lebih lanjut, peneliti di Konsorsium Masyarakat Indonesia itu mengatakan bahwa Bahasa Inggris dalam proses pengajarannya bisa diajarkan berdampingan dengan Bahasa Indonesia. Pengajaran Bahasa Inggris tidak harus menunggu anak terlebih dahulu menguasai Bahasa Indonesia. Sebab, pada dasarnya seorang anak memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mempelajari bahasa sepanjang metode pengajaran yang dipakai tepat dan guru bahasa memahami betul bagaimana merangsang kecerdasan bahasa yang dimiliki seorang peserta didik.

 

Pria yang telah belajar di India sejak 2005 itu juga menerangkan beberapa hal mengenai kebijakan bahasa tersebut yang dikaitkan dengan pendidikan bahasa di India. Dengan melihat hasil pendidikan dasar di India, seharusnya Bahasa Inggris menjadi salah satu mata pelajaran utama di SD di Indonesia. India telah menjadi “multilingual society” dan anak-anak sekolah dasar aktif berbahasa Inggris dan juga aktif berbahasa lokal seperti Hindi dan Telugu. Ini berdampak positif terhadap perkembangan kecerdasan bahasa yang dimiliki anak-anak di India yang telah dirangsang sejak sekolah dasar. Hal ini ditambah lagi dengan apresiasi yang positif dari keluarga, lingkungan dan dukungan dari pemerintah India.

 

“Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah dasar sebaiknya dilakukan dengan proses belajar bahasa yang bernuansa alamiah sehingga tidak timbul kecenderungan bahwa pelajaran bahasa adalah sebuah beban bagi peserta didik. Untuk menghindari hal tersebut, sangat dianjurkan pengajaran bahasa di sekolah dasar dilakukan dengan pendekatan fungsional,” imbuhnya.

 

Susanto memaparkan, pendekatan fungsional dalam pengajaran bahasa memiliki persepsi bahwa pengajaran bahasa harus selalu diasosiasikan dengan aktivitas dan realitas bahasa itu sendiri sehingga bahasa tidak diajarkan di luar dari konteksnya. Dalam pengajaran Bahasa Inggris ataupun juga Bahasa Indonesia, peserta didik harus dirangsang dengan aktivitas yang memaksimalkan kecerdasan bahasa lisan maupun tulisan dengan selalu melibatkan konteks bahasa.

 

Hal yang perlu digaris bawahi, menurut anggota Asosiasi Internasional Linguistk Fungsional Sistemik itu, dalam aktivitas dan realitas bahasa yang diterapkan pada proses pengajaran bahasa sebaiknya tidak mencantumkan paradigma benar salah yang cenderung menghakimi peserta didik. “Ini berdampak pada pembatasan kreativitas dalam menggunakan bahasa,” tutur peraih beasiswa ICCR dari pemerintah India itu.

 

Dia menilai, paradigma semacam ini sering membuat peserta didik takut dan malu untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris setelah mendapat koreksi verbal yang cenderung melemahkan semangat. Ketika ada seorang anak melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Inggris saat berkomunikasi, misalnya, guru langsung menyalahkannya tanpa memberi semangat untuk terus mencoba. Ini berdampak psikologis yang tidak baik karena peserta didik akan merasa takut dan merasa tidak percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris. Begitu juga halnya dengan pengajaran Bahasa Indonesia.

 

Selain itu, dalam berinteraksi dengan peserta didik, guru bahasa haruslah bijaksana dalam berkomunikasi dengan siswa. Peraih Ambassador Awards for Excellence 2011 itu mencontohkan, penggunaan intonasi yang tepat dan pemilihan kata-kata yang bijak dapat memotivasi peserta didik untuk aktif menggunakan bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

 

“Diharapkan nantinya pengajaran Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia di SD menggunakan konsep pengajaran yang mengedepankan bagaimana menggunakan bahasa dan bukan sekedar mengetahui apa itu bahasa,” ujar Susanto yang juga penemu metode Synschronic Stability Vowel System (SSVS) untuk forensik suara.

 

Dengan konsep ini, yang menjadi salah satu fokus utama pengajaran bahasa adalah aktivitas dan realitas bahasa dalam berbagai aspek dengan mengacu pada tiga metafungsi bahasa yaitu metafungsi idesional (bahasa sebagai alat representasi), interpersonal (bahasa sebagai alat interaksi), dan tekstual (bahasa sebagai alat pengkonstruksi makna).

 

Simposium Internasional yang diadakan di Jawaharlal Nehru University (JNU) tersebut dihadiri oleh 54 delegasi PPI dari 23 Negara. Dalam simposium itu turut hadir Mendikbud M. Nuh. Di lain kesempatan, perwakilan delegasi PPI sedunia yang mengikuti acara simposium tersebut juga bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah acara di Kedutaan Besar RI di New Delhi India.

 

Berita kiriman:

Susanto

Mahasiswa program S-3

EFL University Hyderabad, India

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini