Share

Jangan Berharap Banyak dengan Kinerja Pemprov

Irwansyah Putra Nasution, Okezone · Jum'at 04 Januari 2013 19:37 WIB
https: img.okezone.com content 2013 01 04 340 741621

MEDAN- Pengamat politik Universitas Sumatera Utara, Warjio, menyatakan apa yang sudah dilakukan dan menjadi kinerja Pemerintah Provinsi Sumatera Utara jangan berharap terlalu banyak. Karena Plt Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho juga mengakui kalau kinerja Pemprov Sumut belum maksimal.

Demikian terungkap dalam diskusi ”Refleksi Akhir Tahun: Membeli Masa Depan” yang diselenggarakan Vote Institute di Hotel Garuda Plaza Medan, Jalan SM Raja Medan, belum lama ini.

“Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho mengakui kalau kinerja Pemprov Sumut belum bekerja maksimal. Ini tangung jawab yang harus diselesaikan beliau (Plt Gubernur Sumut-red),”katanya.

Tak hanya itu, lanjut Warjio, Sekretaris APINDO Sumut, Laksamana Adhyaksa juga menegaskan jangan berharap banyak dengan kinerja Pemprov Sumut pada 2013. Evaluasi Adhyaksa menegaskan selama 2012 banyak persoalan yang belum terselesaikan kinerjanya oleh Pemprov Sumut.

Sejalan dengan Pengamat Sosial dan Pemerintahan, Agus Suriadi. Dari data yang ada, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara hanya menempati peringkat ke 16 dari 33 Provinsi di seluruh Indonesia dalam hasil Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EKPPD) berdasarkan penilain Kemendagri terhadap Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD), dan peringkat 17 untuk kinerja Akuntabilitas berdasarkan penilain Kemenpan.

Agus Suriadi menambahkan, berdasarkan penilain FITRA, lembaga yang konsern terhadap permasalahan transparansi anggaran, Sumatera Utara rangking ke III terkorup.

Hal ini dinilai FITRA berdasarkan pada IKhtiasar Hasil Pemeriksaan (IHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) semester II tahun 2011, dengan kerugian Rp. 515.569.770.000 (334 kasus).

Ini menjadi starting point bagi Gubernur Sumut terpilih nanti untuk menindaklanjuti dan menyelesaikan persoalan yang dihadapi pemprov Sumut.

Diskusi berlangsung menarik dan muncul pembedahan dari sudut pandang ekonomi makro, persoalan sosial dan kinerja pembangunan di Sumatera Utara.

Dalam diskusi ini hadir pula Pakar Kesehatan, Dr Heru Santosa; pakar ekonomi Kasyful Mahalli; pakar sosial, Agus Suryadi; pakar ekonomi, Dr Dede Ruslan; pakar politik, Prof Subhilhar, Prof M Arif Nasution,  Dr Amir Purba, Hatta Ridho; dan pakar hukum, Prof Tan Kamello

Peningkatan Signifikan

Memasuki 2013, laju perekonomian Sumatera Utara akan mengalami peningkatan yang signifikasi. Hal itu didorong pertumbuhan ekonomi akibat beroperasinya Bandara Kuala Namu yang akan beroperasi Maret 2013 dan berjalannya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.

"Perekonomian Sumut akan bertahan diatas rata-rata nasional yang dintandai dengan semakin matangnya usaha sektor perkebunan, pertanian, perdagangan dan pendidikan", ujar Pengamat Ekonomi Sumut, Dr Dede Ruslan.

Dijelaskan, peningkatan ekonomi itu didukung dengan optimisme konsumen dan meningkatnya konsumsi pemerintah. Dengan hadirnya Bandara Kuala Namu, investasi pemerintah dan swasta diprediksi akan naik pula.

"Peningkatan pelayanan di sektor barang dan jasa Pelabuhan Belawan, rencana pembangunan jalan tol baru untuk mendukung sarana trandsportasi daerah tertentu juga akan memperkuat laju perekonomian Sumut. Kiranya sektor itu patut dikembangkan oleh pemerintah mendatang," katanya.

Pertanian, Industri dan Kemiskinan

Sementara itu, Kasyful Mahali, SE. MSi yang juga tampil sebagai pembicara, mengatakan, saat ini laju perekonomian Sumut pada Triwulan III 2012 mencapai 6,22 persen.

Kendati di atas rata-rata nasional, Kasyaful menilai seharunya Sumut dapat menyentuh laju perekonomian pada level 6,5 persen. Namun pertanyaannya apakah angka yang di atas rata-rata nasional tersebut peran pemerintah?

Bila dilihat dari data yang ada pertumbuhan ekonomi sumut 60% disumbang oleh konsumsi rumah tangga. Dalam waktu pendek ini terlihat baik dan dalam jangka panjang ini sangat rapuh.

“Artinya masih banyak sektor yang belum teroptimalkan dengan baik, misalnya dari sektor ekspor-impor. Sumut lebih dominan impor dari pada mengekspor barang. Pertanian dan industri juga mengalami pergeseran, di mana saat ini sektor sektor industri terlihat lebih dominan dari pada sektor pertanian," terangnya.

Di Sumatera Utara juga masih ada masalah kemiskinan, dimana tingkat kemiskinan sebesar 10,67%. Masih sangat jauh dari target yang ditetapkan dalam RPJMD sebesar, 8,55%. Dan kemiskinan yang paling banyak adalah di wilayah pedesaan sebesar 11,01%.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Vote Institute, Muryanto Amin didampingi Direktur Program Muhammad Arifin Nasution mengatakan, refleksi akhir tahun yang menghadirkan pengamatan dan akademisi itu adalah satu upaya untuk memberikan sumbangsih pemikiran dan sarana demi perbaikan Sumut ke depan.

"Diskusi ini harus mampu memberikan catatan-catatan penting guna perbaikan, tidak hanya dari sektor ekonomi, namun juga untuk sektor politik, infrastruktur, -pendidikan dan lain sebagainya. Kesemuanya itu dilakukan demi Sumut yang lebih baik," katanya.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini