nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Scanner ITB Baca LJK Tanpa Pensil 2B

Margaret Puspitarini, Jurnalis · Selasa 05 Maret 2013 09:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2013 03 05 372 770964 rtkq0sUohl.jpg Ilustrasi (Foto : ITB)

JAKARTA - Tim Riset Unggulan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang digawangi Iping Supriana patut berbangga. Pasalnya, produk Digital Mark Reader (DMR) karya mereka tidak sekadar inovasi baru dalam dunia pendidikan dan Information Communication Technology (ICT), tapi telah menghasilkan beragam prestasi.

Sebut saja dinobatkan menjadi pemenang dalam Asia Pacific ICT Award 2004 kategori Best of Education & Training pada September 2012, serta Penghargaan Anugerah TIK Jawa Barat 2012 sebagai Produk Inovasi Terbaik berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Hal ini tentu membuat tim yang beranggotakan M Arif Rahmat, Ayu Purwarianti, dan Peb Ruswono Aryan semakin bangga atas karya mereka.

Meski memiliki segudang kesibukan baik sebagai dosen pengajar, pembimbing mahasiswa dari sarjana sampai pascasarjana, mengadakan penelitian, serta Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Ilmu Komputer (Aptikom) Jawa Barat Iping terus mengembangkan dan mengevaluasi karya tersebut. Berbagai rencana pengembangan DMR ini sudah direncanakan untuk diteliti dan diaplikasikan, seperti penelitian terkait kandungan gambar. DMR ini juga direncanakan untuk diaplikasikan dalam bentuk robot pintar.

Iping mengaku, mereka ingin terus menjadi pengembang utama DMR ini agar dapat memberikan yang terbaik bagi berbagai pihak, khususnya bangsa Indonesia. ''Penelitian di ITB ini saya dapat mengatakan memang 'membumi'. Tetapi supaya penelitian-penelitian di ITB dapat lebih memiliki daya saing perlu adanya pembagian yang proporsional antara penelitian fundamental, teknologi, dan terapan," tutur Iping, seperti dilansir oleh laman ITB, Selasa (5/3/2013).

Dia mengimbau, ketika memiliki sebuah ide, maka realisikan ide tersebut dengan mengerjakannya sepenuh hati. "Selain itu, jika memiliki ide yang kreatif dan kinerja yang bagus, berikanlah selalu yang terbaik kepada banyak orang di sekitar kita,'' imbuhnya.

Awalnya, DMR merupakan sebuah riset bertemakan Optical Mark Recognition (OMR) versi digital dengan memanfaatkan scanner (pemindai) dokumen digital yang berbiaya rendah untuk membaca Lembar Jawab Komputer (LJK). Tantangan utama dari sebuah form yang masuk ke scanner adalah terjadinya distorsi geometrik baik berupa geseran maupun perputaran yang kadang tak tampak oleh mata namun sangat mempengaruhi akurasi pembacaan.

Dengan bermodalkan scanner citra digital sederhana dan setelah mengalami berbagai percobaan, dikembangkanlah DMR-Extractor yang di dalamnya memiliki modul scanning, ekstraksi, dan pembuatan laporan. Untuk dapat melakukan penyimpanan hingga perbaikan kualitas gambar agar pembacaannya akurat, Tim Pengembang DMR ITB turut menerapkan beberapa algoritma canggih yang memungkinkan pembacaan segala jenis LJK, termasuk LJK OMR. Untuk pembuatan form LJK, disediakan pula DMR-Editor yang kegunaannya adalah membuat desain form LJK yang biaya penggandaannya juga sangat rendah.

Dalam sembilan tahun terakhir, berbagai penyelenggara ujian telah beralih menuju teknologi DMR dari sebelumnya menggunakan OMR. Berbagai instansi mulai dari perguruan tinggi, perusahaan, lembaga psikologi, lembaga bimbingan belajar, bahkan pemerintahan menggunakan program DMR untuk berbagai keperluan.

Keberadaan inovasi tersebut mengurangi biaya yang dikeluarkan jika menggunakan scanner. Bila menggunakan scanner, pihak penyedia harus merogoh kocek hingga Rp200 juta. Sementara dengan DMR, mereka cukup menyediakan dana Rp10 juta.

 

Tidak hanya itu, tim tersebut juga selalu mengembangkan kecepatan dan akurasi DMR. Tahun ini, DMR terbaru mampu memeriksa hingga 12 ribu LJK per menit tanpa mengurangi keakuratannya.

Selain memeriksa jawaban, DMR juga dilengkapi dengan fitur analisis jawaban ujian maupun hasil statistik kuesioner. Apabila menggunakan DMR, peserta ujian bisa menggunakan spidol atau pulpen ketika mengisi jawaban, berbeda dengan OMR yang mengharuskan penggunaan pensil 2B dalam pengisian LJK.

Tidak hanya peserta ujian tetapi penyelenggara ujian juga diuntungkan dengan adanya teknologi DMR ini. Pasalnya, teknologi DMR memungkinkan biaya cetak LJK yang lebih rendah. Penyelenggara ujian dapat menggunakan kertas fotokopi, lembar jawaban satu warna, atau bahkan dicetak dengan printer biasa, ukuran kertas pun tidak dibatasi mulai dari A3 sampai dengan A5.

DMR tidak hanya menjadi primadona dalam negeri tapi juga merambah pasar internasional. Para perusahaan otomotif seperti Chevron, Darya Varia, dan Toyota Astra menggunakan DMR untuk memasukan data. Sementara ratusan universitas menggunakan teknologi DMR untuk keperluan ujian, kuesioner, maupun registrasi.

DMR juga digunakan pada ujian seleksi CPNS pusat dan daerah, rekrutmen BUMN, bank dan perusahaan swasta, ujian sertifikasi guru, sertifikasi bankir dan pejabat pengadaan, serta ujian di kepolisian maupun militer yang umumnya berbentuk psikotes. Bahkan, DMR menjadi software resmi Depdiknas untuk UASBN 2008, ujian formal skala nasional pertama yang pengisiannya dengan tanda silang, serta digunakan pula pada ujian psikotes penerimaan pegawai ITB 2013.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini