Share

Saintis yang Selalu Tersenyum

Iman Herdiana, Okezone · Kamis 28 Maret 2013 12:55 WIB
https: img.okezone.com content 2013 03 28 417 782847 kmpU89GWA4.jpg Rektor ITB Akhmaloka. (Foto: Iman Herdiana/Okezone)

BANDUNG -  Memimpin kampus teknik terbesar dan tertua di Indonesia tentu bukan pekerjaan mudah. Pasalnya, Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah salah satu institusi yang bertanggung jawab dalam pengembangan sains dan teknologi di Indonesia. Sementara di sisi lain, masyarakat berharap, ITB tetap memberikan pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau.

Meski demikian, beban berat itu tidak membuat Akhmaloka kewalahan. Baginya, beban dan tantangan itu bagian dari dinamika ITB sebagai pionir kampus teknik di Tanah Air. Mantan Dekan Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini menganggap beban dan kesulitan yang dihadapi ITB sebagai dinamika.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

"Saya tidak lihat itu kesulitan tapi dinamika," kata Akhmaloka, ketika berbincang dengan Okezone, di ruang kerjanya, Kampus ITB, Jalan Ganeca, Bandung, belum lama ini.

Saintis yang murah senyum ini bertutur, menjadi rektor ITB tentu jauh berbeda dengan saat dirinya menjadi dekan FMIPA ITB yang ruang lingkupnya relatif kecil. FMIPA hanya sepersepuluhnya dibanding seluruh ITB yang memiliki SDM lebih banyak berikut kompleksitas permasalahannya.

Namun, pria asli Cirebon itu bersyukur, pekerjaan sebagai rektor ITB tidak dijalaninya sendirian. Saat menjadi dekan, dia hanya dibantu dua orang wakil. Sedangkan sebagai rektor, dia kini memiliki lima wakil yang berkoordinasi dengan 12 pimpinan program studi (prodi) yang ada di ITB.

"Jadi kita bareng-bareng dalam sebuah tim, semua masalah diselesaikan bersama," katanya.

Sehari-hari, Akhmaloka luar biasa sibuk. Selain memimpin ITB dan menanggung beban berat karena berhadapan langsung dengan masyarakat, Akhmaloka juga menjabat Ketua Umum Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia harus harus turut merumuskan kebijakan-kebijakan terkait SNMPTN. Selain itu, dia masih tetap mengajar mata kuliah molekular genetik untuk mahasiswa S-2. Ditambah lagi, Akhmaloka juga membimbing mahasiswa S-3 menulis disertasi.

"Mungkin ada 20 mahasiswa S-3 yang saya sudah bimbing lulus. Sekarang masih ada bimbingan sembilan orang lagi," ungkapnya.

Kesibukan itu tidak membuat Akhmaloka stres. Menurutnya, kesibukan seperti itu adalah sebuah keniscayaan. Tetapi, dia tetap menjalaninya dengan enjoy. "Kalau kita nikmati, ya enggak apa-apa, senikmat jadi wartawanlah," kelakarnya.

Bahkan, pria ramah ini mengaku, lebih banyak merasakan suka ketimbang duka selama menjadi rektor ITB. Akhmaloka berprinsip, apa pun pekerjaannya dan seberat apa pun beban yang harus dipikul akan bisa diatasi jika dengan niat ikhlas. Dengan rasa ikhlas, imbuhnya, beban seberat apa pun tak terasa sebagai beban.

"Saya bukanlah tipikal orang yang suka meratapi, saya lebih banyak tersenyum ketimbang menangis. Lepasin sajalah. Biasa, dinamika hidup kadang duka, kadang duka. Jadi rasanya is oke jadi rektor ITB,"  tambah penyuka novel sejarah itu.

Simak cerita pemimpin kampus dengan 1.100 dosen, 150 orang guru besar, dan puluhan ribu mahasiswa ini dalam seri wawancara khusus Okezone dengan Rektor ITB Akhmaloka mulai Senin, 1 April, mendatang.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini