nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gedung Kokoh untuk Selamatkan Ribuan Nyawa

Rus Akbar, Jurnalis · Senin 18 Maret 2013 11:34 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2013 03 18 345 777372 cItMoBVUyj.jpg SMAN 1 Kota Padang (Foto: Rus Akbar/Okezone)

PADANG - Belum hilang trauma saat gempa bumi mengguncang Sumatera barat dan sekitarnya pada 30 September 2009, gempa kembali menggemparkan warga Kota Padang, pada 25 Oktober 2010 sekira pukul 21.00 WIB.

Pintu rumah dan kaca jendela bergetar, tanah seperti digoyang. Kelamaan, suara gesekan tanah semakin kuat.

“Gampo! (gempa)," teriak warga di daerah bibir Pantai di Lolong dekat kuburan Pahlawan, Kecamatan Padang Utara, Sumatera Barat. Warga langsung berlarian keluar rumah.

Tanpa berpikir panjang, anggota keluarga yang sudah mulai ngantuk berlarian mencari tempat tinggi.

Tak ada komando, namun ada yang memberi instruksi kepada masyarakat, yang rata-rata nelayan, agar mereka lari ke by pass, berjarak sekira 15 kilometer dari bibir pantai.

“Saat itu ada yang lari, ada yang jalan, ada juga yang memakai kendaraan roda dua. Belum 10 menit pascagempa, jalan raya di Lolong padat. Kami mencari alternatif, kalau ke by pass tidak mungkin, akhirnya kami mencari gedung yang tinggi,” kata Aryanto (35), warga Kelurahan Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara, Sumatera Barat.

Walau gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter itu berpusat di Mentawai, namun getarannya sangat kuat dirasakan warga Kota Padang dan daerah pesisir.

Aryanto mendengar informasi bahwa ada SMAN 1 Padang tak jauh dari tempat tinggalnya. Dia, bersama dua anak dan istrinya, lari ke bangunan SMA itu.

Selain sebagai tempat belajar, SMAN 1 Padang itu juga dirancang sebagai lokasi evakuasi tsunami.

Sesampai di sekolah, ternyata bangunan itu sudah ramai dengan warga yang mengungsi. “Jumlahnya ribuan orang. Saya tidak tahu pokoknya kondisi sudah berdesakan ke atas gedung itu,” kata Aryanto.

Beruntung, saat kejadian, hujan tidak turun. Aryanto bersama ribuan orang menginap satu malam. Pada pagi hari, baru lah mereka kembali ke rumah.

Yudiarni, satpam SMAN 1 Padang, mengamini cerita Aryanto. Pada gempa 25 Oktober 2010 itu, bangunan berlantai III itu dijadikan lokasi evakuasi.

“Ada 2.000-an orang datang ke sini. Empat pintu gerbang kami buka, saat itu kami piket malam ada tiga orang,” tutur Yudiarni.

Masyarakat lebih dulu memenuhi atap. Karena atap atau setara lantai IV itu sudah penuh, mereka mencari tempat di lantai III. Gedung sekolah padat sekira 20 menit jam setelah gempa. Warga juga telah menyadari gedung tersebut memang dirancang untuk shelter.

Beruntung, gempa itu terjadi sehari sebelum rencana latihan evakuasi. Sehingga, bangunan sekolah sudah ada logistik.

“Logistik seperti minuman dan makanan yang akan digunakan untuk latihan simulai gempa pada 26 Oktober itu juga habis dikonsumsi warga. Akhirnya, panitia simulasi gempa dan tsunami kembali membeli logistik itu. Bagaimana lagi, itu saudara kita yang datang mengungsi ke sini. Makanan yang ada disini, kami perbolehkan mereka makan,” terang Yudiarni.

Mengapa SMAN 1 Padang dijadikan tempat pengungsian? Kata dia, rangka bangunan sekolah terbuat dari baja. Selain itu, di atap sudah dibuat landasan helikopter (helipad) untuk evakuasi korban.

Gedung SMAN 1 Padang dibangun di atas lahan seluas 1,2 hektare pada 10 November 2009 dan selesai pada 7 Agustus 2010.

Sekolah dibangun atas bantuan dana sebesar Rp39 miliar dari Yayasan Tzu Chi. Lokasi bangunan sekolah terletak di Kelurahan Lolong Belanti, Kecamatan Padang Utara.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini